Kisah kejatuhan dewa otomotif yang harus melarikan diri di dalam koper

Carlos Ghosn saat jumpa pers di Beirut, Lebanon. Hak atas foto Reuters
Image caption Carlos Ghosn saat jumpa pers di Beirut, Lebanon.

Carlos Ghosn pernah menjadi salah seorang paling penting dalam industri otomotif dunia dan bersalaman dengan para pemimpin dunia.

Ia kemudian menjadi pesakitan dan dikabarkan kabur dengan bersembunyi di dalam koper. Bagaimana kisahnya?

Penahanan

Pesawat jet pribadi Gulfstream G550 dengan nomer N155AN mendarat di Bandara Haneda, Tokyo, 19 November 2018.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesawat jet pribadi dengan nomer N155AN yang membawa Ghosn ke Haneda, Tokyo, di hari penangkapannya.

Di dalamnya ada Carlos Ghosn seorang eksekutif industri otomotif yang saat itu ia sedang dalam puncak kekuasaannya.

Pernah menjadi direktur Nissan, ia dianggap menyelamatkan perusahaan mobil itu dari kebangkrutan.

Di saat yang sama ia juga presiden direktur Renault, perusahaan otomotif Prancis - dan menjadi motor utama merger keduanya.

Jabatannya membuat ia harus mondar mandir Paris ke Tokyo.

Lahir di Brasil, dibesarkan di Lebanon dan berpendidikan di Prancis, Ghosn punya ikatan dan rumah mewah di ketiga negara itu, selain tentu di Tokyo.

Ketika mendarat, sebuah mobil menjemput dan membawanya ke pemeriksaan paspor.

Katanya ada masalah dengan visa, dan ia dibawa ke ruang kecil. Di sana ia ditahan dengan tuduhan kejahatan keuangan.

Bersama Ghosn, ditahan juga Greg Kelly, orang kepercayaan Ghosn yang terbang ke Tokyo dengan pesawat berbeda.

Keduanya lalu dibawa dan dikurung terpisah di sel kecil di Rumah Tahanan Kosuge di Tokyo.

Ghosn berada di sana empat bulan, dan setiap hari diinterogasi oleh jaksa yang berusaha membuatnya mengakui kesalahannya.

Hak atas foto EPA
Image caption Kediaman Carlos Ghosn di Beirut, Lebanon.

Bulan Maret 2019, Ghosn dilepaskan dengan jaminan US$9 juta, tapi ditahan lagi dengan tuduhan baru.

Ia dilepaskan akhir april, lagi-lagi dengan jaminan, kali ini US$4,5 juta.

Namun kegiatan Ghosn dibatasi dengan ketat. Ia bahkan tak boleh berkomunikasi dengan istrinya, Carole Ghosn yang merupakan pendukung utama sang suami.

Carole pernah menulis surat panjang kepada Human Rights Watch mengeluhkan perlakuan terhadap suaminya sembari mengeluhkan sistem hukum Jepang yang disebutnya "kejam".

Ketika Ghosn ditangkap kembali bulan April, polisi merazia rumah mereka pada dini hari ketika suami istri ini sedang tidur.

Kepada BBC, Carole Ghosn bercerita di hari penangkapan itu, bahkan ketika ia mandi, seorang polisi perempuan mengikutinya dan menyaksikan ia mandi.

"Menurutku, mereka ingin mengintimidasi dan mempermalukan kami," katanya.

Carole Ghosn kemudian ditanyai juga oleh pihak berwenang sebagai bagian dari penyelidikan terhadap kegiatan bisnis Ghosn.

Selama masa Ghosn berada di penjara, Carole mengadu ke para pemimpin dunia termasuk ke Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro agar campur tangan soal penahanan suaminya ini.

Menurut penulis biografinya, Philippe Ries, perlakuan keras terhadap sang istri lantaran ia diduga memainkan peran penting dalam keputusan Ghosn kabur melarikan diri dari Tokyo.

Hak atas foto AFP
Image caption Berita tentang Ghosn di layar TV raksasa di Jepang.

Melarikan diri

Tanggal 29 Desember, Ghosn keluar dari rumahnya di Tokyo sekitar jam makan siang.

Dari rekaman CCTV, ia masuk ke hotel dekat rumahnya, bertemu dua orang.

