Doch Chkae, band metal yang lahir di tempat pembuangan sampah Kamboja

Tempat pembuangan sampah Stung Meanchey pada 2018 Hak atas foto Satoshi Takahashi/Getty Images
Image caption Ribuan orang bekerja di tempat pembuangan sampah Stung Meanchey, seperti yang terlihat di sini pada 2008

Tempat pembuangan sampah di pinggiran ibu kota menjadi simbol paling kuat yang menggambarkan kemiskinan Kamboja, tempat dimana banyak orang miskin tinggal di sana pada pertengahan 2000an.

Bagi banyak orang, tempat pembuangan sampah Stung Meanchey yang berada di dekat Phnom Penh adalah tempat tinggal mereka. Sekitar 2.000 pria, perempuan dan anak-anak memulung di gunungan sampah seluas 100 hektar dalam kondisi mengerikan untuk mencari barang yang bisa didaur ulang untuk kemudian dijual.

Stung Meanchey juga merupakan tempat yang berbahaya. Beberapa orang terlindas truk sampah ketika berebutan mendapat tempat utama ketika sampah itu dikeluarkan dari truk. Banyak di antaranya jatuh sakit karena paparan limbah terbuka dan racun berbahaya.

Di antara mereka yang lahir di tempat pembuangan sampah ini adalaha Sok Vichey, Ouch Theara and Ouch Hing.

"Kami pernah tidak makan selama berhari-hari, hanya berkeliaran di kota dnegan kantong plastik untuk mengambil kaleng yang bisa kami jual kembali," ujar Vichey yang kini berusia 18 tahun.

"Panas sekali di bawah matahari dan kami tidak punya air. Kami tidak sekolah. Kami tidak punya pilihan."

Ibu Theara telah meninggal dan ayahnya telah pergi. Dia tinggal bersama bibinya dan tujuh anaknya di Stung Meanchey. Vichey tinggal di sebelah rumahnya dan juga kehilangan ayahnya. Ibunya menghabiskan hari-harinya memulung sampah di tempat pembuangan sampah dengan harga beberapa dolar sehari.

Hak atas foto Timon Seibel
Image caption Ouch Theara adalah salah satu anak yang lahir di tempat pembuangan sampah Stung Meanchey

Mereka tidak sendirian. Pada 2007, sekitar 47% penduduk Kamboja hidup di bawah garis kemiskinan, menurut data Bank dunia, dengan banyak di antara mereka berpendapatan di bawah US$1 per hari.

Seiring dengan waktu, Theara, Hing dan Vichey menginjak usia remaja, anggota keluarga mereka yang tersisa tidak dapat lagi menyediakan kebutuhan bagi mereka dan mereka kemudian dibina oleh LSM lokal, Moms Against Poverty.

Di sanalah mereka bertemu pekerja sosial Swiss-Jerman Timon Seibel.

Masa kecil bocah laki-laki di tempat pembuangan sampah telah membuat mereka marah, dan tidak mampu mengendalikan kemarahan itu.

Hak atas foto Timon Seibel
Image caption Ouch Hing, adik Theara, bergaya di tempat tinggal mereka di tempat pembuangan sampah

"Terutama Theara," kata Timon.

"Ia memandang siapa yang paling kuat adalah menang dan segala yang dia miliki atau bisa didapatnya perlu perjuangan.

"Dia tidak pernah bisa benar-benar menerima nasibnya tidak memiliki orang tua. Ketika dia marah, dia sangat aktif dan bahagia tapi kemudian dia jatuh dalam depresi besar. Dia dulu mendapat serangan kemarahan yang sangat, sangat kuat. Dia akan memukul anak-anak lain dan mengancam mereka. "

Theara kemudian menemui seorang terapis yang menyarankannya untuk mencari ayahnya. Dia akhirnya menemukannya dan mendapati bahwa ternyata ayahnay adalah seorang arsitek kaya yang merahasiakan Theara dari keluarganya. Ayahnya mulai memberinya uang, tapi kemudian memutuskan ingin memutus hubungan lagi.

Timon mencoba segalanya untuk meredakan kemarahan anak-anak ini -sepakbola, kelas seni- namun tidak berhasil. Kehabisan ide, Timon, yang merupakan penggemar musik metal, mengajak mereka menonton pentolan musik hardcore Kamboja, Sliten6ix di sebuah bar di Phnom Penh.

Hak atas foto Florian Gleich
Image caption Dari kiri ke kanan: Ouch Hing, Ouch Theara, Sok Vichey dan Sochetra Pic

Akhirnya, membuahkan hasil.

"Saya hanya berdiri di depan panggung dan berpikir [...] musik apa ini?, kata Vichey.

"Aku tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan. Drum dan gitar, aku benar-benar tidak mengerti.

"Tapi setelah pertunjukan kami tertarik dengan jenis musik ini, itu sangat mudah dimainkan sehingga kami mulai nge-jam."

Timon memperkenalkan mereka kepada band-band seperti Slipknot dan Rage Against The Machine dan anak-anak segera mengidentifikasi sifat agresif musik - jauh dari lagu-lagu cinta sentimental yang dipuja oleh banyak orang Kamboja.

"Saya lebih menyukai metal karena kami bisa meneriakkan kemarahan kami dan kami bisa bermain apa pun yang kami inginkan," kata Vichey.

