Mikroplastik: Temuan awal menunjukkan bahayanya 'minimal' bagi kesehatan

Seorang pria minum air kemasan dari botol. Hak atas foto AFP
Image caption Mikroplastik ditemukan di sungai, danau, sumber air minum, dan air minum kemasan.

Mikroplastik dalam air minum tampaknya tidak merupakan bahaya bagi kesehatan pada levelnya yang sekarang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam laporan pertamanya tentang isu ini, WHO menemukan bahwa partikel plastik yang besar, dan kebanyakan yang kecil, hanya singgah di dalam tubuh tanpa diserap.

Namun organisasi itu mengatakan temuan ini didasari "informasi terbatas" seraya menyerukan penelitian lebih lanjut tentang isu ini.

"Kita perlu tahu lebih banyak secepatnya," kata badan PBB itu.

Apa kata laporan itu?

Mikroplastik, didefinisikan sebagai potongan kecil (ukuran kurang dari 5mm) segala macam sampah plastik, ditemukan di sungai, danau, sumber air minum, dan air minum kemasan.

Jadi, apa arti temuan ini bagi kesehatan manusia?

Dalam laporan pertama mereka tentang isu ini, WHO mengatakan mikroplastik tampaknya tidak merupakan bahaya bagi kesehatan pada levelnya yang sekarang, namun menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian mengenai ini.

Penelitian yang layak tentang plastik di air baru dimulai dalam beberapa tahun terakhir, jadi bukti yang tersedia sejauh ini, WHO mengakui, terbatas.

Lebih dari itu, penelitian yang dilakukan belum terstandardisasi, dengan para peneliti menggunakan saringan yang berbeda-beda untuk menghitung jumlah partikel plastik yang terkandung dalam berbagai sumber air.

"Untuk mengatakan satu sumber air mengandung 1000 mikropartikel per liter, dan sumber lainnya hanya mengandung satu, bisa tergantung pada ukuran filter yang digunakan," Dr. Bruce Gordon dari WHO menjelaskan.

"Kita ada pada titik di mana metode studi yang digunakan agak lemah."

Meski demikian Dr. Gordon mengatakan bahwa riset yang tersedia bisa "cukup menenangkan" bagi konsumen. WHO mengatakan bukti menunjukkan bahwa semua partikel plastik yang besar, dan kebanyakan yang lebih kecil, hanya singgah di dalam tubuh tanpa diserap sama sekali.

Apa yang harus dilakukan?

Pengolahan air limbah yang layak, meliputi penyaringan konten feses dan zat kimia, harus, kata WHO, juga menyaring lebih dari 90% mikroplastik. Karena itulah rekomendasi WHO menyusul laporan ini tidak menyertakan pengecekan rutin mikroplastik di air. Alih-alih, WHO ingin penyuplai dan regulator air minum berkonsentrasi pada "bahaya yang sudah dikenali".

"Dua miliar orang minum air yang terkontaminasi feses," kata Dr. Gordon. "Dan itu menyebabkan satu juta kematian setiap tahun. Itu harus menjadi fokus."

Bagaimanapun, WHO memandang polusi plastik sebagai masalah yang mendesak. Badan PBB itu menyarankan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sebisa mungkin, dan memperbaiki program daur ulang.

Seberapa terbataskah risetnya?

Pesan utama dari laporan awal ini ialah betapa banyak yang tidak kita ketahui tentang konsekuensi polusi plastik.

Beberapa studi menunjukkan bahwa air dalam kemasan botol mengandung lebih banyak mikroplastik daripada air keran, tapi tidak jelas mengapa demikian. Itu bisa jadi disebabkan sumber air yang terkontaminasi, tapi bisa juga karena polimer plastik yang digunakan untuk membuat botol dan tutup botol.

Dan walaupun bukti yang ada menunjukkan bahwa bahaya kesehatan dari menelan mikroplastik, dan zat-zat kimia yang dikaitkan dengannya, sangat kecil, masih ditemukan cukup banyak celah data dalam penelitian sejauh ini, yang perlu diperbaiki dalam penelitian di masa depan, menurut kopenulis laporan tersebut Jennifer de France.

"Kita perlu tahu jumlah partikel yang telah dideteksi, ukuran partikel-partikel ini, bentuknya, serta komposisi kimiawinya," ujarnya.

Jadi laporan tentang konsekuensi mikroplastik bagi kesehatan ini kemungkinan baru yang pertama dari banyak laporan yang bakal diterbitkan di masa depan. Karena mikroplastik tidak hanya terkandung di air, tapi juga di udara, dan makanan.

Dalam beberapa tahun ke depan, WHO ingin melihat laporan yang membahas arti "paparan total di lingkungan" ini bagi kesehatan manusia.

Topik terkait

Berita terkait