Hari Perempuan Internasional: 'Stop seksualisasi janda!' Melawan stigma negatif janda melalui podcast

  • Heyder Affan
  • Wartawan BBC News Indonesia
Intania Fajar, Janda Becanda

Sumber gambar, Intania Fajar

Keterangan gambar,

Dalam podcast bertajuk Janda Becanda, Tania mengundang orang-orang berstatus janda, atau duda, atau siapapun, untuk bertujuan saling menguatkan dan berbagi pengalaman.

Intania Fajar, yang ditinggal meninggal suami pertama dan bercerai dengan suami kedua, membuat program podcast atau siniar, sebagai upaya mengurangi stigma negatif yang dilekatkan masyarakat kepada janda.

Melalui podcast bertajuk Janda Becanda, dia mengundang para tamunya - sebagian diantaranya berstatus janda - untuk berbagi pengalaman serta saling menguatkan.

"Saya janda dua macam, janda ditinggal almarhum suami dan janda cerai," ujar Intania Fajar, membuka percakapan dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, awal Januari lalu, lalu tertawa ringan.

Ucapannya itu, yang seperti tanpa beban, agaknya tidak mudah diucapkan ketika awal mula dia bercerai dengan suami keduanya, kira-kira setahun silam. Mereka memilih berpisah setelah enam tahun hidup bersama dan dikaruniai dua anak.

Sebelumnya, dua belas tahun silam, suami pertamanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, ketika anak semata wayangnya masih balita.

"Jadi, ceritanya saya ini janda kuadrat," ujar Tania, panggilan akrabnya, lagi-lagi ditutup derai tawanya.

Dihadapkan pada situasi yang tidak gampang, dan belum lagi dalam atmosfer label dan stigma janda yang berkembang di masyarakat, ibu tiga anak ini pun berusaha dengan susah-payah untuk melalui masa-masa sulit itu - awalnya.

Dukungan dari lingkaran pertemanannya, selain keluarga, serta tentu saja kehadiran anak-anaknya, menyadarkannya untuk terus melangkah.

Sumber gambar, Janda Becanda/Intania Fajar

Keterangan gambar,

Dalam salah-satu episodenya, Intania Fajar (kedua dari kiri) mengundang aktris dan politikus Wanda Hamidah (kedua dari kanan), instruktur yoga Nadia "Nod" Hastarini (baju merah), dan Fitri Wahab (paling kiri)- semuanya orang tua tunggal.

Dalam perjalanan itulah, salah satunya melalui momen pertemuan dengan kawan-kawannya, timbul niat Tania untuk membuat podcast Janda Becanda yang membahas seputar janda.

"Lucu juga ya, gue bikin podcast, namanya Janda Becanda," ungkapnya di hadapan teman-temannya di saat senggang, kala itu. Intinya, Tania dan teman-temannya - sebagian berstatus orang tua tunggal - tidak mau melulu dililit nestapa karena status baru tersebut.

"Bukannya bersedih, murung, tapi kita bisa ketawa," ungkapnya, mencoba merekah ulang situasi batinnya saat itu. "Bahwa ada musibah, masih ada suatu hal yang tragedi, tapi kita tetap bisa ketawa."

"Dan menertawakan diri sendiri supaya tidak terlalu beratlah beban yang dilalui pada masa-masa perceraian pada saat itu," tambahnya. Sebuah lontaran ide yang kemudian segera dia geluti secara total: dunia podcast.

'Guyonnya itu pelipur lara'

Dalam podcast bertajuk Janda Becanda, Tania mengundang orang-orang berstatus janda, atau duda, atau siapapun, untuk bertujuan saling menguatkan dan berbagi pengalaman.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar,

"Jadi saya mau berbagilah apa sih yang dipetik dari pengalaman kemarin (saat dirinya atau orang lain yang bercerai dengan suami), mungkin ada faedah bagi orang lain," kata Tania (kiri).

Dirintis akhir tahun lalu, materi podcastnya lebih banyak diwarnai obrolan ringan yang acapkali diwarnai kelakar, namun isinya diharapkan tetap memberikan perspektif lebih utuh perihal kaum perempuan kepala rumah tangga.

"Guyonnya itu obatnya, guyonnya itu pelipur laranya," katanya. "Kita kurangilah tangisannya, biar curcolnya nggak terlalu berat. biar curhatnya agak ringan saja."