"Kami pergi ke ruang musik, nyalakan ampli dan lepaskan amarah kami di dalam. Kami mengalami kehidupan yang sangat sulit di masa lalu."

Saat itulah anak-anak memutuskan untuk memulai sebuah band: Doch Chkae.

Bermakna "seperti anjing", band ini ingin nama yang mewakili bagaimana masyarakat membuat mereka merasa sebagai pemulung yang hidup dalam kemiskinan. Ini muncul dalam lirik mereka, berteriak dalam bahasa asli Khmer.


Tidak ada yang memiliki kehidupan seperti saya,

Setiap hari saya hidup seperti anjing,

Kami mencari makanan kami, berjalan-jalan,

Saya mengambil sampah di mana pun saya menemukannya,

Jika saya tidak melakukan itu, saya bahkan tidak akan memiliki kehidupan ini,

Saya melakukan itu karena saya tidak memiliki orang tua


Doch Chkae mulai tampil di acara musik sekitar Phnom Penh pada tahun 2015 dan merilis beberapa single, termasuk: Kham Knea Doch Chkae ((Menggigit Satu Sama Lain Seperti Anjing) melalui perusahaan rekaman Yab Moung Records, satu-satunya label rekaman rock di Kamboja.

Nina Ruhl, yang dulu tinggal di Phnom Penh namun sudah pindah kembali ke negara asalnya di Jerman, menjadi penggemar band setelah melihat mereka bermain.

"Anda dapat melihat penonton mereka seperti: 'Oh, mereka imut' dan kemudian mereka mulai bermain dan segera energi berubah di ruangan dan orang-orang akan melompat dan memukul-mukul dan melihat mereka dari perspektif yang sama sekali berbeda," katanya.

Hak atas foto Dominik Probst
Image caption Doch Chkae dengan mentornya, Timon, paling kiri.

"Saya tidak pernah menyukai musik metal sebelumnya, tetapi ketika saya melihat orang-orang ini, saya jadi gila."

Doch Chkae mulai berkecimpung di kancah metal dunia dan pada 2018 diundang untuk bermain Wacken Open Air di Jerman, salah satu festival metal terbesar di planet ini.

Tetapi visa mereka ditolak setelah pihak berwenang Jerman menganggap band itu berpotensi risiko. "Dalam bahasa normal? Mereka terlalu miskin," kata Timon.

Banyak dari komunitas metal sangat marah dengan keputusan itu dan lebih dari 10.000 menandatangani petisi online yang meminta pihak berwenang untuk mempertimbangkan kembali. Band ini akhirnya diberikan visa dan pada bulan Agustus lalu, akhirnya tampil di Wacken di hadapan ribuan orang.

Hak atas foto Dominik Probst
Image caption Doch Chkae memainkan pertunjukan penuh kemenangan di Wacken Open Air pada bulan Agustus

"Saya sangat bersemangat." ujar vokalis Theara yang kini berusia 20 tahun.

"Kami memainkan delapan lagu, dan ketika selesai mereka berteriak; 'satu lagu lagi'. Mereka terlihat sangat senang, mereka ingin kami terus main.

"Saya belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Ada begitu banyak orang."

Hak atas foto Dominik Probst
Image caption Doch Chkae ketika dalam acara konferensi pers di Wacken Open Air

Meskipun bermain di kerumunan banyak orang, namun media di sana tetap menganggap Doch Chkae sebelah mata.

"Tidak ada yang datang mewawancara kami, situasinya sangat hening," ujar Theara.

"Mereka tidak suka musik kami, ada banyak teriakan dan lagunya sangat cepat. Mereka tidak memahaminya."

Hak atas foto Timon Seibel
Image caption Band bermain di lingkungan lama mereka.

Namun, band ini sudah merencanakan sebuah lokakarya yang akan memperkenalkan musik metal kepada anak muda Kamboja lainnya yang berjuang dalam kemiskinan. Band berharap musik akan menginspirasi orang lain, seperti yang terjadi pada mereka.

Tempat pembuangan sampah Stung Meanchey ditutup satu dekade lalu meskipun banyak yang masih tinggal dan bekerja di sana. Kemiskinan telah sangat menurun di Kamboja dalam beberapa tahun terakhir, meskipun banyak yang terus tertinggal di tengah pertumbuhan ekonomi negara yang pesat.

Meskipun sukses di Jerman, para anggota band masih hidup dari tangan ke mulut, melakukan pekerjaan sambilan dan menjual barang secara online saat tidak berlatih atau bermain di panggung

Doch Chkae sedang merekam album dan berharap untuk memulai tur Eropa setelah rilis. Meskipun mereka merasa diabaikan oleh banyak orang di tanah air mereka, musik metal - dan minat para metal-head Eropa - telah memberi mereka harapan untuk masa depan.

There are plans for a new workshop led by the band, which will introduce heavy music to other young Cambodians struggling in poverty. The band hope music will inspire others, like it did for them.

The Stung Meanchey dump was closed a decade ago although many still live and work there. Poverty has dropped considerably in Cambodia in recent years, although many continue to be left behind amid the country's rapid economic growth.

Despite their success in Germany, the band members are still living a hand-to-mouth existence, doing odd jobs and selling merchandise online when not rehearsing or playing live.

Doch Chkae are recording a new EP and hope to embark on a tour of Europe after its release. Although they feel ignored by many in their homeland, metal music - and the interest of the metal-heads of Europe - has given them hope for the future.

Topik terkait

Berita terkait