Kebakaran hutan: Pakar kesehatan peringatkan kualitas udara 'sangat berbahaya' akibat asap

asap Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty Images
Image caption Seorang siswa sekolah mengenakan penutup mulut dan hidung di tengah kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 September 14, 2019.

Pakar kesehatan memperingatkan ancaman bahaya kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di tengah memburuknya kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Riau.

Julyana Mantuh hanya menanti turunnya hujan. Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup di bawah kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ia merasakan penyakit asmanya kumat lagi.

Perempuan berusia 25 tahun itu mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa asap Karhutla telah mengganggu aktivitasnya di luar rumah.

"Ada beberapa daerah yang jarak pandangnya itu kurang dari seratus meter... Dan beberapa hari terakhir juga saya merasakan sakit tenggorokan dan enggak enak buat aktivitas di luar rumah. Karena kalau sebentar saja berkendara di luar rumah itu mata kita jadi perih.

"Kami sangat butuh hujan, sebenarnya, karena kemarin sempat turun hujan dan itu bikin bersih udara kota Palangka Raya. Dan ternyata di-epic comeback (kembali lagi) sama asap lagi," kata Julyana, yang selalu membawa inhaler dan masker N95 setiap keluar rumah.

Kualitas udara di Palangka Raya memang sangat buruk dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan airvisual, indeks kualitas udara di ibu kota Kalimantan Tengah itu pada Selasa (17/09) mencapai 480, yang berarti "Hazardous" atau berbahaya - jauh dari batas aman, yakni 100.

Hak atas foto Antarafoto
Image caption Kabut asap di Palangka Raya membatasi jarak pandang dan menyebabkan iritasi pada mata.

Dampaknya udara buruk bagi kesehatan telah dirasakan oleh sebagian warga Palangka Raya. Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mencatat bahwa setiap pekan terdapat kurang-lebih 2000 warga yang melaporkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.

Gejalanya berupa batuk dan pilek, namun bisa lebih berat bagi penderita asma seperti Julyana.

Namun demikian, Kepala Dinas Suyuti Syamsul mengatakan bahwa situasi belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa.

"Setiap minggu kurang lebih 2000. Tetapi yang harus digaris bawahi kalau kami tuh bukan jumlahnya, apakah ada kenaikan dua kali lipat dibanding minggu sebelumnya. Dan ternyata selama ini belum ada. Memang naik signifikan, tapi itu sekitar 10-20%, tidak sampai dua kali lipat. Sehingga dari sisi kesehatan, kita tidak bisa menyatakan sebagai kejadian luar biasa," kata Suyuti kepada BBC News Indonesia, Selasa (17/09).

Figur menunjukkan titik api di Indonesia antara tanggal 1-15 September 2019 berdasarkan data dari LAPAN. Terlihat bahwa sebagian besar titik api terjadi di pulau Kalimantan.

Titik api di Indonesia sepanjang 2018 hingga September 2019

Peta menunjukkan titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi berdasarkan deteksi satelit. Tekan tombol putar untuk melihat.
Peta menunjukkan titik-titik api di seluruh Indonesia dari Januari 2018 hingga 15 September 2019. Terlihat bahwa jumlah titik api pada bulan September 2019 sangat tinggi dan sebagian besar terjadi di pulau Kalimantan.
Sumber: LAPAN (Data per 15 September 2019)

Kualitas udara buruk akibat asap juga dirasakan di kota Pekanbaru. Menurut pantauan airvisual, indeks kualitas udara ibu kota provinsi Riau itu pada hari Selasa mencapai 415. Seorang warga Pekanbaru, Ernawati, mengatakan kabut asap telah berdampak pada kesehatan ketiga anaknya.

"Kami semua sudah kena sakit yang sama, batu-batuk, sesak napas, ayahnya juga kena," kata perempuan itu kepada wartawan di Pekanbaru, Wahyu, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Lebih lanjut, Erna yang tinggal di Kecamatan Bukit Raya itu mengungkapkan bahwa sakit yang diderita ketiga anaknya semakin parah saat malam hari.

