Kisah perempuan yang dipotong tangannya dan perlawanan terhadap KDRT di Rusia

  • Lucy Ash
  • BBC News
Margarita Gracheva with her prosthetic hand

Sumber gambar, Margarita Gracheva

Suatu pagi tanggal 11 Desember 2017 Margarita Gracheva ditawari suaminya, Dmitri, tumpangan ke kantor. Di tengah jalan si suami berbelok ke hutan, lalu memarkir mobil dan menarik Margarita keluar mobil.

Si suami lalu mengambil kampak dari bagasi dan memotong kedua tangan Margarita.

Setelah itu si suami meninggalkan Margarita di ruang gawat darurat Rumah Sakit di Serpukhov, selatan Moskow, lantas pergi ke kantor polisi untuk mengakui kejahatannya.

Pasangan ini bertemu ketika mereka bersekolah dan mulai pacaran saat selesai kuliah. Awalnya mereka bahagia, sekalipun Dmitri mudah marah karena hal-hal kecil.

Beberapa kali ia mengancam membunuh Margarita seandainya sang istri tak setia.

Sumber gambar, Margarita Gracheva

Keterangan gambar,

Foto Margarita, Dmitri dan dua anak mereka saat mereka masih bersama.

Hubungan mereka memburuk ketika Margarita mulai bekerja di bagian iklan di koran Serpukhov. Dmitri seorang sarjana tapi ia bekerja sebagai supir forklif. Ia iri terhadap pekerjaan istinya dan cemburu pada rekan kerja sang istri.

Di rumah, pelan-pelan ia jadi dingin dan menjaga jarak.

Sudah berkali-kali mencoba membunuh

Margarita mengusulkan mereka berpisah saja, tapi Dmitri mengabaikan usul itu.

Sampai akhirnya Margarita membawa surat cerai, dan Dmitri meledak. Satu malam ia menyerang Margarita, menyebabkan memar-memar di badan sang istri.

Ketika Dmitri mengancam dengan pisau, Margarita memutuskan mengadu ke polisi.

"Saya membuat pengaduan dan petugas bilang mereka akan memberi kabar dalam 20 hari," kata Margarita.

"Saya marah dan bilang ke mereka: saat itu mungkin ia sudah 20 kali mencoba membunuh saya".

Petugas bilang perempuan sering membuat aduan dan kemudian menariknya lagi, sehingga kepolisian kewalahan.

Lima hari sesudah kasus aduan itu dicabut karena kurang bukti, Dmitri memenggal tangan Margarita.

Potongan tangan berhasil diambil dari hutan dan dijahitkan kembali ke Margarita dalam operasi yang berlangsung sembilan jam. Sebuah penggalangan dana daring berhasil mengumpulkan enam juta rubel (sekitar Rp1,3 milyar) untuk tangan palsu yang dibuat di Jerman.

Margarita menerbitkan buku tentang pemulihannya, berjudul Happy Without Hands, Bahagia tanpa Tangan, tapi ia kini sangat menghindari publikasi.

Sumber gambar, Margarita Gracheva

Keterangan gambar,

Margarita Gracheva saat di rumah sakit.

"Ironisnya, agar dia bisa dapat hukuman berat, saya butuh bantuan media," kata Margarita.

Gunung es KDRT di Rusia

Pengacaranya mengatakan, jika Margarita tidak tampil di TV, suaminya mungkin dihukum ringan tiga sampai lima tahun. Tekanan publik penting untuk kasus ini. Margarita akhirnya ikut nasehat pengacaranya, dan Dmitri akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.

Kisah Margarita ini bagai puncak gunung es dari KDRT di Rusia. Perkiraan konservatif menyebut ratusan perempuan meninggal setiap tahun akibat KDRT di Rusia.

Para pegiat beranggapan persoalan KDRT memasuki fase krisis di Rusia, dan dua peristiwa penting belakangan ini menimbulkan gelombang protes di banyak kota di sana.

Pertama adalah UU tahun 2017 yang menurunkan derajat KDRT dari 'perbuatan kriminal' ke 'perilaku buruk' bagi pelaku KDRT pertama kali, sepanjang korbannya tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Kedua adalah potensi hukuman penjara jangka panjang terhadap tiga bersaudari yang membunuh ayah mereka bulan Juli 2018 disebabkan sang ayah telah melakukan KDRT terhadap mereka.

