'Pernikahan tak bahagia' yang menyelamatkan banyak nyawa di India: 'Hidup telah memberi saya kesempatan kedua'

Uma Preman

Perjodohan sering kali dapat menimbulkan kejutan.

Pernikahan Uma Preman yang tidak bahagia mengubah tidak hanya hidupnya, tetapi juga kehidupan ribuan orang lain - karena hal itu membekalinya dengan keterampilan dan motivasi untuk membantu orang-orang India yang kurang beruntung mendapatkan akses ke perawatan medis.

Saat itu

Uma selalu mengidamkan sebuah pernikahan tradisional yang sempurna yang digelar di sebuah kuil di India selatan. Dia membayangkan pernikahannya akan dihiasi bunga beragam warga - dan sebuah pesta besar di pantai.

Sayangnya, itu tidak pernah terjadi.

Uma masih ingat pagi kelabu di bulan Februari, 30 tahun lalu, ketika ibunya memperkenalkannya kepada Preman Thaikad. Uma baru berusia 19 tahun kala itu, sementara Preman 26 tahun lebih tua darinya.

Mereka berdua tidak pernah bertemu sebelumnya, namun dia diberitahu bahwa pria itu adalah suaminya. Namun tidak ada keriaan apa pun dan tidak ada musik sama sekali - bahkan, tidak ada sebuah pernikahan.

"Ibu saya mengatakan bahwa saya sekarang menjadi milik Preman. Dia mengatakan bahwa saya adalah istrinya dan saya tidak memiliki hak atas apa pun yang dia miliki," tutur Uma.

Uma Preman

Preman membawa Uma ke rumahnya dan membiarkannya di sana malam itu. Uma masih ingat dia tidak bisa tidur dan hanya bisa memandangi atap berwarna kuning pucat dan kipas angin yang berisik.

Keesokan harinya, Preman kembali pada jam 6 pagi dan meminta Uma untuk menemaninya ke sebuah bar. Dia terus minum selama beberapa jam sementara dia duduk dalam dia, berusaha memahami hidupnya beralih ke haluan yang aneh.

Dia mengatakan bahwa dia adalah istri keduanya, namun dia dengan cepat menyadari bahwa dia adalah istri keempat. Preman juga mengungkapkan bahwa dia mengidap penyakit tuberkolosis parah - dan adalah tugas Uma untuk merawatnya.

Sebelumnya...

Uma tumbuh di Coimbatore, sebuah kota yang sibuk di negara bagian di India selatan. Tamil Nadu. Ketika kecil, dia ingin menjadi seorang dokter seperti ayahnya, TK Balakrishnan.

Balakrishnan belajar kedokteran selama satu tahun sebelum pamannya memintanya untuk keluar dari sekolah dan bekerja di perkebunannya.

Dia telah mempelajari dasar-dasar ilmu kedokteran dan akan menggunakan ilmunya untuk mengobati luka dan mengobati demam dengan obat-obatan dasar. Uma mendengar bahwa keluarga para pasien akan sering memberinya perawatan - jadi dia mulai menemaninya berkeliling.

"Saya hanya suka makanan dan makan dan itulah sebabnya saya pergi bersamanya," katanya.

Tetapi suatu hari dia melihat sesuatu yang membuatnya sadar betapa seriusnya pekerjaan ayahnya. Ayahnya merawat seorang pasien yang mengidap gangren. Bau busuk itu, kata Uma, tak tertahankan.

"Dia menggunakan sarung tangan kebun karena dia tidak punya sarung tangan bedah, tapi dia sangat tenang."

Short presentational grey line
Short presentational grey line

Namun ibu Uma tidak menyukai suaminya menghabiskan waktu demi membantu orang lain, tutur Uma.

Ketika dia berumur delapan tahun, ibunya memberinya uang untuk membeli kembang api untuk festival Diwali, sebuah perayaan bagi umat Hindu.