"Kalau malam enggak bisa tidur ini mereka, batuk-batuk terus. Kasihan, asap kan masuk ke rumah, tercium baunya," lanjut Ernawati.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Wahyu
Image caption Ernawati merawat salah satu anaknya, Ababil (6 tahun), yang batuk-batuk dan kesulitan bernapas.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr. Agus Dwi Susanto, menyebut kualitas udara di Palangka Raya dan Pekanbaru sudah "sangat berbahaya". Ia menjelaskan bahwa ketika indeks kualitas udara melebihi 300, itu berarti kandungan partikel dan gas-gas polusi telah jauh lebih banyak dari udara yang sehat.

"Kandungan oksigennya jauh lebih rendah dibanding kandungan udara yang sehat. Tentunya selain efek dari kandungan bahan polutan itu, kualitas oksigen yang turun juga akan memengaruhi kualitas hidup manusia. Orang akan menjadi kekurangan oksigen sehingga ini berbahaya buat kesehatan."

Seberapa buruk kualitas udaranya?

Mengacu pada pantauan airvisual, kualitas udara yang mencapai level "hazardous" di Palangka Raya dideteksi sejak Jumat pekan lalu (13/09). Puncaknya pada hari Minggu dan Senin tanggal 15 dan 16 September, ketika indeks kualitas udara melampaui angka 900.

Sementara di Pekanbaru, kualitas udara mencapai level berbahaya, meski tidak separah Palangka Raya, sejak Kamis (12/09). Kualitas udara terburuk dicatat pada Jumat (13/09) dengan indeks kualitas udara 489.

Indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) dihitung berdasarkan pengukuran partikulat halus, Ozon (O3), Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2) dan emisi Karbon Monoksida (CO).

Kualitas udara juga diukur dengan menghitung particulate matter atau partikel halus, yaitu PM2,5 dan PM10. Angka tersebut merupakan ukuran partikel, yaitu 2,5 mikron dan 10 mikron - puluhan kali lebih kecil dari rambut manusia.

Dr. Agus Dwi Susanto dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menjelaskan bahwa PM2,5 kini lebih sering dijadikan patokan, karena jenis partikel tersebut "lebih toksik". Partikel berukuran 2,5 mikron dapat masuk ke saluran napas bawah, kemudian ke pembuluh darah, dan beredar ke seluruh tubuh, sehingga "mengubah perubahan normal menjadi peradangan kronik".

Studi dari analis perubahan iklim Berkeley Earth secara kasar memadankan tingkat polusi PM2,5 sebesar 22 mikrogram per meter kubik dengan mengisap satu batang rokok per hari.

Menurut airvisual, sejak Jumat (13/09), warga Palangka Raya sempat merasakan konsentrasi PM2,5 yang mencapai 1200 mikrogram per meter kubik — setara dengan mengisap kira-kira 54 batang rokok.

Adakah dampak kesehatan jangka panjang?

Dr. Agus Dwi Susanto mengatakan paparan terhadap asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menyebabkan penurunan fungsi paru. Meski sebenarnya efek tersebut bisa pulih kembali.

Agus menjelaskan, berdasarkan penelitian, sekitar 65% warga yang terekspos asap karhutla di tahun 2015 itu ada sekitar 65 persen yang mengalami gangguan obstruksi atau penyempitan saluran napas. Setelah enam bulan kemudian, ketika udara kembali bersih, pemeriksaan spirometri menunjukkan bahwa saluran pernapasan mereka kembali normal.

Namun paparan terus menerus terhadap asap bisa membuat Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menjadi semakin buruk atau eksaserbasi, kata Agus. PPOK membuat penderitanya sulit bernapas karena aliran udara dari paru-paru terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak. Gejala yang semakin parah menyebabkan kunjungan ke rumah sakit meningkat.

"Itu datanya ada ya... 1,8 hingga 3,8 kali itu ada peningkatan kunjungan ke rumah sakit karena penyakit-penyakit saluran pernapasan selain ISPA.