Diduga kuat mereka adalah Michael Taylor, bekas anggota Pasukan Khusus AS yang kini jadi konsultan keamanan, dan rekannya seorang Lebanon, George-Antoine Zayek.

Bertiga mereka naik kereta cepat dari Tokyo ke Osaka, dan ini perjalanan berisiko karena Ghosn adalah seorang terkenal di Jepang.

Ia memakai topi dan wajahnya ditutup masker flu yang lazim dipakai di Tokyo.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berita tentang penangkapan Carlos Ghosn di media Jepang.

Sesampai di Osaka, ketiganya masuk ke hotel dan beberapa jam kemudian, menurut lembaga penyiaran NHK, hanya dua orang keluar dari hotel itu, tanpa Ghosn.

Diyakini Ghosn disembunyikan di sebuah kotak hitam besar mirip koper yang mereka bawa. Kotak ini dimasukkan ke pesawat.

Itulah metode pelarian Ghosn yang beredar luas sekalipun dalam sebuah wawancara panjang dengan BBC di Beirut, Ghosn membantahnya.

Dilaporkan pesawat yang membawa Ghosn dan kedua rekannya terbang menuju Turki pukul 11 malam, pada 29 Desember.

Di Istanbul mereka berganti pesawat dengan diam-diam, terbang menuju Beirut.

Perusahaan operator kedua pesawat jet itu, MNG, berkeras, tak ada nama Ghosn dalam dokumen resmi.

Mereka membuat penyelidikan internal dan pengaduan ke kepolisian Turki soal penyalahgunaan penerbangan mereka.

Dikabarkan seorang pegawai mengaku telah memalsukan dokumen penerbangan.

Pihak berwenang Turki kemudian menahan tujuh orang terkait hal ini, termasuk empat pilot yang bekerja untuk MNG.

Dengan perjalanan tak lazim ini, Ghosn masuk ke Lebanon secara resmi menggunakan paspor Prancis dan KTP Lebanon.

Memasuki tahun baru 2020, Ghosn merayakannya di Beirut bersama istrinya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Carlos dan Carole Ghosn di Beirut.

Apa sebetulnya yang terjadi?

Di masa jayanya, Ghosn adalah raksasa industri otomotif.

Di Prancis ia dikenal sebagai eksekutif kejam dijuluki "Le Cost Killer" yang membenahi Renault tahun 1990-an.

Di Jepang ia dikenal sebagai orang asing yang diterjunkan untuk menyelamatkan Nissan, dan ini membuatnya jadi pesohor tingkat nasional di negeri itu.

Di kedua perusahaan raksasa otomotif itu ia menyingkirkan kepentingan pribadi, menutup pabrik dan memangkas pegawai untuk mengejar pertumbuhan dan keuntungan jangka panjang.

Image caption Grafik kepemilikan Renault, Nissan dan Mitsubishi.

Kedua perusahaan sudah terhubung tahun 1999, dan tahun 2016 Mitsubishi bergabung.

Di tahun 2017, ketiganya memproduksi 10 juta kendaraan per tahun. Namun masalah mulai muncul.

Tahun 2015, Pemerintah Prancis menggandakan saham mereka di Renault, yang ikut memiliki Nissan, dan ini masalah bagi eksekutif di markas Nissan di Yokohama, Jepang karena keputusan yang dibuat di Prancis mempengaruhi mereka.

Tahun 2018, Paris memberi mandat kepada Ghosn untuk memperkuat posisi Renault dengan membuat perusahaan pemegang saham tunggal, Alliance, yang mengendalikan kedua pabrikan ini, sekalipun bisnis mereka masih terpisah.

Ada juga rencana membawa perusahaan otomotif Italia-Amerika Fiat Chrysler untuk membuat mereka jadi yang terunggul secara global.

Rencana ini mendatangkan ketidaknyamanan di Jepang bagi Presiden Direktur Nissan ketika itu, Hiroto Saikawa yang sejak semula tak suka dengan berkurangnya otoritas dan otonomi mereka.

Hak atas foto AFP
Image caption Markas Nissan di Yokohama, Jepang.

Meningkatnya posisi Renault dipandang akan membuat Nissan jadi cabang kepentingan kelompok internasional semata dan memangkas identitas Jepang mereka.