Ketika dia kembali ke rumah, ibunya sudah tidak ada.

"Saya mengetahui kemudian bahwa dia mencintai pria lain dan pergi dengannya," kata Uma.

Semenjak kepergian ibunya, Uma harus merawat adiknya yang kala itu berusia 3 tahun.

Dia menuturkan bahwa dia tidak tahu bagaimana cara memasak, namun dia memutuskan untuk belajar karena dia tidak suka masakan yang dibuat ayahnya.

Uma Preman

"Saya datang ke rumah tetangga dan meminta ibu-ibu untuk mengajari saya. Mereka berkata aku tidak akan bisa memasak karena aku kecil," ujar Uma.

Namun setelah beberapa hari belajar memasak berbagai masakan, memasak menjadi bagian dari rutinitas sehari-harinya.

"Saya bangun jam 5 pagi untuk membuat sarapan dan makan siang. Saya pergi ke sekolah pada jam 9 pagi. Saya akan kembali sore hari dan mengasuh adik saya dan memasak makan malam," jelas Uma.

"Teman-teman saya bermain tiap sore - mereka menikmati hidup mereka. Tapi saya bahagia merawat keluarga saya."

Kendati begitu, dia terus menerus memikirkan ibunya, dan khawatir tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Uma berusia 17 tahun, dia bersama beberapa tetangganya berkunjung ke sebuah kuil yang populer bagi masyarakat Hindu di Guruvayur - 140 kilometer dari Coimbatore - dan di sana dia bertemu dengan seorang pria yang menyebut bahwa dia pernah bertemu dengan seorang perempuan yang serupa dengannya.

Uma meninggalkan alamat kepada pria itu dan beberapa hari kemudian sebuah surat diterimanya.

Surat itu dari ibunya.

Uma Preman

Uma langsung kembali ke Guruvayur untuk bertemu kembali dengan sang ibu, namun kemudian muncul masalah. Suami kedua ibunya meminjam uang dalam jumlah banyak, dan menelantarkan ibunya.

Sementara orang yang meminjamkan uang terus menagih hutang kepada ibu Uma.

"Saya melihat banyak orang datang ke rumahnya setiap hari untuk meminta uang kepadanya," tutur Uma.

"Itu pemandangan menyakitkan."

Solusi ibunya adalah menikahkan Uma dan Preman, yang memiliki kekayaan yang cukup untuk melunasi hutangnya. Uma enggan. Dia berupaya untuk mencari pekerjaan, namun gagal.

Dia kemudian kembali ke rumah ayahnya - namun ayahnya merasa dikhianati oleh Uma karena memutuskan berhubungan lagi dengan sang ibu - dan sang ayah enggan menerimanya kembali.

Pada akhirnya, Uma menyerah.

"Saya merasa tidak berdaya. Saya hanya bisa menerima takdir saya dan bersama Preman."

Setelahnya

"Setiap saat sebelum dia pergi bekerja, Preman selalu mengunci saya di dalam rumah," kenang Uma.

"Saya tidak diperbolehkan bertemu siapa pun atau keluar rumah - bahkan hanya untuk semenit. Selama enam bulan, saya sendirian. Saya mulai berbicara dengan dinding. Saya kehilangan kepercayaan diri dan harga diri."

Seiring berjalannya waktu, kondisi Preman semakin memburuk. Pasangan ini mulai menghabiskan sebagian besar waktu mereka di rumah sakit, dan pada 1997, tujuh tahun setelah Uma hidup dengannya, Preman meninggal.

Meski Preman pernah berkata bahwa Uma tidak berhak atas apa yang Preman miliki, namun dia meninggalkan sejumlah harta kepadanya.

Uma mengatakan bahwa dia merasa bebas untuk pertama kalinya sepanjang hidup.

"Saya tidak mau dia meninggal, tapi saya merasa hidup telah memberi saya kesempatan kedua."