Tania, yang mengaku pendengar setia podcast, menganggap konsep obrolan ringan dan diselingi kelakar seperti itu akan lebih menarik bagi para pendengar di Indonesia.

Diakui Tania obrolan dalam podcastnya menjadi masukan penting bagi dirinya sendiri. Tetapi dalam saat bersamaan, dia meyakini bahwa isi percakapan di dalamnya akan bermanfaat pula bagi orang lain - utamanya para perempuan tidak bersuami.

"Jadi saya mau berbagilah apa sih yang dipetik dari pengalaman kemarin (saat dirinya atau orang lain yang bercerai dengan suami), mungkin ada faedah bagi orang lain," kata Tania yang pernah menjadi wartawan di Kantor Berita Prancis, AFP, di Jakarta ini.

'Janda Becanda' mematahkan stigma negatif janda

Studi yang dilakukan Monika Winarnita, Nicholas Herriman, dan Petra Mahy, yang dimuat Magdalene.co, pada 13 Januari 2020, menyebutkan, stereotip janda ada di jantung kehidupan perempuan di Indonesia.

Disebutkan pula bahwa sering kali stereotip tersebut menyebabkan para janda menjalani kehidupan sulit dan terpinggirkan di komunitas mereka.

Sumber gambar, Poppy Hanadhy

Keterangan gambar,

"Ada label bahwa janda itu 'wah, bisa nih, gampang nih', sementara kita nggak begitu. Nggak semua seperti itu," kata Poppy.

"Kadang-kadang ada persepsi bahwa mungkin janda itu kesannya perempuan gampangan," kata Tania.

Dalam atmosfir seperti itulah, seorang janda terkadang dihadapkan kesulitan saat "mau pacaran lagi, cari suami yang baru, jadi untuk dating lagi susah," ungkapnya.

"Banyak hal-hal yang peka sekali bagi seorang janda untuk melalui itu," tambahnya. "Mesti hati-hati."

Tania mengaku tidak pernah secara langsung mendapatkan stigma negatif, namun menurutnya persepsi seperti itu "secara umum" beredar di masyarakat.

Melalui obrolan di podcast Janda Becanda, Tania mengaku ingin mengurangi cara pandang masyarakat yang negatif tersebut - meskipun diakui, tak gampang untuk menghapusnya.

"Walaupun nggak ngomongin saya, tapi persepsi-persepsi yang sebenarnya nggak layak, nggak pantas diomongin, ada di luar sana," ujarnya.

Salah-satu tamu undangan podcast Janda Becanda, Poppy Hanadhy, manajer Magenta Orchestra dan pendiri fashion label PoFeLevE, tidak memungkiri bahwa label seperti itu kemungkinan masih beredar di masyarakat.

"Ada label bahwa janda itu 'wah, bisa nih, gampang nih', sementara kita nggak begitu. Nggak semua seperti itu," kata Poppy.

Melalui program Janda Becanda, Poppy mengharapkan akan dapat "membuka mata banyak orang bahwa label janda bukan suatu hal yang memalukan" atau "bukan menakutkan bagi perempuan yang bukan janda".

'Menjadi janda itu pilihan'

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Dalam salah-satu episode terbarunya, Tania mengundang aktris dan politikus Wanda Hamidah, Nadya Hastarini, serta Fitri Wahab - semuanya merupakan orang tua tunggal.

Secara garis besar, obrolan utamanya menyinggung latar belakang mereka bercerai, pengalaman sebagai orang tua tunggal, hingga perspektif mereka atas stigma negatif dan label janda di masyarakat.

Layaknya obrolan ringan, yang diwarnai kelakar, meski kadang kala serius, mereka melepaskan apa yang ada di benaknya, seperti tanpa ada beban, dengan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

"I'm happy karena gue secara prinsip tidak akan stay dalam rumah tangga yang not happy," ungkap Wanda di awal obrolan. Dia juga menyatakan tidak akan menoleransi perselingkuhan.

"Gue nggak suka dalam hidup yang pura-pura bahagia, tapi nyatanya tidak," tambahnya. "Gue nggak mau menjadi orang munafik yang mempertahankan perkawinan, hanya karena elo nggak mau menjadi janda."

Namun di ujung kalimatnya, sosok politikus dan ibu empat anak ini mengatakan bahwa semua itu adalah pilihan: "Yang memilih seperti itu (mempertahankan pernikahan), aku hargai."

