Pengakuan seorang bidan: Saya sebenarnya lelah, tapi saya takut sekali bikin kesalahan

Bidan menyibak tirai Hak atas foto BBC Three

Inggris Raya kekurangan bidan. Pertengahan tahun lalu, kebutuhan bidan terus meningkat sementara lamaran untuk menjadi bidan semakin lama semakin kecil.

Di balik kecenderungan itu, seperti apa pekerjaan mereka sehari-hari? Berikut adalah cerita pribadi dari seorang bidang dalam menjalankan pekerjaannya.

Sepanjang karir saya, sudah banyak proses kelahiran dan perilaku orang yang saya lihat. Ada seorang ibu yang melahirkan dan mengeluarkan suara seperti nyanyian paus saat menarik dan menghembuskan napas.

Ada juga yang melaburkan air ketuban ke muka dan mulut bayi mereka yang baru lahir karena percaya itu bisa melawan asma dan alergi.

Banyak juga yang meminta agar plasenta disimpan, untuk diubah menjadi bentuk tablet atau untuk ditanam di taman belakang rumah mereka sebagai kenang-kenangan.

Tentu saya juga melihat perempuan yang buang air besar saat melahirkan, tapi itu bukan persoalan. Sebagai bidan, kami terbiasa dengan bermacam cairan yang keluar dari tubuh.

Itu pertanda bagus, bahwa kelahiran berjalan lancar. Biasanya kalau itu terjadi, saya buru-buru mengganti seprai supaya si calon ibu tidak malu.

Beruntung

Saya membantu proses kelahiran ribuan bayi selama 15 tahun terakhir. Tak terhitung. Tak ada yang lebih istimewa ketimbang mendengar bayi kecil pertama kalinya menghirup napas di dunia - atau melihat binar mata orang tua ketika melihat bayinya untuk pertamakali.

Saya merasa beruntung bisa menyaksikan itu semua.

Namun pekerjaan bidang bukan hanya senangnya saja. Proses melahirkan bisa melelahkan dan menyakitkan, dan melewatinya menimbulkan rasa cemas dan tertekan. Baru-baru ini seorang pasien berteriak sekuat tenaga lantaran ia ingin buru-buru pulang. Saya tahu itu bukan salah saya dan saya juga tak bisa berbuat apa-apa, tapi tetap saja lelah sekali mendengarnya.

Para pasangan juga kadang bisa mendatangkan kesulitan. Selama melahirkan mereka tak bisa apa-apa. Dan karena kami ada di sana, kamilah yang menjadi tumpuan ketakutan dan frustrasi mereka.

Saya sekarang jadi ahli untuk meredakan suasana tegang dengan cara meminta anggota keluarga keluar dan menunggu sambil minum teh atau makan. Kadang mereka cuma perlu makan dan menarik napas panjang. Suasana di kamar bersalin menegangkan sekali.

Hak atas foto BBC Three

Beban kerja

Namun yang berat justru adalah beban kerja saya. Saya kerja tiga atau empat giliran per minggu, dan tiap gilirannya lamanya 12,5 jam. Bekerja seperti ini bikin saya seperti jetlag setiap saat. Saya biasanya selalu terjaga selama 15 jam atau lebih.

Pada saat-saat terburuk, saya pulang ke rumah dengan rasa ingin menangis dan menyembunyikan perasaan ketakutan untuk bekerja esok hari. Kekhawatiran utama saya adalah kurang tidur, yang bisa bikin saya melakukan kesalahan yang gawat semisal memberi obat atau dosis yang salah.

Saya tahu banyak bidan lain yang seperti saya: punya kecemasan soal pekerjaan. Ironinya, sekalipun saya bekerja di bidang kesehatan, pola makan saya tidak sehat.

Stress dan kurangnya waktu istirahat bikin saya mengandalkan minuman bergula dan makanan manis agar energi saya bisa tetap besar. Malah saya pernah menjalani giliran hanya sempat minum kola dan makan coklat saja.

Tentu saja saya berpikir untuk berhenti saja. Saya sekarang sedang cuti hamil, dan ini memberi saya istirahat mental dari tekanan kerja dan saya punya waktu untuk diri sendiri. Maka saat seperti ini saya bisa merenung apakah saya sanggup bertahan dari stress dan minimnya staf.

Hak atas foto BBC Three/ Istock

Terlalu berat

Hal terberat dari pekerjaan saya adalah mengabarkan bayi yang wafat saat kehamilan atau harus dihentikan karena alasan medis. Sangat menyedihkan. Yang terburuk adalah saat mereka menyebut saya dan bertanya kenapa bayi mereka tak bergerak.

Ketakutan di wajah mereka terlalu berat untuk saya tanggung. Syukurnya, angka kegagalan lahir di Inggris terus menurun, kini satu di setiap 225 kehamilan. Kami selalu mengingatkan calon ibu, jika bayi di perut mereka tak bergerak, segera ke rumah sakit - jangan menunggu.

Pada saat tragedi benar-benar terjadi dan bayi tak bisa diselamatkan, tak ada latihan apapun yang mampu mempersiapkan kita untuk menghadapinya. Saat seperti itu, adrenalin saya mengambil alih, tapi biasanya saya terhantui cukup lama.

Selalu ada kilas balik di kepala saat saya berbaring di tempat tidur atau ada momen tenang di tempat kerja. Saya tak bisa berhenti memikirkan nasib kehidupan kecil yang harus terenggut dan rasa duka yang harus ditanggung orang tuanya.

Saat-saat membahagiakan buat saya adalah membantu persalinan di rumah. Beberapa tahun lalu saya dapat panggilan membantu persalinan saat tengah malam. Saya ke rumah itu, dan ini adalah kehamilan kedua mereka. Sesudah upaya keras dan dukungan besar dari saya dan suaminya, si ibu berhasil melahirkan di tengah kolam renang tiup dari plastik di tengah ruang keluarga.

Hak atas foto BBC Three

Saya ingat sekali anak pertama mereka - seorang anak laki-laki kecil - terbangun dari tempat tidur untuk menemui adiknya. Terlihat sekali keluarga ini sangat gembira dan nyaman, apalagi tak harus ke rumah sakit dengan segala aturannya.

Sekarang saya sendiri jadi ibu. Tentu saya sangat menghargai apa yang dijalani perempuan mulai dari kehamilan, proses melahirkan hingga membesarkan anak.Menjadi bidang memang berat, tapi saya tetap mencintai koneksi dengan setiap keluarga yang saya tolong.

Bahkan sesudah menolong ribuan kelahiran, tetap saya saya bergairah bicara dengan orang tua tentang kemungkinan nama bayi mereka, rencana menyusui atau sekadar mendengar teriakan gembira mereka.

Sebagaimana dikisahkan kepada Harvey Day

Berita terkait