Uma with Preman's photograph

Butuh beberapa waktu bagi Uma untuk menyadari apa yang akan dia lakukan setelah mendapatkan kebebasan.

Selama bertahun-tahun bersama Preman, Uma menyadari bahwa orang-orang miskin kerap kesulitan mendapatkan perawatan medis yang layak, tidak hanya karena mereka tidak mampu tapi karena mereka tidak memiliki cukup informasi - mereka tidak tahu perawatan dan pelayanan yang tersedia.

Uma mulai membantu mereka, mengisi formulir kesehatan mereka dan memandu mereka ke dokter yang tepat dan beberapa kali mendengarkan masalah mereka.

Ketika dia meninggalkan rumah sakit di Trivandrum, tempat di mana Preman menghabiskan enam bulan dirawat di sana, dia dirindukan oleh orang-orang di sana.

Seseorang di rumah sakit itu memberi nomor telponnya bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Tak lama, ratusan orang mulai menghubunginya untuk meminta nasihat dan begitulah Pusat Informasi Medis Santhi lahir.

Uma menyadari penggilan hidupnya - dia tidak merawat orang, seperti yang dilakukan ayahnya, namun dia membantu mereka untuk mendapat perawatan.

Uma Preman

Betapapun, untuk membantu orang Uma harus memiliki pengetahuan tentang medis, dan pada akhir 1999an, internet bukannya sesuatu yang tersedia dengan mudah di India.

Dia kemudian bepergian ke beberapa tempat di India untuk mengumpulkan data tentang perawatan, rumah sakit dan tempat-tempat dimana orang-orang bisa mendapatkan perawatan medis secara medis atau disubsidi.

"Saya harus bepergian karena tidak ada rumah sakit yang membalas surat saya," kata dia.

Bahkan ketika dia bertatap muka dengan pejabat di rumah sakit, mereka kerap tidak menganggapnya serius. Di India yang memiliki beragam bahasa, keterbatasan bahasa adalah suatu kendala, karena Uma hanya bisa berbicara Bahasa Tamil.

Prioritas utama Pusat Informasi Medis Santhi adalah membantu orang-orang yang mengidap penyakit ginjal.

Uma Preman

India hanya memiliki sedikit tempat pengobatan ginjal dan donasi ginjal juga sangat sedikit di negara itu. Uma berusaha untuk mengubah ini dengan mengumpulkan dana untuk membuka fasilitas pusat dialisis yang terbuka untuk semua.

"Pusat dialisis pertama kami dimulai di distrik Thrissur di Kerala. Sekarang kami memiliki 20 pusat di seluruh India. Banyak orang kaya menyumbang untuk itu," katanya.

Uma mengatakan meyakinkan orang untuk menyumbangkan ginjal tidak mudah karena mereka sering khawatir tentang dampaknya pada kesehatan mereka sendiri.

Jadi dia memutuskan untuk memberi contoh, dan menyumbangkan salah satu ginjalnya sendiri. Dia memberikannya kepada seorang anak yatim yang mengalami gagal ginjal.

Uma Preman with Salil

Salil menuturkan bahwa dia berhutang nyawa kepada Uma.

"Saya saat itu berusia 26 tahun dan mengalami dialisis. Ketika dia bertemu saya, dia mengatakan bahwa dia akan menyumbangkan ginjalnya dengan syarat saya harus terus bekerja setelah transplantasi."

Dia pun menepati janjinya - bahkan, tak lama kemudia dia memutuskan bekerja untuk Uma.

Salis mengatakan Uma adalah perempuan yang benar-benar meyakini perkataan Mahatma Gandhi bahwa "Anda harus menjadi perubahan yang Anda ingin lihat."

Semua orang menginginkan perubahan namun tidak ada yang siap mengubah dirinya," tutur Uma.

"Saya mengubah sikap saya dan mendonasikan ginjal saya, namun sebagai tantinya saya mendapatkan seorang saudara laki-laki."

Semua foto oleh Sivram V