Pertunjukan seni telanjang picu perdebatan sengit di Kirgistan

Head and shoulders of naked woman Hak atas foto 24.kg

Sebuah pameran seni yang melibatkan perempuan telanjang di ibukota Kirgistan, Bishkek, telah memicu kontroversi yang mengakibatkan direktur tempat pameran itu digelar kehilangan pekerjaannya.

Kementerian Kebudayaan mengutuk acara tersebut karena menggunakan "bahasa provokasi" dan "mengacaukan pengunjung", menurut kantor berita Kirgistan, 24.k.g.

Menteri Kebudayaan, Azamat Jamankulov, mengatakan komisi khusus akan memeriksa apa yang dia sebut "pameran memalukan", yang dia gambarkan sebagai "kampanye perempuan telanjang di bawah bendera feminisme".

Jamankulov mengatakan direktur dari tempat pameran digelar, Museum Nasional Seni Rupa, telah dibebastugaskan dari pameran itu.

Namun, Direktur Museum Nasional Seni Rupa Kirgistan, Mira Dzhangaracheva mengungkap "kebenaran" dibalik pengunduran dirinya di Facebook. Dia berhenti secara sukarela, tulisnya, setelah "reaksi agresif dari pasukan patriotik nasional".

Dia juga mengaku dirinya dan staf museum menerima ancaman.

"Sayang sekali hal ini diprakarsai oleh orang-orang yang belum pernah ke museum," tulisnya.

'Pertarungan yang tidak konvensional'

Berbicara kepada para wartawan setelah pengunduran dirinya, Mira Dzhangaracheva menjelaskan bahwa pameran ini bertepatan dengan kampanye internasional tahunan melawan kekerasan berbasis gender "untuk menunjukkan apa yang terjadi di negara kita hari ini".

Pameran yang melibatkan karya 56 seniman dari 22 negara, dijadwalkan berlangsung selama 17 hari.

Penyelenggara mendedikasikan pameran ini untuk 17 perempuan yang meninggal dalam kebakaran gudang di Moskow pada 2016, kebanyakan dari mereka adalah migran Kirgistan.

Hak atas foto 24.kg
Image caption Pameran ini menyebabkan perdebatan sengit di media sosial

Penyelenggara mengatakan bahwa even ini bertujuan untuk menunjukkan penyakit sosial yang menghalangi kesetaraan gender dan kehidupan tanpa kekerasan.

"Ini adalah kekerasan terhadap perempuan. Ini menyakitkan. Ini menakutkan. Seniman dari seluruh dunia menyampaikan perasaan mereka, namun itu dilarang," ujar penyelenggara Altyn Kapaloba.

"Seperti biasanya mereka berusaha membungkam kami tapi itu tidak akan berhasil. Seni tidak disensor."

Pengunjung pameran dihadapkan dengan tubuh perempuan yang dipamerkan sebagai karung tinju, karya lain yang dipamerkan juga menyoroti aktivitas yang membentuk kehidupan sehari-hari perempuan Kirgistan di pedesaan, tempat ribuan perempuan muda diculik untuk dinikahkan setiap tahun.

Namun, seni pertunjukan telanjang oleh seniman Denmark Julie Savery, yang dimaksudkan untuk menyoroti penderitaan pekerja seks, yang menyebabkan perdebatan sengit di antara para pembela nilai-nilai tradisional di negara mayoritas Muslim itu.

Hak atas foto 24.kg
Image caption Karya seni seniman Denmark, Julie Savery menuai kontroversi.

'Propaganda pornografi'

Anggota parlemen Makhabat Mavlyanova menyatakan di Facebook bahwa staf museum yang mengizinkan pameran ini berlangsung "tidak memiliki moral"

"Perempuan Kirgistan harus mendapatkan pendidikan tradisional," tulisnya.

"Orang-orang Kirgistan telah kehilangan identitas etnis mereka selama 30 tahun terakhir, memanfaatkan globalisasi untuk menjustifikasi acara semacam ini."

Yang lainnya, seperti aktivis Aybek Busurmankulov, menyerukan pencegahan insiden semacam itu di masa depan.

"Mereka memiliki slogan tentang pernikahan gay di pameran. Kami percaya bahwa slogan-slogan ini anti-konstitusional. Kita harus memastikan apakah anak di bawah umur memasuki museum ketika seorang perempuan telanjang menampilkan pertunjukan. Jika anak di bawah umur masuk ke gedung maka itu akan dianggap sebagai propaganda pornografi," ujar Busurmankulov.

Hak atas foto 24.kg
Image caption Beberapa pameran berusaha menyoroti kehidupan para perempuan muda di pedesaan

Seorang perempuan bertanya di Facebook: "Apa hubungan antara hak perempuan dengan telanjang di ruang pameran?"

"Ini tentang stigmatisasi pekerja seks," jawab seorang perempuan lain.

"Mereka tidak dilihat sebagai orang, sebagai anggota masyarakat, tetapi hanya sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan fisiologis."

Anggota parlemen Elvira Surabaldieva menawarkan dukungannya: "Kepada kalian semua, akar gender yang terhormat, terima kasih banyak atas perjuangan Anda yang sudah berlangsung lama untuk hak-hak perempuan di Kirgistan."

Sementara itu, mantan presiden Kirgistan, Rosa Otunbaeva mengutuk pemecatan Mira Dzhangaracheva.

"Hentikan, tuan-tuan!," katanya.

"Kamu mungkin memiliki kekuatan administratif, tetapi ada juga suara publik dan solidaritas perempuan: pameran ini didedikasikan untuk perang melawan kekerasan terhadap perempuan. Apa yang telah kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?"

Laporan oleh Mutalib Khalikov dan Krassi Twigg

Berita terkait