Punahnya sebuah gletser di Islandia yang ditandai dengan prasasti

Ok Hak atas foto Josh Okun
Image caption Gletser Okjokull melingkupi Gunung Berapi Ok di sebelah timur laut ibu kota Islandia, Reykjavik.

Sejumlah pelayat berkumpul di Islandia untuk memperingati punahnya Okjokull yang mati pada usia sekitar 700 tahun.

Gletser itu secara resmi dinyatakan punah pada 2014 lalu ketika lapisan saljunya tak lagi tebal sehingga manusia mudah bergerak. Yang tersisa saat itu hanyalah sepetak salju di puncak gunung berapi.

Perdana Menteri Islandia, Katrin Jakobsdottir; Menteri Lingkungan, Gudmundur Ingi Gudbrandsson; serta mantan Presiden Republik Irlandia, Mary Robinson, akan turut ambil bagian dalam upacara peringatan.

Setelah pidato pembukaan oleh Jakobsdottir, para pelayat akan mendaki gunung berapi di sebelah timur laut Ibu Kota Reykjavik itu guna meletakkan prasasti yang memuat surat untuk generasi masa depan.

"Ok adalah gletser Islandia pertama yang kehilangan statusnya sebagai gletser," demikian bunyi surat itu.

"Dalam 200 tahun mendatang semua gletser utama kami diperkirakan akan mengikuti nasib serupa. Monumen ini adalah bentuk pengakuan bahwa kami tahu apa yang terjadi dan yang perlu dilakukan."

"Hanya Anda yang tahu apakah kami telah melakukannya."

Hak atas foto EPA
Image caption Dua foto satelit hasil pengamatan NASA ini menunjukkan Gletser Okjokull (yang juga dikenal dengan sebutan Ok) pada masa yang berbeda. Foto pada sisi kiri diambil pada 7 September 1986, sedangkan foto kanan diabadikan pada 1 Agustus 2019.

Rangkaian kalimat pada prasasti itu disusun penulis Islandia, Andri Snaer Magnason. Pada akhir surat tertera tanggal upacara dan konsentrasi karbondioksida dalam udara global, yaitu 415 parts per million (ppm).

"Anda berpikir dalam rentang waktu yang berbeda ketika menulis pada tembaga, alih-alih pada kertas. Anda mulai berpikir bahwa seseorang benar-benar datang ke sini dalam 300 tahun mendatang dan membacanya," papar Magnason kepada BBC.

"Ini adalah momen simbolik yang besar. Perubahan iklim tidak punya awal atau akhir dan saya pikir filosofi di balik plakat ini adalah menaruh tanda peringatan guna mengingatkan diri kita bahwa kejadian sejarah sedang terjadi dan kita tidak boleh menganggapnya seakan sesuatu yang normal. Kita harus menjejakkan kaki dan berkata, baiklah gletser ini punah dan ini signifikan," sambung Magnason.

Oddur Sigurdsson adalah ahli gletser dari Badan Meteorologi Islandia yang menyatakan kematian Okjokull pada 2014.

Dia telah memotret gletser-gletser di negara ini selama 50 tahun terakhir. Pada 2003 dia menyadari bahwa salju sudah meleleh sebelum bisa menumpuk di Okjokull.

"Saya pikir kok jumlah saljunya rendah sekali sehingga saya ingin pergi ke atas sana dan memeriksanya sendiri. Saya melakukannya pada 2014," terang Sigurdsson.

"Gletser itu tidak bergerak, tapi tidak cukup tebal untk bisa bertahan. Kami menamakannya es mati," imbuhnya.

Pakar gletser itu menjelaskan bahwa ketika ada cukup banyak salju yang menumpuk, kuat tekanan akan mendorong seluruh massa bergerak.

"Itulah batasan antara gletser dan bukan gletser. Perlu ketebalan 40 sampai 50 meter untuk mencapai batas tekanan itu," ujarnya.

