Bagaimana kolonialisme membentuk 'body shaming'

Saling bantu memakai baju Hak atas foto Getty Images
Image caption Menurut banyak kajian, fobia terhadap berat badan terkait erat dengan kolonialisme.

Jauh sebelum iklan pakaian memuja-muja tipe tubuh kurus, fobia terhadap berat badan sudah menjadi ciri dari pemikiran kolonial.

Kolonialisme bersandar pada berbagai ide untuk membenarkan dominasi mereka terhadap bangsa lain, dan salah satunya adalah mitos mengenai orang gemuk dan ras yang dipandang lebih rendah.

Sabrina Strings, asisten profesor bidang sosiologi di University of California, Irvine, dan penulis "Fearing the Black Body: The Racial Origins of Fat Phobia" mengatakan penulis, jurnalis dan komentator di masa kolonial mengidentikkan tubuh gemuk di daerah jajahan dengan keliaran, kemalasan dan kelemahan.

Ganjilnya, tubuh gemuk di masyarakat Barat dipandang dengan lebih ramah.

Montok dan cantik

Ketika Strings memulai penyelidikannya, ia membayangkan bahwa tubuh montok baru mulai tidak disukai di Eropa dan Amerika abad ke-20, sesudah mereka tak lagi memuja ikon Hollywood seperti Marilyn Monroe yang tergolong montok.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Marilyn Monroe, salah satu simbol seks paling terkenal abad ke-20th, digambarkan bertubuh montok

Namun Strings kaget menemukan bukti bahwa kesukaan terhadap tubuh kurus dimulai lebih awal lagi.

"Di awal abad ke-20, majalah seperti Cosmopolitan menyebutkan pentingnya bagi perempuan untuk memelihara apa yang mereka sebut sebagai kesederhanaan di meja," katanya kepada BBC.

Majalah itu mendorong perempuan untuk mengurangi makan "tak hanya karena itu mencerminkan diri seorang Anglo-Saxon Protestan yang baik, tapi juga karena itu bukti dari superioritas ras," katanya.

"Mereka tak ingin dianggap dianggap derajatnya sama dengan yang mereka sebut sebagai ras rendah."

Hasrat tak beradab

Menurut ahli sejarah Amerika, Christopher E. Forth, momen penting munculnya sikap anti tubuh gemuk muncul bahkan lebih awal, akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, saat keinginan bertubuh gemuk disamakan dengan hasrat dan kesenangan yang tak beradab.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penggambaran Barat akan bangsa-bangsa lain diiringi dengan tubuh yang gemuk.

Orang Eropa yang melawat ke Afrika Utara dan Barat menggambarkan bagaimana perempuan ditambah berat badannya menjelang pernikahan dan dipandang "seperti kalkun".

Orang Turki, Eskimo, penduduk asli Australia, Orang China dan India semua digambarkan sebagai gendut dengan berbagai cara yang menjelaskan tubuh mereka yang besar.

Ada ketakutan bahwa orang Eropa yang mengunjungi kawasan ini bisa ikut jadi gemuk.

Sementara itu, orang Eropa yang gemuk dipandang sebagai korban dari berbagai faktor di luar kendali mereka seperti cuaca atau keturunan atau kelainan seperti kurangnya olah raga.

'Seni menggemukkan berat badan'

Akar dari pandangan kecantikan yang rasis ini bahkan lebih tua lagi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penulis kolonial percaya bahwa di luar Eropa yang energetik, menjadi kurus hanya lah untuk orang miskin.

Orang Yunani dan Romawi Kuno menghargai tubuh laki-laki yang "padat" dan memandang bangsa lain sebagai: lembek, bengkak atau kemayu.

Ahli tanaman asal Venesia Prospero Alpini mencatat dalam perjalanan ke Mesir di abad ke-16, perempuan Mesir melakukan "seni menggemukkan berat badan" dengan cara mandi air hangat dan menyuntikkan tubuh dengan obat-obatan yang membuat mereka "lembek" dan "malas".

Yang mengganggu Alpini, menurut Forth, adalah "seni menggemukkan badan ini dipelihara karena hasrat para pria terhadap perempuan bertubuh seperti itu".

Namun secara umum, lemak berlebih tidak dikehendaki oleh masyarakat Eropa.

Dalam karya seni jaman Renaissance, tubuh berlekuk dikagumi dan banyak menjadi obyek lukisan yang menggambarkan perayaan terhadap kecantikan tubuh seperti itu.

Tanda kemakmuran

Ekspansi daerah jajahan Inggris dan Prancis telah memicu meningkatnya konsumsi global - juga ukuran lingkar pinggang.

Pria Inggris mendapat reputasi bertubuh gemuk dan turis asing yang datang ke Inggris berharap bisa "memata-matai pria Inggris gemuk legendaris yang menggumpal di jalan-jalan", kata Forth.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para penulis masa kolonial melihat tubuh berlekuk di daerah jajahan sebagai tanda kelemahan moral saat lingkar pinggang membesar pula di negara-negara penjajah.

