Kisah pelancong tunanetra: "Saya melihat dunia dengan sudut pandang berbeda"

Tony Giles uses his cane to navigate difficult terrain Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Tony Giles sudah berpergian ke lebih dari 130 negara.

"Saya telah mengunjungi setiap benua di dunia, termasuk Antartika. Misi saya adalah mengunjungi setiap negara di dunia," kata Tony Giles.

Giles buta dan kedua telinganya tak dapat mendengar. Namun hasrat Giles untuk bepergian telah membawanya ke lebih dari 130 negara.

"Sejumlah orang menyebut saya menjalani perjalanan yang ekstrem. Saya akan menunjukkan kepada mereka bahwa Anda dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda," kata pengembara berusia 41 tahun dari Inggris itu.

BBC Travel Show bertemu Giles dalam perjalanannya baru-baru ini ke Ethiopia.

Saya merasakannya melalui kulit

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Tony Giles menyebut melancong adalah aktivitas yang membebaskannya dari belenggu emosi.

"Saya mendengar orang berbicara. Saya berjalan naik dan turun gunung. Saya bisa merasakannya melalui kulit dan kaki saya."

"Itulah bagaimana saya melihat dan menyelami seluk beluk sebuah negara," ujar Giles.

Giles telah menghabiskan 20 tahun terakhir bepergian dan menjelajahi tempat-tempat baru.

Dalam salah satu perjalanannya, Giles bertemu seorang perempuan tunanetra asal Yunani. Perempuan itu kini menjadi kekasihnya.

Tahun 2018, Giles pergi ke Rusia bersama kekasihnya untuk menjelajah negara terbesar di dunia itu melalui perjalanan kereta api.

Tetapi, pada sebagian besar perjalanannya, Giles berpergian sendirian.

Sensasi yang baru

Giles menggunakan uang pensiun ayahnya untuk membiayai aktivitasnya berkeliling dunia. Ia menyusun rencana perjalanan dari jauh-jauh hari sebelumnya.

Giles dibantu ibunya untuk memesan tiket pesawat. Alasannya, sebagian besar situs maskapai penerbangan tidak melayani orang tunanetra.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Bagi Tony Giles, bertemu orang-orang baru merupakan petualangan menyenangkan.

"Saya tidak bisa mengambil buku dan memutuskan 'biarkan saya pergi ke tempat ini atau di tempat itu'."

"Saya perlu mendalami beragam informasi sebelum melakukan perjalanan. Saya punya ingatan yang sangat baik. Saya merencanakan rute saya," katanya.

Sesampainya di lokasi tujuan, Giles menemukan caranya tersendiri untuk menikmati perjalanan.

"Kadang-kadang, aku tidak tahu siapa yang akan kutemui dan apa yang akan terjadi. Bagiku itu petualangan."

Indra yang memburuk

Giles berusia sembilan bulan saat dokter dan keluarga menyadari masalah pada matanya. Dia benar-benar kehilangan pengelihatan pada usia sepuluh tahun.

Sebelum enam tahun, Giles dinyatakan tuli sebagian. Dia menggunakan alat bantu dengar digital yang diklaim efektif, tapi tetap tidak dapat mendengar secara maksimal

"Aku begitu cemas akan menjadi buta di sepanjang masa remajaku."

Giles menempuh pendidikan formal di sekolah khusus. Di periode itulah dia mendapatkan pengalaman pertama bepergian ke negara asing.

Kala itu, Giles yang berusia 16 tahun pergi ke Boston, Amerika Serikat, dalam perjalanan studi wisata sekolah.

Tetapi bahkan sekarang, masalah kesehatan terus mempengaruhi minat besarnya pada perjalanan ke tempat baru. Pada tahun 2008, misalnya, Giles dipaksa menjalani transplantasi ginjal yang didonorkan Ayah tirinya.

Kecanduan

Ayahnya wafat saat Giles berumur 15 tahun. Sementara itu, sahabat baiknya yang difabel meninggal kala Giles berumur 16 tahun.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Tony Giles senang mengunjungi tempat yang mempersilakan kelompok difabel menyentuh dan merasakan beragam benda-benda.

"Situasi itu mengantarkan saya pada minuman keras selama enam atau tujuh tahun. Pada usia 24, saya seorang alkoholik."

Ayahnya bekerja di industri kelautan komersial. Kisah-kisah yang ia ceritakan tentang negeri yang jauh meninggalkan kesan yang kuat pada Giles.

"Begitu aku berpergian, aku bisa melihat ada jalan-jalan lain untuk ditapaki," ujar Giles.

Melepaskan diri dari emosi

Pada Maret 2000, Giles memulai titik petualangannya dengan pergi ke New Orleans, Amerika Serikat.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Giles menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang bersedia membantunya.