Sang ayah, Mikhail Khachaturyan mengusir istirnya dengan todongan senjata tahun 2015, lalu ia melakukan kekerasan terhadap ketiga anak perempuannya.

Sang ibu Aurelia Dunduk, bercerita: "Ia menyiksa mereka setiap malam, mereka tak bisa tidur".

"Ia punya bel dan mereka harus datang saat dipanggil dengan bel itu, untuk melakukan apa saja yang ia suka. Anak-anak ini sangat menderita."

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Krestina dan Angelina Khachaturyan di pengadilan.

Maka suatu malam saat Khachaturyan tidur di kursi di rumahnya, putri tertuanya, Krestina, 19 tahun, menyemprot sang ayah dengan semprotan merica. Lalu adiknya Maria, 17 tahun, menikam dengan pisau berburu, dan adiknya yang satu lagi, Angelina menghantam kepala sang ayah dengan martil.

"Mereka membela diri, mereka tak punya pilihan," kata si ibu.

Desakan publik membuat mereka dibebaskan dari tahanan sementara menunggu sidang pengadilan. Petisi dibuat untuk meminta pembebasan mereka, dan sudah mencapai 300.000 tanda tangan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Protes di Moskow agar melawan KDRT.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Demonstrasi di St. Petersburg dengan poster "Tubuhku bukan medan pertempuran".

Sangat sedikit politisi yang berupaya melawan KDRT, salah satunya adalah Oksana Pushkina. Ia anggota partai Vladimir Putin, United Russia, tapi kemudian menjadi pemberontak karena tak tahan terhadap KDRT.

Sekarang ia berkampanye agar UU tahun 2017 dicabut, dan Rusia punya undang-undang khusus untuk menangani KDRT.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Oksana Pushkina

"Mengacu ke UU 2017, seakan-akan laki-laki Rusia diperbolehkan memukuli anggota keluarganya," katanya di kantornya di parlemen Rusia. "Ini adalah hukum yang sangat buruk".

Usulan-usulan dia termasuk: perintah pengadilan agar pelaku KDRT tak boleh mendekati korban mereka (aturan ini tak pernah ada di Rusia), tindakan-tindakan anti pelecehan seksual dan langkah untuk mempromosikan kesetaraan gender.

Untuk itu menghadapi tantangan keras dan setiap hari menerima surat berisi ujaran kebencian.

Lebih dari 180 gereja Ortodoks Rusia dan asosiasi keluarga membuat surat terbuka kepada Vladimir Putin memintanya memblokir undang-undang KDRT usulan Oksana.

Bahkan perempuan anggota parlemen lain ikut menentang Oksana.

Elena Mizulina menyatakan kepada stasiun TV Rusia bahwa KDRT "bukan persoalan utama keluarga dibandingkan dengan perempuan yang bersikap kasar dan tiadanya penghormatan perempuan terhadap laki-laki".

Ditambahkannya: "Kami perempuan ini makhluk lemah, dan tak akan tersinggung seandainya dipukul."

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Elena Mizulina

Elena Kalinina, seorang karyawan biro iklan, ingat bagaimana ibunya menasehatinya agar selalu patuh pada permintaan suami. "Kami punya kata mutiara, 'Kalau suamimu memukulmu, itu tanda dia cinta,'" katanya. "Ini logika ngawur, tapi masih bagian dari mentalitas kami."

Tahun ini, Elena dan timnya mengembangkan gim komputer tentang pasangan bernama Nastya dan Kirill yang punya hubungan tidak sehat alias toxic relationship.

Sumber gambar, Project 911

Keterangan gambar,

Nastya dan Kirill, karakter di gim komputer dengan tema hubungan beracun yang bisa berakhir di KDRT dan pembunuhan.

Si lelaki Kirill, memaki-maki Nastya setiap kali salah menyediakan makanan. Para pemain gim ini harus memilih seperti apa reaksi Nastya.

