Remaja suku Amazon: Kami akan 'bertarung sampai mati' untuk menyelamatkan hutan Amazon

Young girls from the Arara-Karo tribe offer a prayer to an old tree in the Amazon rainforest

Deforestasi di hutan hujan Amazon semakin bertambah pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pada bulan Januari, area yang hilang dua kali lipat dari bulan yang sama pada 2019, menurut angka resmi.

Itu terjadi setelah petaka musim kemarau tahun lalu di mana kebakaran menghanguskan sebagian besar hutan hujan, yang dipandang sebagai kunci dalam memperlambat laju pemanasan global.

Kebakaran itu menuai kemarahan di seluruh dunia karena api menghancurkan pohon dan membunuh satwa liar pada tingkat yang tidak terlihat selama bertahun-tahun sebelumnya.

Enam bulan kemudian, Nomia Iqbal pergi ke Amazon Brasil untuk program baru BBC, My World, untuk bertanya kepada para remaja bagaimana mereka melihat masa depan wilayah yang penting ini.

'Kami akan bertarung sampai mati'

Image caption Maristela adalah anggota komunitas adat Arara-Karo di hutan hujan Amazon

Maristela Clediane Uapa Arara berusia 14 tahun dan merupakan anggota masyarakat adat Arara-Karo.

Suku pemburu-pengumpul Arara-Karo adalah salah satu dari sekitar 900.000 suku yang hidup di hutan hujan selama ribuan tahun.

Tetapi sekarang wilayah mereka yang dilindungi secara khusus berada di bawah ancaman dari para penebang dan penambang.

"Kami khawatir karena hutan sangat penting bagi kami," kata Maristela.

Image caption Maristela dan Juliana

"Hutan adalah ibu kita, dia merawat kita, jadi kita harus merawatnya karena dari dia semuanya berasal."

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, mengatakan tanah khusus dan hak budaya masyarakat adat harus dihapuskan.

Dia berjanji untuk "mengintegrasikan" mereka ke dalam populasi dan membuka sebagian tanah mereka untuk pertanian dan pertambangan.

Ini adalah kebijakan yang membuat Maristela khawatir: "Pemerintahan baru ini membenci penduduk asli, tetapi saya sangat bangga menjadi penduduk asli, dan sebagai perempuan adalah peran kami untuk memperjuangkan tanah kami."

Image caption Maristela dan sepupunya Juliana Tuiti Arara khawatir dengan masa depan mereka

Sepupu Maristela, Juliana Tuiti Arara yang berusia 22 tahun, mengatakan bukan hanya presiden dan rencananya yang membuat mereka khawatir, tapi juga serangan oleh sesama penduduk asli terhadap hutan.

"Sangat menyedihkan bagi kami, orang-orang dari luar mengkooptasi penduduk asli untuk menebangi hutan," ia menuturkan sambil menahan air mata.

"Pada tahun-tahun terakhir, kami melihat kerabat kami membunuh pohon-pohon, mereka datang dengan buldoser."

Kedua gadis ini mengatakan telah memperkuat tekad mereka untuk melindungi tanah yang diperjuangkan leluhur mereka.

"'Bertindak' bagi saya adalah kata yang sangat kuat. Kita harus bertindak, kita tidak bisa berhenti dan berdiri dengan tangan bersedekap."

Seberapa jauh mereka akan berjuang untuk tanah mereka? Maristela dan Juliana sama-sama mengatakan "até à morte" (sampai mati).

'Kita semua memiliki hak yang sama untuk menggunakan tanah'

Image caption Carina dan Rodrigo dan ayah mereka Gerson adalah petani

Bukan hanya masyarakat adat yang meyakini bahwa tanah itu milik mereka. Di bagian Brasil yang lain, Carina de Faria, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dan kakak laki-lakinya, Rodrigo, yang berusia 18 tahun, adalah generasi penerus petani.

Mereka menghabiskan waktu menggembalakan ternak, dengan dipimpin oleh ayah mereka, Gerson. Mereka ingin mengikuti jejaknya.

"Semua orang, benar-benar semua orang, membutuhkan tanah," kata Carina.

"Banyak petani membutuhkan tanah untuk menghasilkan bagi diri mereka sendiri dan untuk orang lain, secara global atau lokal. Jadi saya pikir semua orang memiliki hak itu dan harus dibagi secara adil."

