Anak mata-mata Rusia "lega" dirinya menjadi warga negara Kanada

Alexander Vavilov holds a Canadian passport Hak atas foto Reuters
Image caption Alexander Vavilov mengatakan dirinya "merasa sebagai warga Kanada"

Putra sepasang mata-mata Rusia mengungkapkan kelegaannya setelah pengadilan memutuskan untuk mengizinkannya tetap berwarga negara Kanada.

Sebelumnya, kewarganegaraan Alexander Vavilov dicabut setelah kedua orang tuanya, yang bekerja untuk badan intelijen luar negeri Rusia, ditangkap tahun 2010.

Ia sendiri memang lahir di Kanada, dan hingga penangkapan orang tuanya - yang ia tahu - ibu dan ayahnya juga orang Kanada.

Ini adalah pertama kalinya Alexander berbicara di depan umum setelah Mahkamah Agung Kanada menyatakan bahwa status kewarganegaraannya sah.

"Saya adalah saya - apapun yang Anda ketahui tentang asal usul Anda, saya rasa tidak menentukan siapa diri Anda sebagai seorang individu," kata Alexander kepada awak media di Toronto, Jumat (20/12).

Ia mengatakan bahwa kemenangannya di persidangan merupakan sebuah pengakuan bahwa ia bukan saja merasa seperti orang Kanada, tetapi bahwa ia memang warga Kanada di mata hukum.

Siapa Alexander Vavilov?

Alexander Vavilov lahir dengan nama Alexander Foley di Toronto pada 3 Juni 1994. Orang tuanya - saat itu - bernama Lee Ann Foley dan Donald Howard Heathfield.

Nama mereka sebenarnya adalah Elena Vavilova dan Andrey Bezrukov, di mana keduanya pindah ke Kanada dengan menggunakan identitas palsu untuk menciptakan "penyamaran" yang memungkinkan mereka untuk bepergian ke seluruh dunia dan bekerja sebagai mata-mata bagi KGB, badan intelijen Rusia.

Di Kanada, mereka tampak seperti keluarga normal yang bahagia. Kakak laki-laki Alexander, Timothy, lahir empat tahun sebelumnya, juga di Toronto. Suatu hari, orang tuanya mulai menjalankan bisnis pengantaran popok.

Hak atas foto FBI
Image caption Mata-mata Rusia, Elene Vavilova, menggunakan nama palsu Tracey Ann Foley; Andrey Bezrukov menyebut dirinya dengan nama Donald Heathfield

Ketika ia berusia dua tahun, keluarga itu pindah ke Prancis kemudian ke AS, dan tinggal di dekat Boston.

Di sanalah keduanya ditangkap FBI pada tahun 2010, ketika Alexander berusia 16 tahun.

Keduanya mengaku bersalah dan dideportasi ke Rusia untuk ditukarkan dengan empat orang Rusia yang ditahan di Moskow karena memberikan informasi intelijen ke negara-negara Barat.

Kisah keluarga Alexander lantas menjadi inspirasi sebuah serial televisi AS, The Americans, yang bercerita tentang dua mata-mata Rusia yang tengah dalam penyamaran dan tinggal serta membangun keluarga di AS.

Alexander mengatkan bahwa ia sendiri menonton serial TV itu - begitu juga dengan orang tuanya yang kini tinggal di Rusia.

"Di satu sisi saya bisa merasa 'nyambung' dengan beberapa hal, tapi di sisi lain itu Hollywood," ujarnya.

Kini ia sudah bisa memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tuanya semenjak rahasia mereka terbongkar dan hidupnya berputar 180 derajat.

Orang tuanya disebutnya termotivasi oleh rasa patriotisme.

"Meskipun saya telah menderita menjalani semua ini, saya mengerti mengapa mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan."

Hak atas foto Kevin Winter/Getty Images
Image caption Cerita serial TV The Americans yang dibintangi Matthew Rhys dan Keri Russel terinspirasi kisah nyata keluarga Alexander Vavilov

Pertarungan hukum

Tak lama setelah orang tuanya ditangkap di AS, paspor Alexander tidak diperbarui dan kewarganegaraannya dicabut tahun 2014 oleh seorang petugas yang bekerja di Imigrasi Kanada.

Pemerintah menyatakan karena orang tuanya bekerja untuk pemerintah asing ketika ia dilahirkan, terlahir di atas tanah Kanada saja tidak cukup untuk memberikannya status warga negara.

Sejak saat itulah perjuangan panjangnya untuk mendapatkan kembali kewarganegaraannya dimulai.

Biasanya, dengan lahir di Kanada, seorang bayi secara otomatis mendapat kewarganegaraan Kanada. Namun ada pengecualian bagi anak-anak para diplomat. Pemerintah mengatakan bahwa pengecualian itu sepatutnya berlaku juga baginya - sesuatu yang ditentang tim hukum Alexander.

Pada hari Kamis (19/12), Mahkamah Agung memutuskan karena kedua orang tuanya tidak berstatus diplomat, maka status kewarganegaraannya sah.

Bagaimana kelanjutkan hidup Alexander?

Semenjak kehilangan status kewarganegaraannya di Kanada, Alexander mengatakan bahwa dirinya berkuliah di Eropa dan telah bekerja di kawasan Timur Tengah dan Asia.

Tapi terkadang ia kesulitan mendapat pekerjaan karena latar belakang hidupnya itu.

"Saya tidak merasa orang tidak memercayai saya," katanya. "Tapi saya rasa mereka tidak mau dikaitkan dengan masalah ini."

Hak atas foto Family photo
Image caption Alexander Vavilov, kiri, dan kakaknya, Timothy

Ketika ditanya tentang pendapatnya terkait Rusia dan pemimpinnya, Alexander, yang kini juga memegang kewarganegaraan Rusia, menolak berkomentar.

Ia mengatakan kepada media bahwa ia ingin masa depannya berada di Kanada, namun langkah berikutnya yang akan ia ambil bergantung pada prospek dirinya - ia akan pindah kembali ke Kanada jika ada tawaran pekerjaan yang bagus.

Keputusan persidangan hari Kamis lalu juga berlaku pada kakaknya, Timothy, yang juga akan tetap memiliki kewarganegaraan Kanada, meskipun Alexander tidak tahu jelas seperti apa rencana kakaknya ke depan.

Vavilov bersaudara selalu mengatakan bahwa mereka tidak tahu sama sekali terkait aktivitas mata-mata kedua orang tua mereka.

Beberapa laporan media massa mengutip beberapa pejabat AS yang tak diketahui namanya yang mengatakan bahwa sebenarnya orang tua Timothy sudah mengungkapkan identitas mereka yang sebenarnya kepada anak pertama mereka dan ingin agar ia mengikuti jejak mereka.

Pada hari Jumat (20/12), Alexander membantah laporan-laporan itu, dan mengatakan bahwa itu semua bohong.

Topik terkait

Berita terkait