Dua saudari bertemu kembali setelah 47 tahun dipisahkan Khmer Merah : 'Aku tidak pernah mengira akan melihatnya lagi'

Bun Sen and Bun Chea Hak atas foto CCF
Image caption Bun Sen (kiri) and Bun Chea (kanan) terakhir kali bertemu pada 1973

Dua saudari asal Kamboja yang masing-masing berusia 98 dan 101 tahun, kembali bertemu untuk pertama kalinya setelah 47 tahun terpisah. Selama ini, keduanya mengira bahwa saudara perempuan mereka sudah meninggal selama pemerintahan teror Khmer Merah.

Bun Sen, yang kini berusia 98 tahun, juga berkumpul kembali dengan adik laki-lakinya yang berusia 92 tahun, yang dia kira juga sudah meninggal dunia, sebut sebuah LSM setempat.

Dua saudari itu terakhir kali bertemu pada 1973, dua tahun sebelum rezim komunis Pol Pot mengambil alih Kamboja.

Sekitar dua juta orang diperkirakan meninggal dunia dibawah kekuasaan Khmer Merah.

Banyak keluarga yang tercerai berai selama periode ini. Banyak anak-anak dipisahkan dari orang tua mereka, seiring upaya rezim Khmer Merah berusaha untuk melakukan kontrol absolut atas negara.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pol Pot dan tentara Kamboja pada Mei 1979.
Hak atas foto CCF
Image caption Bun Sen juga berkumpul kembali dengan saudara laki-lakinya yang berusia 92 tahun (kiri)

Bun Sen kehilangan suaminya pada masa rezim Pol Pot, yang digulingkan pada tahun 1979 - dan akhirnya menetap di dekat tempat pembuangan sampah terkenal Stung Meanchey di ibukota, Phnom Penh.

Untuk waktu yang lama, hari-harinya dihabiskan dengan mengais sampah, mencari barang daur ulang untuk dijual, dan merawat anak-anak di lingkungan yang miskin.

Dia selalu berbicara tentang mimpinya mengunjungi desanya di provinsi Kampong Cham, hanya sekitar 90 mil di sebelah timur ibukota Phnom Penh.

Tetapi banyak faktor, termasuk usia dan ketidakmampuannya berjalan, membuat perjalanan itu terlalu sulit.


Siapakah Khmer Merah?

  • Khmer Merah yang brutal, berkuasa dari 1975 hingga 1979, merenggut nyawa sekitar dua juta orang
  • Rezim yang dipimpin Pol Pot mencoba membawa Kamboja kembali ke Abad Pertengahan, memaksa jutaan orang dari kota-kota untuk bekerja di pertanian komunal di pedesaan
  • PBB membantu mengupayakan pengadilan terhadap para pemimpin Khmer Merah yang selamat. Mereka mulai diadili pada 2009
  • Hanya tiga mantan anggota Khmer Merah yang dihukum - Kaing Guek Eav, yang menjalankan penjara Tuol Sleng yang terkenal atas perlakuan buruknya, kepala negara Khieu Samphan dan komandan kedua Pol Pot, Nuon Chea

LSM setempat, Yayasan Anak-Anak Kamboja - yang telah membantu Bun Sen sejak 2004 - kemudian mulai mencari cara agar perempuan itu bisa berkunjung ke desanya.

Baru kemudian diketahui bahwa saudara perempuan dan laki-laki Bun Sen masih hidup dan tinggal di desa tersebut.

Hak atas foto Satoshi Takahashi/Getty Images
Image caption Bun Sen tinggal di tempat pembuangan sampah Stung Meanchey, seperti yang terlihat di sini pada 2008

Setelah hampir setengah abad berpisah, Bun Sen akhirnya bertemu dengan kakak perempuannya Bun Chea dan adik laki-lakinya pekan lalu.

"Saya meninggalkan desa ini lama sekali dan tidak pernah melihat ke belakang. Saya selalu berpikir saudara perempuan dan laki-laki saya telah meninggal," tutur Bun Sen.

"Untuk bisa memeluk kakak perempuan saya adalah hal yang sangat berarti. Dan untuk pertama kalinya adik laki-laki menyentuh tangan saya, saya mulai menangis."

Hak atas foto CCF
Image caption Kedua saudari itu kemudian melakukan tur ke ibu kota Phnom Penh bersama
Hak atas foto CCF
Image caption Bun Chea, kiri dan Bun Sen memandang sungai Tonle Sap di Phnom Penh

Bun Chea, yang suaminya juga dibunuh oleh Khmer Merah, adalah janda dengan 12 anak. Dia sebelumnya meyakini adik perempuannya telah meninggal.

"Kami memiliki 13 saudara yang dibunuh oleh Pol Pot dan kami berpikir dia juga meninggal. Itu sudah lama berlalu," kata dia.

Kini, kedua saudari itu menebus waktu yang hilang. Minggu ini mereka melakukan tur ibukota bersama.

"Kami membicarakannya," kata Bun Chea. "Tapi aku tidak pernah mengira kita akan melihatnya lagi."

Berita terkait