'Berpasangan dengan diri sendiri', bagaimana melajang makin dianggap pilihan bijak

Emma Watson Hak atas foto Getty Images
Image caption Emma Watson menyatakan kebanggaannya berstatus sebagai lajang saat diwawancarai majalah Vogue.

Saat bintang film Emma Watson menyatakan dirinya menjalani status lajang tanpa segan dan perasaan bersalah, publik mendengar dan menerima keputusannya.

Aktris berusia 29 tahun yang berperan dalam film Harry Potter itu berkata tengah kini berpasangan dengan dirinya sendiri atau "self-partnered". Perrnyataan tersebut ia utarakan kepada majalah Vogue.

Banyak unggahan di media sosial menertawakan istilah yang digunakan Watson. Sejumlah pengguna Twitter menganggap terminologi itu sebagai lelucon.

Namun sebagian warganet justru bersikap suportif dan menyanjung penilaian Watson terhadap status sosial yang kerap dianggap sebelah mata itu.

Watson memicu perbincangan di Twitter dengan istilah baru yang ia sebutkan itu. Tapi aktris asal Inggris ini sebenarnya tengah menyokong gerakan yang makin besar dalam beberapa tahun terakhir: melajang secara positif.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah rumah tangga tunggal di dunia terus meningkat sejak tahun 2001.

Ruang untuk satu orang

Melajang kini semakin menjadi pilihan banyak orang di dunia.

Sebuah kajian yang dilakukan firma penelitian bisnis dan konsumen berbasis di Inggris, IORMA, menunjukkan, rumah tangga tunggal atau hunian yang ditinggali seorang lajang di seluruh dunia mencapai angka 330 juta pada tahun 2016.

Jumlah itu setara dengan 16% rumah tangga secara global atau meningkat 50% dibandingkan tahun 2001.

Walau tren ini tidak serta merta dapat terjawab dengan munculnya fenomena 'berpasangan dengan diri sendiri', kecenderungan itu tetap saja berpengaruh.

Elyakim Kislev, asisten profesor di Hebrew University di Jerusalem, menilai melajang menjadi tren akibat faktor ekonomi, budaya, dan hubungan sosial antarmasyarakat.

Kislev merupakan penulis buku berjudul The Rising Acceptance and Celebration of Solo Living yang terbit tahun 2018. Buku itu menelisik fenomena melajang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Akademisi menghubungkan kenaikan jumlah lajang dengan semakin besarnya hak perempuan.

"Pada dasarnya, kita saat ini memiliki sumber daya lebih besar untuk mencari peluang dan mengalami mobilitas ekonomi. Kita juga tidak ingin terikat pada suatu hal," ujar Kislev kepada BBC.

"Kita pun lebih mendambakan privasi dan waktu untuk mengembangkan diri. Kita tak mengincar stabilitas dan 'hidup nyaman di daerah suburban' lagi," tuturnya.

Akademisi asal Israel itu, berserta sejumlah sejawatnya, juga mengidentifikasi hubungan kuat antara pilihan melajang dan posisi perempuan yang makin kuat di masyarakat.

"Perempuan adalah orang-orang yang diyakinkan untuk menikah atau hancur jika tidak melakukannya," kata Bella DePaulo, psikologis isu sosial di University of California.

DePaulo juga menulis buku seri tentang kehidupan melajang dan perubahan pandangan terhadap rumah tangga.

"Kita berfantasi tentang membangun sarang yang dapat kita bagi bersama pasangan dan anak, tanpa tahu hal yang akan terjadi sebaliknya," ujar DePaulo.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lebih banyak perempuan di dunia yang memutuskan untuk tidak menikah, menurut data PBB.

Institusi pernikahan terancam?

DePaulo merujuk pada hasil survei tahun 2018 yang dilakukan perusahaan comblang digital, Match. Jajak pendapat itu menemukan bahwa hanya 20% perempuan yang kini menjadi pernikahan sebagai prioritas utama.

Menikah adalah pilihan terakhir setelah opsi melajang, membangun karier, dan keamanan finansial.

Angka pernikahan, pada faktanya, terus menurun di seluruh dunia. Di antara para perempuan dalam usia produktif (15-49 tahun) pada 1970, 31% di antaranya tidak menikah atau berpasangan.

Tahun 2010, persentase itu meningkat menjadi 36% dan diperkirakan akan mencapai angka 40% pada 2030.

Di tingkat negara, penurunan itu bahkan lebih tajam. Badan Sensus Nasional Amerika Serikat melaporkan, tahun 2017 terdapat 110 juta orang yang tidak menikah di negara itu. Jumlah itu setara 45% warga AS yang berusia di atas 18 tahun.

Tabu

Meski tren ini terjadi secara global, pilihan untuk 'berpasangan dengan diri sendiri' tidak terdistribusi rata ke setiap negara.

Divisi Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut persentase rumah tangga tunggal di Eropa berada di atas 30%, sedangkan di Afrika bisa mencapai 3% saja.

"Melajang masih dianggap tabu di beberapa negara, termasuk di negara maju," kata Elyakim Kislev.

"Di banyak negara, tidak menikah atau tidak berpasangan dianggap kegagalan sosial. Stereotip negatif atas seorang lajang masih berlaku di banyak negara," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption 'Banyak orang masih menilai melajang adalah sinyal bahwa 'Anda ketinggalan kereta'," kata Elyakim Kislev.

Melawan prasangka

Itulah alasan mengapa Elyakim yakin bahwa sosok seperti Emma Watson penting untuk mengubah prasangka publik tentang seorang lajang.

"Pernyataan Emma Watson bukan hal baru tapi tentu menggarisbawahi kemungkinan publik untuk menghargai lajang sebagai pilihan status," kata Elyakim.

"Banyak orang masih menilai melajang adalah pemberhentian sebelum berpasangan atau sinyal bahwa 'Anda ketinggalan kereta'."

"Emma Watson memperkenalkan tahapan lain dalam kehidupan dan menunjukkan kepada publik, terutama perempuan yang lebih ditekan untuk menikah ketimbang laki-laki, bahwa melajang juga berarti sukses dan pintar," tutur Elyakim.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ironisnya, Hari Lajang Nasional di China kini menjadi momen favorit masyarakat untuk menikah.

Para akademisi yang mempelajari fenomena 'berpasangan dengan diri sendiri' juga menyebut bahwa peningkatan jumlah lajang kini mempengaruhi kebijakan publik, dari isu perumahan hingga pendidikan.

Lebih dari itu, melajang juga kerap bias dalam konteks demografi usia. Status itu juga kerap dikaitkan kepada populasi muda, termasuk milenial.

Di China misalnya, di mana orang-orang berusia 20-24 tahun memegang porsi lajang terbanyak, sekitar 200 juta orang.

China adalah negara yang merayakan 'Hari Lajang' atau hari libur untuk berbelanja dalam rangka merayakan kebanggan diri menjadi lajang.

Hari nasional itu kini merupakan momen berbelanja terbesar di dunia, baik secara daring maupun konvensional.

Topik terkait

Berita terkait