Seorang wartawan Islandia turut pergi bersama Sigurdsson ke Okjokull pada 2014 untuk melaporkan peristiwa punahnya gletser tersebut. Namun, Sigurdsson mengaku "tidak mau terlalu banyak memancing sorotan".

"Saya sedikit kaget karena gletser itu tampak dari area permukiman padat dan dari jalan lingkar luas Islandia. Gletser itu juga dikenal sebagian besar anak-anak karena namanya yang unik dan tempatnya pada peta," paparnya.

Hak atas foto Rice University/Dominic Boyer/Cymene Howe
Image caption Prasasti yang menandai punahnya Gletser Okjokull di Islandia. "Jokull" adalah kata dalam bahasa Islandia yang bermakna "gletser".

Beberapa tahun kemudian, muncul dua antropolog bernama Cymene Howe dan Dominic Boyer.

Kedua profesor dari Universitas Rice di Texas tersebut ingin membuat film dokumenter mengenai punahnya gletser berjudul Not Ok pada 2018. Pada saat pengambilan gambar, mengemuka ide mengenai peletakan prasasti.

"Ini adalah kisah yang sangat penting mengenai gletser yang menceritakan kepada kita mengenai perubahan malapetaka yang kita saksikan di semua cekungan glasial di manapun di planet ini, namun kisahnya beum banyak diketahui," kata Howe kepada BBC.

"Jadi sebagian alasan mengapa kami ingin membuat film ini adalah mendapat gambaran mengenai fenomena tersebut. Adaupun prasasti menyusul kemudian dalam langkah-langkah tersebut," sambungnya.

Boyer menambahkan, orang-orang merasa punahnya gletser itu adalah kehilangan besar dan patut mendapat semacam prasasti.

"Prasasti mengakui hal-hal yang dilakukan manusia, seperti pencapaian dan kejadian dahsyat. Punahnya gletser juga adalah pencapaian manusia—dalam konteks bahwa perubahan iklim antropogenik mendorong gletser hingga meleleh."

Gletser Okjokull, tambah Boyer, bukanlah gletser pertama di dunia yang meleleh.

"Namun, sekarang gletser seukuran Ok mulai menghilang, tidak lama kemudian gletser-gletser besar yang namanya diketahui, akan berada dalam ancaman."

Hak atas foto Josh Okun
Image caption Dominic Boyer, Cymene Howe, dan Magnus Sigurdsson mendaki Gunung Ok awal pekan ini untuk menggali lubang sebagai tempat peletakan prasasti.

Gletser punya makna budaya yang mendalam di Islandia dan negara lain.

Snaefellsjokull, gletser yang menyelimuti gunung berapi di bagian barat Islandia, adalah tempat para karakter dalam novel sains-fiksi karangan Jules Verne 'Journey to the Centre of the Earth' menemukan pintu masuk ke inti Bumi. Gletser itu kini juga mulai meleleh.

"Generasi saya harus hapal di luar kepala nama-nama gunung-gunung paling signifikan serta fjord-fjord. Jadi secara budaya ini merujuk kembali pada buku pelajaran masa kecil."

"Dunia yang dulu kita pelajari, dihapal sebagai fakta yang abadi, bukanlah fakta lagi," jelas Magnason.

Sigursson telah membuat daftar gletser di Islandia pada 2000, yang memuat lebih dari 300 gletser.

Pada 2017, 56 gletser berukuran kecil dalam daftar itu, telah punah.

"150 tahun lalu tidak ada orang Islandia yang ambil pusing melihat semua gletser yang menghilang. Namun sejak itu, ketika gletser-gletser menurun, gletser dipandang sebagai hal yang menawan, jelas demikian."

"Gletser-gletser tertua di Islandia memuat seluruh sejarah bangsa Islandia. Kami perlu mendapatkan kembali sejarah itu sebelum mereka menghilang."

Berita terkait