"Aku tidak tahu ke mana aku pergi dan aku hanya berdiam diri."

"Aku menarik napas dalam-dalam, dan berkata pada diriku sendiri, 'Tony, jika kamu tidak menginginkannya, pulanglah.'"

Giles saat itu memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Dan sejak itu ia mengunjungi semua negara bagian di AS.

"Salah satu alasan utama perjalanan ini adalah pelarian. Melarikan diri dari emosiku."

Pergi ke tempat-tempat baru juga memberi Giles dorongan emosional yang sangat dibutuhkannya.

"Semakin banyak orang yang saya temui, saya sadar mereka ingin berada di dekat saya bukan karena saya buta, tetapi karena kepribadian saya," tuturnya.

Menikmati hal-hal sederhana

Giles merupakan musafir bermodal cekak. Dia lebih memilih transportasi umum dan tempat tinggal sederhana, seperti yang ia tempati di Addis Ababa, Ethiopia.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Giles kadang-kadang membayar pemandu wisata agar mendapat informasi yang lengkap tentang lokasi yang didatanginya.

"Tempat ini berat dan sederhana. Situasi itu membangunkan semua indraku."

Tuan rumah yang menjamu Giles senang memasak makanan untuknya. Ia menggunakan bahan-bahan lokal yang dibeli Giles dari pasar.

"Aku mendengar, mencium, dan merasakan segala sesuatu di sekitarku."

Giles gemar menyentuh dan merasakan wujud suatu benda. Berbicara dan mendengarkan yang dikatakan orang lain membantu Giles membentuk visual dalam benaknya.

Di Addis Ababa, Giles datang ke pameran seni yang mengiizinkan kelompok tunanetra menyentuh dan merasakan benda-benda yang dipajang.

Giles menyebut kebijakan tersebut membuatnya merasa menjadi bagian dari orang banyak. Ia berkta, tak banyak museum yang memberi keleluasaan bagi kelompok tunanetra.

Tersesat

Giles berusaha mencoba untuk menjauh keramaian. Di Ethiopia, dia pergi ke sebuah danau yang tak masuk destinasi wisata umum. Di sana, ia memberi ikan pada burung-burung air.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Tony Giles lebih gemar menikmati lokasi yang tak hiruk-pikuk dengan aktivitas turisme.

Giles kadang-kadang membayar pemandu pribadi. Namun ia sering kali berjalan sendiri dan tersesat dari waktu ke waktu.

Walau begitu, tersesat bukan hal yang membuatnya panik. Giles dengan tenang menunggu orang-orang melewati dan membantunya.

"Barangkali akan ada sepuluh orang yang melalui Anda sebelum satu dari mereka berhenti dan bertanya, 'Apakah Anda tersesat? Apakah Anda memerlukan bantuan?'"

Giles berkata, beberapa orang yang tak ia kenal memintanya berkunjung ke rumah mereka, untuk makan dan memberi informasi lain tentang tujuan perjalanannya.

Mempercayai orang asing

Menarik uang tunai dari mesin anjungan tunai dan mencatat perbedaan kurs mata uang merupakan tantangan terbesar dalam perjalanan Giles.

"Aku harus menemukan seseorang yang bisa kupercayai. Aku harus memeriksanya, mendengarkan kisah mereka."

Setelah benar-benar yakin, dia pergi ke ATM dengan orang asing itu untuk menarik uang tunai.

"Setelah menarik uang, aku harus bertanya kepada mereka, mata uang apa yang kudapat."

Musik dan Makanan

Saat bepergian, ia mencoba memainkan alat musik yang berbeda.

Hak atas foto The Travel Show, BBC News
Image caption Musik dan makanan kerap membantu Tony Giles menjalin hubungan personal dengan masyarakat lokal.

"Salah satu kegemaran terbesarku adalah musik. Aku bisa terhubung dengannya. Aku bisa merasakan ritme. Itu melintasi semua penghalang."

Giles juga selalu mencicipi hidangan lokal yang populer.

Luar biasa

Giles telah berpergian ke banyak tempat yang spektakuler dan mengabadikannya dalam foto.

Giles mungkin tidak bisa menikmati foto-foto itu, tetapi sederet potret itu diunggahnya ke internet. Ia ingin berbagi pengalaman itu dengan orang lain.

Giles sering bertemu orang-orang yang heran pada aktivitas berpergiannya ke berbagai negara. "Mengapa orang buta ingin melihat dunia?" tanya mereka.

Dan Giles memiliki jawaban yang sederhana.

"Jawabannya adalah, mengapa tidak?"

Berita terkait