Marvel Comics genap 80 tahun: Sempat hampir bangkrut, kini merajai box office

X-Men, 1991 Hak atas foto Marvel Comics

Untuk usia 80 tahun, yang satu ini masih segar bugar: menembakkan laser dari matanya, bertualang di luar angkasa, dan menyelamatkan dunia dalam baju robot.

Tapi "pensiunan" ini adalah Marvel Comics, yang merayakan ulang tahunnya pekan ini; dan seperti Captain America – yang bertempur di Perang Dunia 2 – ia tidak menua seperti kita semua.

Marvel menerbitkan buku komik pertamanya pada 1939, dan sekarang menjadi salah satu nama terbesar di industri hiburan.

Film-film terbaru yang diangkat dari komik Marvel seperti Captain Marvel dan Avengers: Endgame masing-masing meraup lebih dari satu miliar dolar dalam penjualan tiket di seluruh dunia.

Bukan hal buruk bagi perusahaan yang hampir bangkrut di tahun 1990-an.

'Jagoan yang seperti orang biasa'

Pada masa-masa awal, Marvel bernama Timely Comics dan menampilkan jagoan super seperti Submariner alias Namor, petualang bawah laut yang masih muncul dalam komik saat ini, dan Human Torch — versi awal dari karakter yang akan menjadi bagian dari The Fantastic Four.

Tetapi baru pada tahun 1960-an lah mereka mulai dikenal luas.

"Pada masa itu, jagoan super telah ada selama beberapa dekade," kata Chris Murray, profesor studi komik di University of Dundee, kepada Radio 1 Newsbeat.

"Batman, Superman, dan Wonder Woman sudah hadir cukup lama saat itu, dan mereka seperti generasi lama."

Ketiga tokoh tersebut diterbitkan oleh DC Comics, salah satu dari "the big two" – julukan bagi dua penerbit komik terbesar – dan masih merupakan pesaing terbesar Marvel saat ini — walaupun ada banyak penerbit kecil lainnya.

"Apa yang dilakukan Marvel pada tahun 1960-an adalah menciptakan jajaran pahlawan yang berbeda, yang lebih seperti orang biasa, mereka adalah pahlawan yang punya kekurangan.

"Karakter seperti Spider-Man dan Hulk dimotivasi oleh rasa bersalah atau amarah."

Setelah mendapatkan kekuatan laba-laba, Peter Parker memilih untuk tidak menghentikan perampok yang, beberapa saat kemudian membunuh pamannya. Ketika Bruce Banner berubah menjadi Hulk, itu karena amarahnya begitu besar sehingga ia tidak bisa lagi menahan si monster hijau.

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption Spider-Man dan Hulk adalah dua jagoan super terpopuler Marvel.

Tapi karakter dan cerita Marvel berusaha lebih dari sekadar nyambung dengan pembacanya. Mereka juga mencerminkan perubahan sosial yang terjadi di Amerika.

"Ada penekanan pada masalah yang cukup penting pada saat itu, masalah keadilan sosial, melawan prasangka," kata Chris.

"Karakter seperti X-Men dan Black Panther menantang prasangka di masyarakat yang terpecah-belah."

X-Men, yang dibenci karena kekuatan yang mereka miliki sejak lahir dan keadaan di luar kendali mereka, dipandang sebagai metafora untuk prasangka terhadap kelompok minoritas seperti komunitas LGBT.

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption X-Men mewakili kelompok minoritas dan menghadapi kebencian karena kekuatan mereka.

Black Panther, jagoan super kulit hitam pertama yang muncul dalam komik arus utama Amerika, dipercaya terinspirasi oleh gerakan Hak Sipil di Amerika.

Ia diperkenalkan dalam komik The Fantastic Four yang terbit pada 1966.

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption Black Panther first appeared in 1966 alongside The Fantastic Four.

