'Saya disiksa Iran supaya mengaku sebagai mata-mata Israel'

Image caption Mazyar Ebrahimi berkata ia disiksa selama 40 hari 40 malam.

Seorang mantan wirausahawan berkewarganegaraan Iran mengklaim beruntung masih hidup setelah disiksa otoritas negaranya.

Ia dipaksa membuat pengakuan palsu sebagai mata-mata Israel dan membunuh ilmuwan nuklir Iran, dua kejahatan yang dapat diganjar hukuman gantung.

Ini adalah kisah tentang Mazyar Ebrahimi yang sekarang tinggal di luar Iran. Ceritanya juga menyoroti persaingan sengit antara sejumlah badan intelijen Iran, seperti dilaporkan wartawan BBC Jiyar Gol.

Saya bertemu Mazyar Ebrahimi di Frankfurt bulan Juli lalu, beberapa bulan setelah ia tiba-tiba menelepon saya dari Jerman. Saya terkejut karena saya menduga ia sudah lama dieksekusi.

Dugaan saya itu muncul karena pada tahun 2012, ia dan 12 orang lainnya tampil di televisi milik pemerintah Iran. Kala itu mereka untuk mengakui serangkaian tuduhan yang diganjar hukuman mati.

Melihat langsung ke kamera, mereka berkata telah dilatih di Israel sebelum kembali ke Iran dan membunuh para ilmuwan nuklir Iran.

Pernyataan mereka berdasar pada naskah yang ditulis Kementerian Intelijen, satu dari dua badan intelijen utama Iran, yang juga mengklaim telah membongkar jaringan mata-mata Israel.

Di kamar hotelnya, kami menonton video tentang pengakuan Ebrahimi.

Masih tampak terguncang setelah bertahun-tahun melalui peristiwa itu, Ebrahimi berkata, ia setuju untuk "mengaku" setelah disiksa tanpa henti selama sekitar 40 hari.

"Para interogator memukul telapak kaki saya dengan kabel listrik tebal," kenang pria berusia 46 tahun itu.

"Mereka mematahkan kaki saya. Pemukulan berlanjut selama tujuh bulan," ujarnya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Israel dan Iran yang merupakan musuh bebuyutan melancarkan spionase terhadap satu sama lain.

Difitnah sebagai mata-mata

Sebelum ditangkap oleh kementerian intelijen, Ebrahimi mengelola sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam mendirikan studio TV. Ia sering berdinas ke luar negeri untuk pekerjaan itu.

Ebrahimi percaya salah satu pesaingnya telah memfitnahnya sebagai mata-mata untuk orang asing.

Selama tahun 2010-2012, empat ilmuwan nuklir Iran dibunuh. Dinas intelijen Iran berada di bawah tekanan politik besar untuk menemukan para pelakunya.

Ebrahimi adalah salah satu dari lebih dari 100 orang yang dituduh sebagai mata-mata.

Ia mengatakan siap untuk menerima segala dakwaan dan ingin mati saja — hanya untuk menghentikan penyiksaan dan penghinaan yang diterimanya tanpa henti.

Namun terlepas dari "pengakuannya", Ebrahimi mengatakan, para interogatornya menginginkan lebih.

Pada tahun 2011, sebuah ledakan besar menghancurkan pabrik rudal yang dijalankan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Puluhan pakar rudal terbunuh.

Ebrahimi mengatakan badan intelijen ingin ia mengakui bahwa dirinya berada di balik ledakan itu.

"Interogator saya mengatakan: 'Rekan-rekan kami dari IRGC akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda. Anda hanya berbicara tentang ledakan itu, Anda hanya mengatakan apa yang telah diberitahukan kepada Anda,'" kata Ebrahimi.

Hak atas foto AFP/JACK GUEZ
Image caption Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuding Iran memiliki program senjata nuklir rahasia.

Pada saat itu, IRGC dan kementerian intelijen sedang bersaing sengit dalam kontra-terorisme.

Dan pemeriksaan oleh petugas intelijen IRGC sekitar tujuh bulan setelah ia pertama kali ditangkap itulah yang menyelamatkan nyawanya, kata Ebrahimi.

Perwira itu geram setelah menemukan sejumlah ketidaksesuaian yang jelas dalam kesaksian Ebrahim, yang dikarang kementerian intelijen.

Tiba-tiba, pemukulan berhenti, dan Kementerian Intelijen bahkan meminta maaf kepada Ebrahimi dan orang lain yang menghadapi tuduhan yang sama.

Namun Ebrahimi dan tahanan lainnya tetap dikurung selama 26 bulan. Mereka baru dibebaskan pada 2015.

Pesaing dinas intelijen Iran telah mengarang kasus dan memaksa orang yang tidak bersalah untuk mengaku melakukan kejahatan, kata Mehdi Mahdavi Azad, seorang ahli nuklir dan keamanan Iran yang berbasis di Bonn, Jerman.

Azad berkata, dalam beberapa tahun terakhir intelijen IRGC secara keliru menuduh negosiator nuklir Iran dan aktivis lingkungan melakukan kegiatan mata-mata. Namun Kementerian Intelijen kemudian membuktikan, kasus-kasus itu hanya karangan belaka.

Hak atas foto AFP/ATTA KENARE
Image caption Sekelompok pedemo membawa poster dan menyanyikan slogan anti-Israel di Teheran, Iran.

Setelah dibebaskan, Ebrahimi mengajukan keluhan terhadap Kementerian Intelijen, televisi milik pemerintah Iran, dan beberapa surat kabar yang memfitnahnya sebagai mata-mata Israel.

Namun, ia menarik kembali keluhan itu setelah hakim menyarankan agar ia menerima kompensasi. Ia berkata hakim menasihatinya, "Seseorang bisa menikammu di belakang di jalan yang gelap. Kamu masih muda, jangan ambil risiko."

Seorang anggota parlemen reformis terkemuka untuk Teheran, Mahmoud Sadeqi, lewat sebuah cuitan di Twitter menuntut mereka yang diduga bertanggung jawab memaksa pengakuan palsu untuk memberikan penjelasan.

Ebrahimi pindah ke Jerman enam bulan lalu. Ia mengajukan suaka di sana.

Tapi sampai sekarang ia mengaku masih sering mengalami serangan panik dan tulang punggungnya cedera.

Informasi bocor

Di antara mereka yang "mengaku" memata-matai untuk Israel, hanya satu orang yang menerima hukuman mati, kata Ebrahimi.

Hak atas foto Iran state TV
Image caption Televisi pemerintah Iran menunjukkan paspor Israel yang disebut-sebut merupakan milik Majid Jamali Fashi.

Majid Jamali Fashi dieksekusi dua bulan sebelum penangkapan Ebrahimi.

TV pemerintah Iran menunjukkan gambar yang disebut-sebut sebagai paspor Fashi Israel. Itu tampak seperti modifikasi foto paspor Israel yang diambil dari Wikipedia.

Diyakini bahwa Fashi ditahan setelah Wikileaks menerbitkan kabel diplomatik AS yang bocor pada 2009.

Kabel itu tampaknya terkait dengan pertemuan di kedutaan besar AS di Baku, Azerbaijan, tempat Fashi berbicara tentang penindasan di Iran.

Wikileaks belum menanggapi permintaan wawancara tentang masalah ini.

Topik terkait

Berita terkait