Mengapa pelawak Inggris ini mengganti namanya menjadi Hugo Boss?

Joe Lycett alias Hugo Boss
Keterangan gambar,

Joe Lycett alias Hugo Boss

Pelawak Inggris Joe Lycett secara resmi mengganti namanya menjadi Hugo Boss sebagai bentuk protes terhadap perusahaan busana terkenal asal Jerman ini.

Perusahaan yang kerap menyebut diri mereka sebagai "Boss" ini mengirim surat kepada perusahaan kecil dan lembaga amal di Inggris agar "menghentikan dan tidak mengulangi lagi" penggunaan kata "boss" pada nama mereka.

"Jelas sekali Hugo Boss tak suka orang memakai nama mereka," cuit Joe Lycett.

BBC telah meminta komentar perusahaan busana Hugo Boss terhadap berita ini.

"Sial untuk mereka karena minggu ini saya secara hukum telah mengganti nama saya melalui akta penggantian nama dan secara resmi nama saya adalah Hugo Boss," tambah Lycett sembari memperlihatkan bukti penggantian namanya.

Pelawak ini menyebutkan langkah Hugo Boss ini telah membuat pengusaha kecil harus mengeluarkan ongkos hingga ribuan poundsterling untuk keperluan "ongkos pengacara dan branding ulang".

Salah satu kasus yang cukup menonjol dari terkait surat dari Hugo Boss ini adalah yang melibatkan sebuah perusahaan penyulingan bir bernama Boss Brewing yang berlokasi di Swansea, Wales.

Saat itu juru bicara Hugo Boss mengatakan: "Seturut upaya perusahaan penyulingan bir mendaftarkan merek dagang, kami menghampiri mereka sehubungan dengan penggunaan nama Boss dalam dua merek bir mereka."

Keterangan video,

Joe Lycett: Why I'm now called Hugo Boss

"Ini demi menghindari konflik dan kemungkinan kesalahpahaman terkait bir bermerek Boss dan Boss Black yang digunakan oleh perusahaan penyulingan ini yang sebenarnya (sudah sejak lama) merupakan merek dagang perusahaan kami".

"Perusahaan penyulingan ini bisa terus berbisnis dengan produk-produk mereka yang lain."

Menurut surat kabar i, tahun 2018 sebuah lembaga amal bernama DarkGirlBoss yang bergerak di bidang advokasi bagi perempuan kulit berwarna, juga menerima surat peringatan dari Hugo Boss ketika mereka mencoba mendaftarkan nama.

Sumber gambar, Getty Images

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Pada Senin (02/03) pagi, pelawak Joe Lycett mengatakan kepada BBC dalam acara bincang televisi yang diasuh Victoria Derbyshire: "Saya ingin Hugo Boss menghentikan langkah seperti itu, karena orang tak akan keliru dalam membedakan produk bir dan pakaian."

"Saya juga ingin mereka mengembalikan ongkos yang dikeluarkan dalam urusan ini, dan berjanji untuk menghentikan sama sekali. Lebih baik lagi kalau mereka minta maaf," kata Lycett - yang kini secara resmi bernama Hugo Boss.

Lycett, 31 tahun, seorang pelawak asal dari Birmingham, mengaku akan segera meluncurkan "produk baru dengan nama Hugo Boss" dalam siaran TV tentang pembelaan hak-hak konsumen yang dikelolanya, Joe Lycett's Got Your Back.

Tahun lalu dalam program TV tersebut, ia meniru direktur bank RBS guna menolong seorang konsumen mendapatkan kembali £8.000 uangnya yang hilang akibat penipuan.

Pelawak Inggris lain David Baddiel memuji tindakan Lycett sebagai "komitmen yang luar biasa dan brilian". Sementara itu seorang pelawak lain, Rhys James, dengan cepat menyatakan maksudnya untuk mengambil alih nama Joe Lycett.

Di laman Wikipedia, nama Joe Lycett juga sudah diganti menjadi Hugo Boss.

Kate Swaine, pengacara hak kekayaan intelektual mengatakan: "langkah Joe Lycett ini meggambarkan potensi citra negatif yang muncul ketika menjalankan program kesadaran merek.

"Bahkan ketika program itu dijalankan secara sah, pemilik merek harus sadar akan kemungkinan masalah yang muncul dari bisnis kecil dan penggunaan pribadi."

Menurut undang-undang di Inggris, siapapun yang berusia 16 tahun ke atas boleh secara hukum mengubah nama mereka.

Perusahaan Jerman Hugo Boss didirikan tahun 1924 di Metzingen, Jerman, dan diketahui luas memasok seragam untuk partai Nazi.

Tahun 2011, Hugo Boss meminta maaf untuk perlakuan buruk terhadap buruh mereka selama Perang Dunia Kedua.