Fotografi: Berkat foto cumi-cumi di Sulawesi Utara, remaja 14 tahun menang kompetisi juru foto alam liar internasional

Grand Prize Winner Hak atas foto Yongqing Bao

Sekilas, foto ini pantas menjadi bahan guyonan. Namun, foto yang diabadikan di Pegunungan Qilian, China, ini amat sangat serius.

Kehadiran si rubah begitu mengejutkan marmut dan pertarungan yang mempertaruhkan nyawa segera dimulai.

Adegan akhir mudah ditebak. Binatang pengerat itu mati dan menjadi santapan si rubah.

"Begitulah alam," kata Yongqing Bao, fotografer pengabadi foto tersebut yang diganjar hadiah utama dalam kompetisi Fotografer Alam Liar Tahun Ini (Wildlife Photographer of the Year/WPY).

Foto itu juga yang membuat Yongqing mendapat penghargaan foto terbaik dalam kategori perilaku mamalia.

Predikat ini merupakan apresiasi bagi kerja keras Yongqing, yang menghabiskan waktu berjam-jam di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet untuk menangkap momen yang tepat.

Menurut Yongqing, rubah itu bersembunyi tanpa gerak sehingga bisa menangkap marmut yang lewat. Taktik itu sungguh jitu. Dalam foto Yongqing lainnya, kepala sang marmut sudah berada di dalam mulut rubah tersebut.

Roz Kidman Cox selaku ketua tim juri mengaku sangat terkesan.

"Foto-foto perilaku hewan dalam kompetisi WPY tiada duanya. Para fotografer top dunia di bidang perilaku hewan selalu masuk (kompetisi) dan saya harus katakan foto ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat," kata Cox kepada BBC News.

Selain Yongqing, dalam kategori 11-14 tahun terdapat Cruz Erdmann yang memenangi hadiah utama untuk fotografer yunior.

Foto karya remaja 14 tahun ini adalah cumi-cumi sirip besar yang diabadikan di Selat Lembeh, Sulawesi Utara, Indonesia, pada waktu malam.

Squid Hak atas foto Cruz Erdmann
Presentational white space

Mendapatkan foto sejernih itu perlu penguasaan teknik tinggi.

"Saya harus hati-hati tidak menaikkan pasir laut ketika menyelam. Jika ada banyak pasir, cahaya lampu tertutup. Saya tidak menendangkan kaki sehingga itu sebabnya foto tersebut tampak sangat jernih," kata Erdmann.

WPY adalah kompetisi foto alam paling bergengsi di dunia fotografi.

Dimulai sejak 1964, kompetisi tersebut kini diselenggarakan oleh Museum Sejarah Alam di London.

Bergeserlah ke bawah untuk melihat pemenang dari berbagai kategori

Presentational grey line

Ranah para elang oleh Audun Rikardsen, Norwegia

Land of the eagle by Audun Rikardsen Hak atas foto Audun Rikardsen
Presentational white space

Pemenang kategori perilaku unggas: Jepretan ini dihasilkan Audun setelah berjuang selama tiga tahun. Strateginya adalah menempatkan ranting pohon tua secara cermat, pada posisi elang emas akan mendarat. Kamera dan kilatan akan terpicu begitu burung itu mendarat.

Audun mengenang: "Mereka begitu terbiasa kilatan menyala sehingga tidak terganggu. Saya kira mereka suka diambil fotonya." Burung gagak juga menunjukkan perilaku serupa, namun bukan itu yang dicari fotografer asal Norwegia ini.

Presentational grey line

Berkerumun oleh Stefan Christmann, Jerman

The huddle by Stefan Christmann Hak atas foto Stefan Christmann
Presentational white space

Pemenang kategori penghargaan portfolio fotografer alam liar tahun ini. Paling tangguh dari yang tangguh. Lebih dari 5.000 penguin kaisar berkerumun dalam formasi klasik untuk menangkal angin musim dingin di Landasan Es Ekström, Antarktika Timur.

