Tubuh didonasikan untuk keperluan sains, tapi malah dijadikan uji coba bom

Ilustrasi sistem tubuh manusia dan organ dalam Hak atas foto Getty Images

Seorang pria mendonasikan jenazah ibunya untuk keperluan yang ia sangka adalah riset tentang Alzheimer, tapi belakangan ia ketahui tubuh itu digunakan oleh pihak militer untuk uji coba dampak ledakan bom.

Ia bersama dengan anggota keluarga donor yang lain kemudian menuntut perusahaan itu. Mereka menggugat Biological Resource Centre di Arizona menyusul razia FBI yang menemukan ratusan potong tubuh manusia di sana.

Lembaga itu sendiri sudah ditutup dan diadili dengan tuduhan penjualan tubuh manusia tidak sesuai dengan amanat dari para donornya.

Menurut dokumen pengadilan, anggota keluarga percaya bahwa donasi jenazah yang mereka lakukan ditujukan untuk keperluan riset medis dan ilmu pengetahuan.

Jim Stauffer adalah salah satu penggugat. Ia mengatakan kepada stasiun TV Phoenix ABC 15, ia mendonasikan tubuh ibunya untuk keperluan riset Alzheimer, tapi belakangan ia tahu bahwa tubuh itu dipakai untuk menguji dampak ledakan.

Dalam laporan di stasiun TV itu, Jim menyatakan jenazah ibunya didudukkan di kursi yang dibawahnya terdapat peledak yang kemudian diledakkan. Tujuan uji coba itu adalah untuk melihat dampak ledakan bom rakitan terhadap tubuh manusia.

Padahal secara khusus Jim memilih "tidak" ketika dalam formulir ditanya apakah tubuh itu boleh dipakai untuk pengujian ledakan.

Bagaimana sesungguhnya bisnis donasi ini beroprasi di Amerika Serikat?

Tidak diatur

Donasi organ diatur oleh Departemen Kesehatan AS, tetapi donasi jenazah masih belum diatur.

Jual beli tubuh manusia merupakan bentuk kejahatan, tetapi mengenakan biaya yang "wajar" untuk "memproses" tubuh tersebut diperbolehkan. Termasuk dalam biaya itu adalah pemindahan, penyimpanan, pengangkutan dan pemusnahan jenazah.

Pengertian "wajar" itu terbuka untuk penafsiran. Banyak lembaga membuat praktik dan kebijakan internal mereka sendiri.

Saat ini juga tidak ada sistem pencatatan nasional dan global untuk menghitung berapa jenazah yang didonasikan untuk keperluan riset medis setiap tahunnya, tapi diperkirakan jumlahnya ribuan.

Hak atas foto Getty Images

Perguruan tinggi biasanya menggunakan jenazah manusia untuk proses belajar. Banyak lembaga seperti University of California, bertekad untuk selalu tranparan. Lembaga lain seperti fasilitas riset antropologi di University of Tennessee menjalankan praktik yang lebih spesifik seperti menggunakan jenazah manusia untuk mengajar tim forensik bagaimana jenazah membusuk.

Brandi Schmitt, Direktur anatomical services di University of California, mengatakan kepada BBC, apa yang terjadi terhadap jenazah yang didonasikan tergantung pada ke mana donasi itu dilakukan.

"Bagi yang ingin mendonasikan tubuh untuk kepentingan pendidikan dan riset harus memastikan mereka tahu tujuan organisasi itu, apakah mereka itu akademis, lembaga negara, perusahaan swasta dan sebagainya."

Schmitt mengatakan peraturan yang ada tak cukup melindungi donor maupun mereka yang bekerja di bidang riset medis.

Hak atas foto Getty Images

"The Uniform Anatomical Gift Act (UAGA) merupakan aturan soal donasi tubuh di negara bagian California.

"Itu mengatur bagaimana dan siapa yang bisa melakukan, mengubah dan mencabut donasi tubuh serta penggunaannya secara umum seperti misalnya untuk transplantasi dan terapi klinis serta pendidikan dan riset," kata Schmitt.

"Tidak ada aturan tentang pengungkapan persetujuan, penggunaan khusus, pemindahan dan pelacakan terhadap tubuh yang didonasikan," kata Schmitt lagi.

Menurut Shcmitt, aturan tambahan sudah lama dibutuhkan.

Aturan lain dikeluarkan oleh American Association of Anatomists. Di situ dikatakan bahwa program donasi tubuh harus menjelaskan dengan gamblang penggunaan jenazah, terkait dengan kebutuhan kelembagaan dan pendidikan.

Lembaga yang memberi akreditasi untuk donasi tubuh adalah The American Association of Tissue Banks, dan akreditasi ini tidak bersifat wajib.

Biological Research Centre di Arizona diduga kuat tidak berakreditasi dan memang beroperasi sebagai lembaga komersial.

Mereka juga menawarkan angkutan dan kremasi jenazah gratis sehingga menarik bagi keluarga berpendapatan rendah.

Pemilik lembaga itu, Stephen Gore, mengaku bersalah di pengadilan di tahun 2015 dan dihukum percobaan. Sejumlah keluarga pendonor kini menuntut Gore dan perusahaannya karena penyalahgunaan dan melanggar kontrak.

Donasi tubuh di negara lain

Hak atas foto BSIP

Di Inggris Wales dan Irlandia Utara, Human Tissue Authority (HTA) memberi izin dan meginspeksi organisasi yang menerima jenazah untuk riset medis.

Ada 19 lembaga di seluruh Inggris Raya yang menerima donasi jenazah, dan biasanya orang memilih lembaga terdekat dengan tempat asal mereka.

Para donor biasanya mendapat rujukan dari situs web HTA atau dari dokter mereka. Terkadang bisa juga dari pengacara atau pemerintah daerah.

Di banyak negara, kepercayaan pada agama tertentu bisa mempengaruhi soal donasi jenazah untuk keperluan riset medis, seperti misalnya di beberapa negara Afrika.

Hak atas foto Aspetar
Image caption Rumah Sakit Aspetar buka tahun 2007 di Doha

Di Qatar, ada sebuah rumah sakit yang mengimpor jenazah manusia untuk riset medis paling mutakhir.

Rumah Sakit bernama Aspetar ini dibuka tahun 2007 dan membuat program kunjungan ahli bedah untuk dokter seluruh dunia. Di program itu, para ahli bedah menggunakan "spesimen" yaitu bagian tubuh manusia (umumnya bahu, lutut, tumit dan pinggul).

Jenazah abadi

Sekalipun apa yang terjadi di Biological Resource Centre di Arizona sangat mengerikan, tetapi praktek donasi tubuh ini sangat berarti untuk mengerti tubuh manusia.

Salah satu kasus menonjol adalah jenazah Susan Potter. Di tahun 2015, seorang perempuan asal Denver mendonasikan tubuhnya ke Dr. Vic Spitzer dari University of Colorado untuk proyek Visible Human Project, sebuah program yang mentransformasikan jenazah manusia menjadi spesimen virtual.

Jenazah Susan dibekukan dan diiris setipis rambut sebanyak 27.000 irisan. Setiap bagian kemudian dipotret lalu ditumpuk secara virtual dan dibentuk ulang menjadi tubuhnya lagi.

Susan Potter kemudian dikenal sebagai "jenazah abadi".

Topik terkait

Berita terkait