Menurut Ghosn, pemerintah Jepang juga berpandangan seperti ini dan mereka terlibat dalam manuver menjatuhkan dirinya.

Berkomplot?

Ghosn menuduh bahwa penahanannya adalah upaya langsung yang melibatkan pejabat senior di Nissan dan Kementrian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang yang tujuannya menghentikan menguatnya ikatan Renault dan Nissan.

Tuduhan terhadap Ghosn di Jepang adalah tidak melaporkan gajinya selama empat tahun senilai US$44 juta.

Angka ini kemudian membesar jadi US$80 juta, mencakup periode delapan tahun, termasuk rencana uang pensiun.

Menurut Ghosn, uang ini tak pernah dibayarkan dan perlu persetujuan dewan pengawas di Nissan.

Persoalan ini menarik perhatian lembaga pengawas Amerika Serikat karena tangan kanan Ghosn, warga AS Greg Kelly yang juga dituduh melakukan hal serupa dengan Ghosn.

Bulan September 2019, Ghosn dan Kelly membuat kesepakatan dengan Komite Pengawas Pasar Modal AS terkait tuduhan adanya kompensasi yang tak masuk dalam laporan keuangan senilai US$140 juta.

Keduanya dijatuhi denda - Ghosn membayar US$1 juta - tapi tak ada pengakuan pelanggaran.

Image caption Pendapatan Ghosn dari perusahaan otomotif yang dipimpinnya.

Tuduhan lain kepada Ghosn adalah memindahkan kerugian pribadi ke neraca keuangan Nissan dan memakai dana perusahaan untuk membayar rekan bisnis asal Arab Saudi Khaled al-Juffali sebesar US$14,7 juta.

Ia juga dituduh menggelapkan US$5m yang dibayarkan ke distributor Nissan di Oman, Suhail Bahwan Automobiles, dan memakainya untuk kepentingan pribadi.

Carole Ghosn juga diinterogasi atas tuduhan menggunakan uang perusahaan yang ia awasi untuk membeli kapal pesiar mewah.

Ghosn berkeras tuduhan-tuduhan itu tak benar dan dalam jumpa pers di Beirut, ia mencerca sistem hukum di Jepang yang katanya "melanggar hak dasar kemanusiaan" serta adanya orang-orang jahat yang berkompolot menjatuhkannya.

Ghosn tak menegaskan siapa di pemerintahan Jepang yang berkomplot itu, sementara Saikawa mengaku sangat kecewa akan tuduhan dari bekas atasannya itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bekas presiden direktur Nissan, Hiroto Saikawa.

Selanjutnya apa?

Jepang telah meminta Interpol untuk menahan Ghosn dan memberi tekanan diplomatik kepada Lebanon, tapi tak ada perjanjian ekstradisi kedua negara.

Selain itu, Ghosn punya dukungan besar di Lebanon.

Ada kemungkinan ia diadili di Prancis. Di bawah sistem hukum Prancis, warga negara mereka bisa diadili untuk kejahatan yang dilakukan di luar negeri; dan Ghosn punya kewarganegaraan Prancis.

Ghosn juga sedang diselidiki oleh pihak berwenang Prancis untuk kejahatan keuangan. Renault menyoroti adanya 11 juta euro pengeluaran yang meragukan. Ghosn menampik tuduhan ini.

Kini Ghosn tinggal di rumahnya di Beirut.

Sementara itu keuntungan Renault dan Nissan mulai runtuh sejak kepergiannya. Nilai pasar mereka turun puluhan miliar dolar.

Alliance juga mulai limbung dan Saikawa tersingkir. Struktur kedua perusahaan yang sudah terjalin sudah sulit untuk dipisah, tetapi rencana merger lebih jauh sudah tidak mungkin.

Ghosn sendiri perlahan menghilang, sekalipun ia berharap bisa membalikkan keadaan. Ia ingin membersihkan namanya.

Ketika ditanya wartawan apakah ia punya rencana untuk pensiun, Ghosn menjawab tegas.

"Oh, tidak!" katanya. "Banyak tantangan di depan. Belum waktunya untuk pensiun".

Laporan tambahan dari Rupert Wingfield-Hayes, Jepang

Grafik: Gerry Fletcher & Daniele Palumbo

Topik terkait

Berita terkait