Diberi kesempatan mengutarakan opini dan pengalamannya, Fitri Wahab menyatakan bahwa "janda itu pilihan".

"Bukan sesuatu yang tragis, tapi cobaan, karena kita berkeluarga itu penginnya bertahan selama-lamanya, tapi kalo jalannya Tuhan, kita mesti berpisah ya udah," ungkap Fitri yang seorang pengusaha ini.

"Tapi justru menjadi janda itu menjadi motivasi kita untuk harus lebih sukses ketimbang orang-orang yang memiliki keluarga lengkap," jelasnya.

Diakuinya ini butuh keuletan, karena sebagian perempuan yang bersuami disebutnya bekerja delapan hingga sepuluh jam, "kalau seorang janda harus 24 jam..."

Adapun Nadya Hastarini menyatakan bahwa pilihan bercerai dari suami itu bukanlah sesuatu yang "negatif atau tragis".

"Karena pada akhirnya, nggak ada yang salah atau benar, karena akhirnya semua pilihan. Sampai sekarang, gue ngelihat kehidupan, juga nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar. Ini sementara dan semua ini pilihan, tentu dengan segala konsekuensinya," ujar Nadya, yang dikenal pula sebagai guru kelas yoga.

"Jadi, bagi saya, kawin, nggak kawin, partnership, cerai, semuanya itu pilihan," tambahnya.

Sumber gambar, Intania Fajar

Keterangan gambar,

Intania Fajar, yang mengaku pendengar setia podcast, menganggap konsep obrolan ringan lebih menarik bagi para pendengar di Indonesia.

Dalam bagian lain obrolan, mereka juga berbagi pengalaman yang haru, lucu, atau tidak gampang, sebagai orang tunggal. Mereka juga berseloroh dan bahkan dengan enteng hati "menertawakan diri sendiri."

Kemandirian ekonomi

Dalam obrolan dengan sebagian tamu podcastnya, Tania kemudian menawarkan pendekatan ekonomi sebagai salah-satu jalan keluarnya bagi kaum perempuan untuk membangun kemandirian.

"Karena persepsinya kalau janda itu kayak orang susah... biasanya kalau ditinggal suami, baik karena meninggal atau cerai, tidak siap secara ekonomi untuk menjadi kepala keluarga sendiri," katanya.

Untuk itulah, dalam program podcastnya, dia juga mengundang para perempuan tidak bersuami yang mandiri secara ekonomi.

"Mungkin salah-satu pesan paling penting besar dari podcast Janda Becanda adalah kemandirian seorang perempuan itu penting," katanya.

Dia juga mengundang orang-orang berstatus janda yang kisahnya dapat menginspirasi para pendengar.

"Ada tamu development coach, yang kebetulan seorang janda juga. Jadi dia bisa kasih insight mengenai pengalaman perceraian dan juga bagaimana dia melalui masa-masa yang sulit secara emosional," paparnya.

Sejak dirilis pada akhir 2019 lalu, podcast Janda Becanda telah memasuki epidose ke-18 pada akhir Februari 2020.

Selain mengundang tamu berstatus janda, Tania juga mengundang perempuan yang berumah tangga, perempuan yang belum menikah, hingga pria yang sudah beristri.

Devi Asmarani, salah-satu pendiri dan pemimpin redaksi Magdalene.co: 'Stop mengseksualisasi janda'

Mengapa ada stigma atau stereotipe tertentu terhadap janda?

Saya lihat ini karena pada dasarnya masyarakat kita masih sangat menganggap perempuan yang baik, atau perempuan sempurna, adalah perempuan yang berumah tangga, menjadi istri dan punya anak dan sebagainya.

Sehingga, ketika perempuan itu ditinggalkan suami, karena meninggal atau diceraikan, dia menjadi sosok yang tidak sempurna lagi.

Dan, dia kemudian menjadi sosok yang mudah untuk dicurigai, menjadi semacam ancaman bagi komunitas di sekitarnya, dan bahkan dilihat sebagai seseorang yang bisa menggoda laki-laki lain.

Ini diperkuat mulai zaman Suharto, dengan apa yang disebut 'ibuisme', sampai diperkuat dengan budaya pop kita, misalnya dari musik, film, acara televisi, selalu ada unsur janda sebagai sosok yang highly sexualised, dan menjadi bulan-bulanan dari bercanda.