Mereka adalah penguin-penguin jantan yang mengerami telur di bawah kaki. Penguin-penguin betina telah pergi ke laut untuk mencari makan.

Presentational grey line

Kawanan tikus oleh Charlie Hamilton James, Inggris

The rat pack by Charlie Hamilton James Hak atas foto Charlie Hamilton-James
Presentational white space

Pemenang kategori alam liar perkotaan. Charlies sedang ditugaskan oleh National Geographic untuk mengambil foto tikus-tikus di seluruh dunia. Kawanan tikus ini ditemuka di Distrik Wall Street, Manhattan, New York.

Binatang-binatang pengerat itu hidup di bawah tutup besi yag mengelilingi akar sebuah pohon. Pada malam hari mereka menjelajahi tong-tong sampah di luar hotel untuk mencari makanan. Charlie menempatkan kameranya dan menekan tombol picu dari jarak beberapa meter.

"Mungkin ada 30 ekor tikus hidup di bawah. Mereka begitu terbiasa dengan kehadiran saya, dalam tiga hari salah satunya datang dan berdiri di kaki saya," kata Charlie.

Presentational grey line

Pasukan pembangun oleh Daniel Kronauer, AS

The architectural army by Daniel Kronauer Hak atas foto Daniel Kronauer
Presentational white space

Pemenang kategori perilaku invertebrata. Semut-semut prajurit di Kosta Rika tidak membangun sarang di dalam tanah atau pada sebuah pohon tua. Mereka membangunnya menggunakan tubuh mereka sendiri, bergelantungan dari ranting dalam rantai yang saling mengunci. Di dalam , ada lorong-lorong dan berbagai ruang, tempat mereka melindungi sang ratu dan membesarkan anak-anak.

"Hampir setiap hari mereka membongkar struktur ini; rontok begitu saja dan mereka membawa larva melintasi hutan, mendirikan sarang baru mungkin 150 meter dari sarang lama. Begitu indah. Saya pikir sarang ini tampak seperti mahkota atau sebuah katedral," papar Daniel.

Presentational grey line

Paparan salju oleh Max Waugh, AS

Snow exposure by Max Waugh Hak atas foto Max Waugh
Presentational white space

Pemenang kategori hitam dan putih. Kompetisi WPY tidak lengkap tanpa foto hitam-putih yang bagus. Foto ini memperlihatkan seekor bison di Taman Nasional Yellowstone.

Bison tersebut ingin menguburkan diri di dalam rumput dan tanah sehingga dia menggali sebuah lubang dengan cara menggoreskan wajahnya.

"Saya pernah di situasi seperti ini. Saya memainkan kamera dengan kecepatan shutter rendah. Saya pikir itulah bagian yang membuat foto itu menarik—saljunya tampak kabur. Saya menunggu sampai bison itu mengangkat kepalanya dan menekan tombol picu beberapa kali," jelas Max.

Presentational grey line

Penjelajah dataran salju oleh Shangzhen Fan, China

Snow-plateau nomads by Shangzhen Fan Hak atas foto Shangzhen Fan

Pemenang kategori hewan di lingkungannya.

Sekelompok chiru jantan terlihat melintasi dataran salju di Padang Pasir Kumukuli yang terletak di Taman Suaka Nasional Altun Shan.

Antelop-antelop ini hidup pada ketinggian 5.500 meter yang suhunya bsia mencapai -40C.

"Mereka suka menuju sebidang pasir karena di sanalah tempat paling hangat," kata Shangzhen.

Dia mengabadikan momen ini dari jarak satu kilometer. Pada deretan foto yang sama, dia melihat dua beruang bergerak melintasi daratan.

Presentational grey line

Jonathan.Amos-INTERNET@bbc.co.uk dan ikuti saya di Twitter @BBCAmos

Berita terkait