Ilmuwan India temukan alat sensor murah untuk mendeteksi longsor

Longsor di Puthumala deka Meppadi, distrik Wayanad di Kerala, India, 14 August 2019 Hak atas foto Reuters
Image caption Longsor kerap terjadi di India, terutama di pegunungan, disebabakan oleh hujan deras.

Longsor kerap terjadi di kawasan pedesaan dan pegunungan di India, terutama sesudah hujan deras. Para ilmuwan menyatakan mereka telah mengembangkan teknologi murah untuk mendeteksi longsor dengan menggunakan sensor gerak yang lazim ada di telepon pintar.

Alat ini kini diuji coba di 20 lokasi di Himchal Pradesh, negara bagian yang dekat pegunungan Himalaya. Di kawasan itu longsor memakan puluhan korban jiwa setiap tahun.

Para ilmuwan berharap alat ini akan mengurangi secara drastis jumlah korban jiwa dan kerusakan akibat bencana longsor.

Alat ini menggunakan akselerometer, sejenis sensor gerak yang mengukur perubahan kecepatan. Pada telepon pintar, fungsi ini memungkinkan seseorang menggunakan aplikasi kompas dan peta ketika membolak-balik layar secara horisontal maupun vertikal.

Ilmuwan dari Indian Institute of Technology (IIT) di distrik Mandi, Himachal Pradesh, memodifikasi sensor ini untuk menjadi alat pendeteksi longsor.

Kepada Shubham Kishore dari BBC Click, mereka menyatakan biaya yang dihabiskan untuk memproduksi alat itu sekitar 20.000 rupees (sekitar Rp4juta). Angka itu sangat kecil dibandingkan biaya produksi teknologi yang ada sekarang.

Pihak berwenang menyatakan longsor sering terjadi di Himachal Pradesh karena kontur tanah berbukit dan tidak stabilnya pegunungan Himalaya, yang tergolong pegunungan muda usia.

Kondisi itu diperburuk dengan curah hujan berlebih, maraknya pembalakan hutan dan pembangunan tak berizin.

Hak atas foto IIT Mandi
Image caption Salah satu alat ini sedang dipasang untuk uji coba di kawasan pegunungan.

Kementerian Lingkungan dan Kehutanan India menyatakan dalam sebuah laporan bahwa korban longsor mengalami peningkatan karena "meningkatnya jaringan jalan dan jumlah kendaraan yang melintas, yang berarti banyaknya kecelakaan di jalan".

Hal ini terjadi karena longsor biasanya menimpa jalanan dan menghancurkan rumah - yang umumnya terbuat dari tanah liat.

Peringatan dini

Dr. Varun Dutt, seorang insinyur komputer, dan rekannya, Dr. KV Uday, seorang insinyur sipil, memimpin tim untuk mengembangkan teknologi ini. Para peneliti ini menyatakan mereka menggunakan sensor gerak untuk mengukur pergerakan permukaan tanah.

"Kami menanam alat itu di tanah, dan akselerometer akan bergerak ketika permukaan tanah bergerak. Pada dasarnya tanah bergerak jika ada gaya yang melandanya".

"Yang dilakukan sensor adalah membuat kami bisa merekam tingkat pergerakan tanah. Alat ini memberi data yang memungkinkan kami untuk melacak perpindahan kecil di tanah yang menyebabkan longsor," kata Dr. Dutt kepada Ayeshea Perera dari BBC.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pada saat musim hujan deras terjadi, longsor bisa memakan korban jiwa dalam jumlah besar seperti misalnya di Kerala pada bulan Agustus tahun ini.

Dutt mengatakan, serangkaian pergerakan kecil di tanah bisa membantu menyediakan peringatan dini untuk potensi bencana lebih besar yang mungkin terjadi.

Karena peringatan dini dari pergerakan kecil ini, mendeteksi longsor lebih mudah dilakukan daripada mendeteksi gempa bumi - yang terjadi dengan spontan dan nyaris tak menyediakan waktu untuk memberi peringatan.

Alat ini mendeteksi gerakan-gerakan dan ketika mendeteksi perpindahan besar tanah yang menimbulkan longsor, alat ini akan mengeluarkan suara keras dan mengirim pesan teks kepada pihak berwenang. Dari sini mereka bisa segera mengevakuasi dan menghentikan pergerakan kendaraan di sekitar wilayah tersebut.

Alat ini sudah memperlihatkan kesuksesan.

Di Kutropi, alat ini sukses memberi peringatan longsor. Dalam suatu peristiwa, polisi segera memerintahkan kendaraan yang lewat untuk berputar arah dari jalan yang kemudian terlanda longsor.

Kepada BBC, Dr. Uday berkata, mereka juga memperingatkan pihak berwenang untuk mengawasi daerah Deode setelah alat ini menemukan pergerakan tanah yang mengindikasikan tingginya risiko longsor.

Menurut Dr. Dutt, para pejabat menyambut baik teknologi ini.

"Kami diundang untuk mempresentasikannya di lokakarya yang diselenggarakan oleh pemerintah negara bagian yang bekerjasama dengan National Disaster Management Authority (NDMA) tahun ini".

Hak atas foto AFP
Image caption Alat baru ini mampu bereaksi terhadap perpindahan tanah yang bisa digunakan untuk memprediksi terjadinya longsor.

"Kami memperlihatkan teknologi ini dan banyak yang meminta supaya kami mengkomersialisasinya. Kami sedang dalam proses untuk menjualnya dan memasangnya".

Teknologi prediksi

Alat ini juga memenangkan penghargaan inovasi dari pemerintah.

Alat ini berhasil menyediakan cukup waktu bagi pihak berwenang untuk memperingatkan penduduk dan pengemudi sesaat sebelum longsor terjadi.

Namun Dr. Dutt dan Dr. Uday ingin teknologi ini bisa lebih memprediksi ketimbang bereaksi.

Mereka mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan mesin pembelajar untuk menganalisa serangkaian data yang didapat dari alat ini. Mereka berharap bisa mengembangkan logaritma yang bisa memprediksi longsor 24 jam, atau bahkan seminggu sebelum terjadi.

Saat ini logaritma itu sedang disempurnakan dan uji coba diharapkan bisa dilakukan pada musim hujan 2020.

"Kami bersemangat, tapi ingin alat ini bisa akurat. Kekeliruan prediksi harus terus dikurangi".

Topik terkait