Menurut saya, hal itu semakin memperkuat stigma itu.

Menurut Anda apakah istilah janda itu bebas nilai atau istilah itu sudah diplintir sedemikian rupa sehingga memiliki label tertentu?

Sumber gambar, Devi Asmarani/Facebook

Keterangan gambar,

Stoplah menggunakan istilah janda untuk menjadi bulan-bulanan candaan atau stoplah mengseksualisasi seseorang janda, kata Devi Asmarani.

Mungkin awalnya janda itu dari kata yang bebas nilai, netral seperti banyak kata lainnya. Tapi karena, ya itu tadi, di masyarakat dikaitkan dengan nilai-nilai tertentu, dan stigma yang negatif, akhirnya kata itu menjadi kata yang istilahnya loaded.

Dan dia memiliki beban negatif, sehingga saat ini, penggunaan kata itu sendiri menjadi beresiko, menciptakan citra buruk bagi orang yang disambungkan dengan kata itu, misalnya menyebut si A adalah seorang janda.

Dan, saya lihat, media juga memiliki peran besar dalam hal ini. Misalnya, saya tadi sempat google sebentar, itu ada beberapa media mainstream yang menggunakan kata janda dan menghubungkan dengan hal-hal yang menguatkan stigma yang saya sebut itu.

Misalnya, 'inilah enam tipe janda'. janda kembang, dan lain-lain. Ini semua adalah hal-hal yang tidak pernah disambungkan dengan duda, contohnya, atau lelaki yang sudah menikah. Jadi menurut saya ini semakin memperkuat citra buruk dari kata itu sendiri.

Untuk mengikis habis cara berpikir seperti itu (stigma dan stereotipe janda), harus dimulai dari mana? Apakah dari masyarakat atau orang-orang yang menyandang status itu?

Saya rasa kembali lagi ke masyarakat, ini semua kembali kepada perspektif kita.

Jadi, yang pertama harus 'disembuhkan', otak kita sendiri, kenapa kita melihat seorang perempuan yang ketika dia mengalami sebenarnya musibah ya, ditinggalkan apapun sifat atau sebabnya, pernikahannya gagal atau ditinggal meninggal, itu sebuah musibah, tapi kenapa kita melihat itu sebagai suatu kecacatan dari seseorang.

Yang pertama kita ubah adalah tidak melihat bahwa ada yang salah dengan status janda.

Kemudian menghargai bahwa perempuan itu tidak dilihat nilainya dari status pernikahannya, dari status keluarganya dia, dsbnya.

Bagaimana dengan tanggung jawab media?

Dan yang utama, saya rasa, yang paling penting adalah kita, media, baik jurnalis, berita, atau media seperti film, dan media yang mendistribusikan budaya pop.

Kita harus mulai mengubah cara kita memperlakukan kaum perempuan yang menjadi single parents atau perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya, karena meninggal atau bercerai.

Jadi, nothing wrong with that. Stoplah menggunakan istilah janda untuk menjadi bulan-bulanan candaan atau stoplah mengseksualisasi seseorang janda.

Saya rasa apa yang dilakukan beberapa komunitas, misalnya, komunitas #savejanda dengan mereclaim (merebut) kata itu sebenarnya sesuatu yang baik. Tapi itu juga harus diikuti dengan perubahan dalam masyarakat itu sendiri.

Dari pihak mereka yang dikenai status janda, langkah ideal seperti apa yang bisa dilakukan?

Saya suka istilah mereclaim (merebut) sesuatu. Jadi OK elo memang janda, tidak ada yang salah dengan status itu. Saya bangga dengan status janda, saya tidak merasa ada yang kurang.

Jadi tidak langsung menilai dirinya lebih rendah karena masyarakatnya menilai seperti itu.

Mungkin suatu saat nanti masyarakatnya sudah mulai dewasa, kita lebih bisa menilai kata janda itu sebagai suatu yang netral, tapi yang utamanya adalah mencoba untuk mereclaim lagi kata itu, supaya tidak lagi dikuasai narasi-narasi yang negatif.

Misalnya kata feminis sering sekali diidentifikasikan dengan hal-hal negatiflah. Nah, Magdelene.co mereclaim ini, dengan mengatakan tidak ada yang negatif. Jadi bukan menafsir ulang, tapi mengambil kembali. Merebut kembali supaya narasinya positif.