Selama beberapa dekade, Marvel Comics selalu berusaha untuk menjadi relevan. Salah satu sampulnya yang paling terkenal (diterbitkan pada tahun 1941) menunjukkan Captain America meninju wajah Adolf Hitler.

Hak atas foto Marvel Entertaiment
Image caption The comics reflected what was happening in society but weren't historically accurate

Dalam beberapa tahun terakhir, Marvel memperkenalkan karakter yang lebih beragam seperti remaja kulit hitam-hispanik pertama yang menjadi Spider-Man, Miles Morales, dan Ms Marvel (Kamala Khan), karakter Muslim pertama yang tampil dalam buku komiknya sendiri.

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption Kamala Khan (left) pertama kali muncul sebagai Ms. Marvel pada 2013. Miles Morales (kanan) memulai debut sebagai Spider-Man pada 2011.

"Karakter-karakter baru ini membawa angin segar ke dalam genre superhero secara keseluruhan," kata Chris.

"Mereka mulai mendefinisikan kembali apa artinya menjadi pahlawan super di abad ke-21, seperti halnya jagoan-jagoan yang ditawarkan Marvel pada awal 1960-an terasa seperti angin segar. Mereka terasa seperti menantang kebiasaan dan stereotip."

Ada juga karakter seperti Hulkling dan Wiccan – keduanya anggota Young Avengers – yang menjalin hubungan sesama jenis; dan anggota X-Men, Dust, yang berasal dari Afghanistan dan mengenakan niqab.

Sejauh ini, karakter yang beragam ini belum muncul dalam film atau acara televisi Marvel, tetapi ada rencana untuk membawa Kamala Khan ke layar kaca di serial televisinya sendiri dalam layanan streaming baru Disney.

Dan kemudian ada Squirrel Girl, seorang mahasiswi ilmu komputer yang memiliki ekor, dapat mengunyah kayu, dan mengendalikan pasukan tupai.

Doreen Green memulai debut pada tahun 1991, dan akhirnya mendapat serialnya sendiri, The Unbeatable Squirrel Girl, pada tahun 2014.

Hak atas foto Erica Henderson / Marvel Entertainment

"Dalam beberapa hal, bekerja untuk Marvel lebih baik dari yang saya harapkan karena Squirrel Girl adalah buku aneh yang tidak diharapkan banyak orang. Jadi tidak ada banyak aturan," kata Erica Henderson, yang menggambar 37 edisi pertama The Unbeatable Squirrel Girls.

"Saya pikir bagi banyak orang, mereka suka melihat karakter yang tidak kelihatan seperti pahlawan super tradisional.

"Saya tidak berusaha menciptakan karakter yang melawan penindasan dengan bentuk tubuhnya, saya hanya memperkenalkan karakter yang aneh dan tidak terlihat seperti pahlawan super."

Chris percaya kemenangan terbesar Marvel selalu datang dari karakter seperti Squirrel Girl yang sedikit berbeda, atau "orang luar".

Dan itu adalah sesuatu yang berdampak pada pembaca seperti Seb, seorang pria berusia 26 tahun, yang pertama kali membaca komik Marvel ketika membeli komik Wolverine vs Deadpool saat ia muda.

Hak atas foto Marvel Entertainment

"Saya anak yang sedikit terasing," kata Seb.

"Saya tidak pandai membaca. Tapi saya menikmati komik, karena komik memberi saya visualisasi yang saya perlukan dalam pikiran saya. Cara saya melihat sesuatu, seperti tampilan cerita di dalam komik."

'Melarikan diri ke dunia Marvel'

Deadpool – yang suka mengumpat dan sering bicara dengan pembaca alih-alih karakter di dalam ceritanya – menjadi karakter yang paling nyambung dengan Seb.

"Segala sesuatu sepertinya masuk akal. Itu seperti sebuah dunia yang aku mengerti dibandingkan dengan dunia yang aku tinggali. Jauh lebih mudah untuk melarikan diri ke dunia Marvel."