Gagasan di balik gim ini adalah menempatkan diri sebagai korban KDRT dan melihat bahwa pilihan bagi para perempuan korban KDRT di Rusia sangat terbatas.

Gim ini dibuat berdasar kisah nyata, yang berakhir dengan terbunuhnya si perempuan dalam hubungan beracun itu.

Inovasi lain adalah No To Violence yang dibuat pengacara Anna Rivina. Ini adalah sebuah situs untuk memberi informasi kepada korban kemana bantuan bisa dicari.

Mereka menggunakan kampanye media sosial untuk menjangkau perempuan di seluruh negeri. Termasuk menggunakan para laki-laki terkenal Rusia untuk menyatakan memukul perempuan itu sama sekali tidak keren.

Sumber gambar, Nasiliu.net

Keterangan gambar,

Musisi Vasya Oblomov membawa poster bertuliskan, "Dilarang memukul perempuan!"

"Kami bekerja dengan banyak pesohor, karena orang masih malu bicara soal KDRT," kata Anna.

Mereka pun menggunakan duta seperti aktis Irina Gorbacheva dan penyiar TV Ksenia Sobchak agar orang lebih mau terbuka soal KDRT yang mereka alami.

Polisi seringkali menjadi bagian dari masalah, seperti kisah Alyona yang dituturkan oleh ibunya, Anna Verba, kepada saya.

Alyona, 28 tahun adalah seorang ibu dan manajer di sebuah perusahaan. Ia dibunuh tahun lalu oleh suaminya, Sergei Gustyatnikov. Malam 5 Januari Sergei menunggu sampai anak mereka satu-satunya tertidur, lalu ia menikam Alyona 57 kali.

Sesudah itu ia berangkat subuh-subuh menjalankan pekerjaan sebagai kapten polisi.

Keterangan gambar,

Anna Verba

"Peristiwanya terjadi di kamar," kata Anna menceritakan pembunuhan itu kepada saya. "Kami harus membuang sofa yang lama karena bersimbah darah. Dinding juga penuh cipratan darah."

Anak Alyona, Nikita, menemukan mayat sang ibu ketika di pagi harinya ia masuk kamar sang ibu.

"Setelah lihat foto otopsi, saya lihat pembunuhan itu sangat mengerikan," kata Anna. "Tapi yang saya tak mengerti adalah bagaimana cucu saya, Nikita, melihat jenazah ibunya. Kata Nikita, ia bisa melihat mata si ibu terbuka.. Nikita memanggil-manggil, dan sempat menyangka ibunya berkedip"

Kata Anna sambil menangis: "Nikita lalu lari ke kamarnya sendiri dan duduk di tempat tidur bersama anjing peliharaan mereka".

"Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia menelepon ayahnya, karena sang ayah memang seorang polisi."

"Bayangkan kejamnya. Tak cukup hanya membunuh istrinya dengan kejam, ia juga membiarkan anak satu-satunya menemukan mayat si ibu!"

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Kata mutiara kuno dibawa pemrotes 'Kalau suamimu memukulmu, itu tanda dia cinta' sementara di bawahnya tulisan berwarna merah mengingatkan bahwa 143 negara punya hukum untuk melawan KDRT.

Sergei dipenjara sembilan tahun. Hukuman ini diperingan karena ia punya tanggungan di bawah umur dan bekerja sebagai polisi.

Anna marah dengan putusan itu: "Dia yang bikin anaknya kehilangan ibu, dan itu yang jadi alasan hukumannya dikurangi. Gila!" katanya.

Sergei Gustyatnikov sedang dipenjara, tetapi hak asuh anaknya tidak pernah dicabut, dan saat bebas ia bisa menuntut untuk mengasuh Nikita.

"Nikita sangat takut akan hal itu. Dia bilang ke saya: ke mana kita sembunyi kalau dia keluar dari penjara? Nek, apa yang harus kita lakukan?'" kata Anna.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Proets di taman Moskow membawa papan bertuliskan hukuman untuk memukul istri adalah denda 5.000 roubles (Rp1 juta).

"Sebagai ibu yang anaknya dibunuh, saya menuntut agar hukum diubah," kata Anna.

"Sesudah anak saya, masih banyak korban jatuh. Itu karena para pelaku tidak dihukum".