Namun sejak 1850-an, stereotip citra diri di Prancis dan Inggris diwakili oleh pria dengan tubuh kurus dan berotot.

Pendangan umum masyarakat Eropa mengenai orang diri mereka sendiri adalah "paling rasional, paling mampu menahan diri, maka mereka makan tak terlalu banyak sehingga badan mereka langsing," kata Strings.

"Kemudian orang Afrika digambarkan rasnya lebih rendah. Mereka juga sensual, senang seks, gemar makan, maka mereka gendut".

'Dua gumpalan agar-agar'

"Pada masa perdagangan budak dan munculnya sains yang mendukung rasisme mulailah muncul anggapan bahwa secara sosial orang non-Barat berbeda dalam hal kelas sosial dan aspek-aspek fisik dan temperamen," kata Strings.

Bangsa Barat lalu mulai melihat ras lain sebagai bahan kajian, memandang mereka sebagai bahan hiburan - bahkan olok-olok.

Salah satu contoh paling terkenal adalah menghina tubuh "ras Hottentot" - orang Khoikhoi dari bagian selatan Afrika - yang dikatakan memuja pantat kaum perempuan mereka.

Menurut salah satu catatan masa itu, "ketika kaum perempuan suku itu berjalan, penampilannya sangatlah konyol. Setiap gerakan diiringi dengan bergetarnya dua gumpalan agar-agar di bagian belakang tubuh mereka."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sarah Baartman adalah perempuan suku Hottentot dari Afrika Selatan yang ditampilkan di parade "freak shows" di London dan Paris di akhir abad ke-18.

Sarah Baartman, yang dijuluki "Venus dari Hottentot", menjadi terkenal di akhir abad ke-18.

Ia ditipu dengan alasan palsu oleh seorang dokter Inggris agar mau dibawa ke Eropa dan ditampilkan dalam parade "pertunjukan aneh" (freak show) di London dan Paris.

Penonton diundang menyaksikan dan menyentuh pantatnya.

Sarah meninggal tahun 1815 dan otak serta tulang belulangnya dipajang di sebuah museum di Paris sampai tahun 1974, sebagai peninggalan penjajahan dan rasisme orang Eropa.

'Tergantung yang melihat'

Strings percaya tubuh gemuk "tidak dipuja atau dikutuk secara universal" dan pemaknaannya "tergantung dari ras yang memilikinya".

Namun bukan hanya ras yang menentukan penilaian terhadap berat tubuh, tapi juga agama dan kelas sosial.

Contohnya, ada pandangan bahwa orang Protestan cenderung menahan diri waktu makan.

Demikian pula anggapan bahwa kelas atas bisa bertubuh langsing karena kemewahan sehingga mereka tak harus tergantung pada makanan dengan pati tinggi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pria Inggris gemuk yang "menggumpal di sepanjang jalan" menghidupkan fantasi turis asing, kata Forth.

Seiring waktu, tubuh gemuk dipandang identik dengan kulit hitam dan sifat liar, sementara tubuh langsing menjadi lebih dikehendaki oleh para perempuan Anglo-Saxon.

Penghinaan terhadap berat tubuh memang terjadi sebelumnya, tetapi kolonialisme mengukuhkan ide tentang estetika fisik dan keunggulan ras.

Rasa bersalah karena gemuk

Gagasan jaman kolonial ini memang tak terlalu dipegang sekarang, tetapi jelas berbekas, kata Strings. Perempuan kulit hitam, menurut Strings, lebih sering diejek bentuk tubuhnya secara tidak proporsional.

Di Amerika Serikat, banyak orang tak mau ke dokter karena mereka merasa diabaikan dan percaya bahwa masalah kesehatan akan dilihat sebagai akibat dari persoalan berat tubuh mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Serena Williams yang merupakan salah satu petenis paling sukses di dunia tetap saja mengalami "body shaming".

Bahkan Serena Williams - salah satu petenis paling sukses dalam sejarah - ikut kena body shaming dan bicara soal ini.

Ia berkata soal berat tubuhnya, "Berat badan saya bisa saja berkurang 9 kilogram, tapi dada dan pantat saya akan tetap sama. Memang begitu adanya."

Kekhawatiran dampak obesitas terhadap kesehatan memang wajar. Namun Strings mengkritik penggunaan indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) sebagai ukuran berat badan karena akan memberi stigma pada orang gemuk.

String percaya masalah sebenarnya - termasuk di antaranya ketersediaan makanan bergizi - tetap belum disentuh.

"Kita terlalu sering menyalahkan pilihan makan orang lain ketimbang berkampanye soal ketersediaan makanan bergizi dan air bersih," katanya.

Berita terkait