Mereka memiliki 100 hektar lahan pertanian, yang dulunya adalah hutan hujan, di mana mereka menanam banyak sayuran mereka sendiri dan memelihara ternak.

Tetapi mereka juga khawatir tentang dampak deforestasi.

"Saya pikir sudah cukup hancur dan apa yang tersisa, harus dibiarkan sendiri," kata Rodrigo.

"Banyak orang yang melakukan penebangan hutan jauh lebih tua, tetapi kami kaum muda menyadari bahwa perubahan iklim sudah terjadi," tambah Carina.

"Anak-anak muda sangat terhubung melalui teknologi sehingga kita harus bekerja bersama. Dan juga tugas pemerintah untuk menemukan solusi bagi semua orang."

'Banyak petani tidak berpikiran terbuka'

Image caption Perkebunan keluarga Gustavo dilanda kebakaran yang terjadi secara ilegal Agustus lalu

Beberapa menit berkendara dengan mobil, hiduplah Gustavo yang berusia 18 tahun, yang berteman baik dengan Rodrigo.

Agustus lalu, perkebunan keluarganya dilanda kebakaran.

Kebakaran biasa terjadi selama musim kemarau dan sering disebabkan oleh peristiwa yang terjadi secara alami, tetapi kali ini berbeda.

"Kami sangat sedih dengan situasi ini karena seseorang secara ilegal membakar untuk membuka lahan demi kepentingannya dirinya sendiri," katanya.

"Kami memiliki 70% dari properti yang terbakar dan kami harus merawat ternak kami, kami kehilangan hewan juga .... kami kehilangan banyak."

Meskipun Gustavo berasal dari keluarga petani, dia mengatakan bahwa petani lain membahayakan masa depan Amazon.

"Hutan hujan tidak akan bertahan - banyak petani yang berpikiran tertutup tentang masalah lingkungan. Mereka hanya ingin membuka lahan untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan."

'Apa yang kita inginkan? Keadilan iklim! Kapan kita menginginkannya? Sekarang!'

Image caption Ana (tengah) dan Bruno (kanan) dengan tanda bertuliskan "Ada harapan di dalam kita"

Itu adalah seruan yang dapat didengar di jalan-jalan sibuk Manaus, ibukota negara bagian Amazonas Brasil.

Di kota berpenduduk dua juta jiwa ini, tepat di tengah-tengah hutan hujan Amazon, Bruno Rodrigues yang berusia 15 tahun dan teman-teman sekelasnya telah memulai sebuah kelompok bernama Conscious Next.

Mereka menghentikan orang asing untuk menyoroti bahaya perubahan iklim.

"Kami memberi tahu mereka mengapa ini sangat mendesak," Bruno menjelaskan, seraya menambahkan bahwa tidak semua yang mereka hentikan menyetujuinya.

"Akan ada beberapa orang yang tidak akan pernah mau mendengarkan apa yang dikatakan aktivis muda," katanya.

Mereka adalah bagian dari gerakan anak muda yang berkumpul bersama setiap hari Jumat untuk memprotes, di bawah spanduk "Jumat Untuk Masa Depan" yang diluncurkan oleh aktivis iklim remaja Greta Thunberg.

Ana Beatriz yang berusia lima belas tahun mengatakan keluarganya terkena dampak kebakaran Amazon. Kakaknya memiliki masalah pernapasan dan harus dibawa ke rumah sakit karena kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran.

"Saya juga sangat sedih karena pohon-pohon dan hewan-hewan terbakar di sana, itu mengejutkan saya," kenangnya.

Amazon adalah rumah bagi satu dari 10 spesies di bumi dan para ahli mengatakan kebakaran itu menewaskan lebih dari dua juta makhluk hidup, termasuk jaguar, ular, sloth dan serangga.

Terlepas dari kehancuran yang disebabkan oleh kebakaran, Bruno tetap optimis.

"Masih ada harapan dalam diri kita - kita hidup dalam aksi. Para politisi perlu mengambil tindakan praktis dan dengan ribuan dari kita anak muda di jalanan, tidak mungkin mereka mengabaikan kita."

Topik terkait

Berita terkait