"Beberapa data penelitian menunjukkan setiap tahun orang yang terkena asap kebakaran hutan terus-menerus itu cenderung akan mengalami hipersensitif saluran nafas ya. Dan nanti cenderung bisa menjadi risiko terjadinya penyempitan saluran nafas," imbuhnya.

Penelitian mengenai komposisi kimiawi asap kebakaran gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 2015 menemukan kandungan Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang bersifat karsinogenik, atau menyebabkan kanker. Tapi, menurut Agus, hingga saat ini itu belum ada laporan yang menunjukkan kejadian kanker paru yang berhubungan dengan asap kebakaran hutan.

Itu karena kanker hanya muncul akibat paparan yang berkelanjutan, dan biasanya terjadi setelah seseorang terpapar selama bertahun-tahun.

"Misalnya sepuluh tahun. Jadi setelah sepuluh tahun terpapar, akan terjadi perubahan sel paru normal menjadi sel paru kanker.

"Kalau asap kebakaran hutan itu episodik. Misalnya, tahun ini dari bulan Juli sampai bulan Oktober, habis itu berhenti ketika hujan. Berbeda dengan, contohnya, kalau orang merokok ya," ujarnya.

Bagaimanapun, menurut Agus, yang ditakutkan dari asap kebakaran hutan adalah risiko jangka pendeknya, bukan jangka panjangnya.

"Jangka pendeknya menyebabkan ISPA. Kemudian serangan jantung meningkat, serangan asma meningkat, kunjungan ke perawatan kesehatan meningkat... Kalau jangka panjang kan... keluarnya setelah sekian tahun. Tapi kalau ini dibiarkan terus-menerus, angka kematian bisa tinggi."

Studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Research Letters pada tahun 2016 menaksir jumlah kematian akibat kabut asap pada 2015 sebanyak 91.600 di Indonesia, 6.500 di Malaysia, dan 2.200 di Singapura. Namun pemerintah Indonesia menolak angka tersebut, mengatakan bahwa itu merupakan estimasi hasil studi, bukan angka temuan di lapangan.

Apa yang dilakukan pemerintah?

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul, mengatakan pemerintah provinsi telah membuka 110 "rumah singgah" di seluruh Kalimantan Tengah. Rumah tersebut menyediakan tabung oksigen dan ruangan kedap asap. Hingga saat ini ribuan warga telah memanfaatkan fasilitas tersebut, kata Suyuti.

Di Riau, posko kesehatan untuk menanggulangi gangguan kesehatan akibat asap telah dibuka di sejumlah daerah di kota Pekanbaru. Sebagian dari posko-posko tersebut dikelola oleh pemerintah provinsi, sebagian lagi oleh partai politik. Selain untuk berobat, masyarakat mendatangi posko untuk mendapatkan masker yang diberikan secara cuma-cuma.

Seorang petugas kesehatan di salah satu posko di Kecamatan Marpoyan Damai, yang dibuka oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengatakan kebanyakan pasien mengeluhkan sesak napas.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Wahyu
Image caption Posko kesehatan di Pekanbaru, Riau menyediakan obat-obatan dan tabung oksigen untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap Karhutla.

"Apalagi ibu hamil, itu janinnya ada yang kekurangan oksigen, kurang gerak janinnya. Setelah kita kasih oksigen langsung aktif bayinya," ujarnya kepada Wahyu, wartawan di Pekanbaru yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan upaya penanganan karhutla terus dilakukan dengan strategi pemadaman lewat darat dan udara serta penegakan hukum. Pelaksana tugas ketua Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa jarak pandang menghambat pengemboman air di beberapa titik panas (hotspot).

Hingga Selasa (18/09) terdapat 2136 titik api di seluruh Indonesia, berdasarkan pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Kebakaran hutan dan lahan diperkirakan akan terus berlanjut sampai penghujung musim kering, yaitu bulan Oktober atau November.

Berita terkait