Dokter bunuh diri, mengaku menyesal menentang vaksinasi

vaksinasi Hak atas foto AFP/Getty Images

Seorang dokter anak yang melakukan aksi bunuh diri di Chicago, Amerika Serikat, meninggalkan catatan yang menyebut dirinya "menentang" vaksinasi selama satu dekade terakhir.

Catatan dokter bernama Van Koinis itu berisi penyesalan, namun aparat mengatakan isinya ambigu.

"Dia luar biasa menyesal atas apa yang dia lakukan dan itu satu-satunya yang dia sebutkan dalam catatan bunuh dirinya. Itu saja dan hanya itu," sebut Sheriff Cook County di Chicago, Tom Dart, kepada media AS.

Pihak berwenang kini sedang menyelidki apakah sang dokter memalsukan berkas-berkas sehingga para orang tua anti-vaksinasi bisa memperoleh dokumen yang disyaratkan sekolah.

Sebaliknya, orang tua pro-vaksinasi bisa saja dibohongi oleh sang dokter.

"Topik terbesarnya adalah para orang tua yang mendapat kesan anak-anak mereka telah diimunisasi padahal tidak," papar Dart kepada harian Chicago Sun-Times.

Para mantan pasien Dr Koinis kini disarankan untuk menemui dokter lain mengenai catatan vaksinasi mereka.

Rangkaian tes darah bisa menentukan apakah seorang pasien telah menerima imunisasi, tapi tidak semua bisa diketahui, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Sosok dokter Koinis, yang meninggal dunia pada September 2019, adalah dokter ternama di Chicago. Dalam sebuah forum pemeringkat dokter, dia mendapat lebih dari 1.000 penilaian dan peringkat lima bintang.

Sejumlah orang tua membela mendiang menyusul fakta terbaru yang diungkap aparat. Mereka mengatakan tidak pernah mendengar sang dokter mengutarakan pandangan anti-vaksinasi. Lainnya mengaku melihat dia memberi suntikan.

"Anak saya dan saya begitu mencintainya. Dia sudah seperti keluarga kami," sebut seorang perempuan yang telah membawa anaknya ke dokter Koinis selama 23 tahun, dalam unggahan di Facebook, sebagaimana dilaporkan harian Washington Post.

Sang dokter juga dikenal kerap menolak dibayar ketika ada keluarga yang tidak mampu. Dia juga sering memeriksa kesehatan anak-anak di luar jadwal praktik, sebut Washington Post.

Berita terkait