'Komik-komik yang dihargai terlalu mahal'

Tapi dunia tersebut hampir hilang selamanya ketika Marvel mengalami masalah keuangan pada 1990-an.

"Industri komik telah dihargai terlalu tinggi selama bertahun-tahun," kata Chris.

"Kolektor komik membeli banyak buku sekaligus, percaya bahwa mereka akan bernilai dalam waktu 10-20 tahun sehingga mereka melihatnya sebagai investasi."

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-80, Marvel mencetak ulang komik pertama yang menampilkan Spider-Man.

Penampilan pertama Spider Man, dalam jilid 15 dari Amazing Fantasy yang terbit pada tahun 1962, pernah terjual dengan harga $1,1 juta (Rp15 miliar) dan penampilan pertama karakter seperti X-Men, Iron-Man, dan The Incredible Hulk telah terjual seharga ratusan ribu dolar .

Tapi lain kasusnya dengan komik yang dicetak pada tahun 1990-an, karena Marvel – dan perusahaan lain – mencetak jutaan eksemplar untuk satu judul yang sama.

Rilis ulang X-Men pada tahun 1991, misalnya, terbit dengan lima sampul berbeda — tidak satupun menjadi barang langka.

Chris menambahkan bahwa Marvel juga mengambil risiko dengan pindah ke bisnis mainan dan lisensi — yang tidak membuahkan hasil saat itu.

Karena itulah Marvel menjual hak film untuk Spider-Man ke Sony pada tahun 1999 hanya seharga $7 juta.

Kesepakatan tersebut menjadi masalah yang telah berusaha diselesaikan Marvel sejak lama.

Siapapun yang akhirnya memegang hak atas Spider-Man, masa depan Marvel tampaknya lebih terletak di layar (Black Panther dinominasikan untuk Film Terbaik di Oscar 2019) daripada di halaman komik. DC – dan penerbit saingan lainnya – juga mengangkat karakter-karakter komik mereka ke layar lebar maupun layar kaca dalam beberapa tahun terakhir.

Baru-baru ini, Marvel mengumumkan 10 film baru dan delapan seri televisi yang sedang dalam tahap produksi untuk layanan streaming baru Disney+.

'Delapan puluh tahun bercerita'

Tetapi itu tidak berarti tidak akan ada lagi buku komik tradisional, dalam bentuk cetak maupun digital, untuk 80 tahun ke depan.

Chris mengatakan ketika Marvel pertama kali memulai jagat sinematik mereka, para pembuat film jelas telah melakukan "studi nyata" tentang apa yang bagus dari komik-komik Marvel.

"Begitu Nick Fury muncul di akhir film Iron Man pertama dan bertanya kepada Tony Stark apakah dia pernah mendengar tentang Avengers Initiative, para pembaca komik tahu ke mana arahnya," katanya.

"Saya pikir kesuksesan film-film Marvel selama beberapa dekade terakhir sangat terkait erat dengan 80 tahun sejarah Marvel, pengalamannya yang luas dalam mendongeng, dan pengembangan karakter mereka," kata Chris.

Erica setuju: "Semuanya bermuara pada cerita-cerita orisinal itu," ujarnya.

Hak atas foto Marvel Entertainment
Image caption Avengers, karakter Marvel yang paling sukses di layar lebar, masih bertualang dalam komik-komik mereka yang terbit setiap pekan.

Chris mengakui penjualan buku komik sekarang "tidak seperti dulu" tetapi ia percaya mereka tidak akan menghilang dari rak.

"Buku komik tetap relevan dan signifikan secara budaya. Ini adalah cara yang disukai banyak orang untuk mengonsumsi cerita," kata Chris.

"Saya pikir komik akan selalu ada, dan saya yakin selama komik masih ada di dunia, Marvel akan punya andil di dunia itu."

Topik terkait

Berita terkait