Covid-19: Mengapa semakin keras upaya mendapatkan vaksin, semakin banyak kepiting belangkas yang ‘diperas’ darahnya?

Kepting tapal kuda

Banyak orang tidak tahu bahwa kesehatan kita tergantung pada kepiting yang darahnya berwarna biru. Ketergantungan itu akan jauh lebih besar seiring dengan munculnya pandemi Covid-19.

Kepiting ini disebut kepiting tapal kuda, bentuknya lebih mirip paduan antara laba-laba dan kutu raksasa. Di Indonesia, kepiting ini disebut belangkas.

Ia merupakan salah satu makhluk hidup tertua di muka bumi, lebih tua daripada dinosaurus dan telah ada sejak 450 juta tahun lalu.

Di Atlantik, kepiting tapal kuda bisa terlihat di musim semi dan mencapai puncaknya pada bulan Mei dan Juni saat air pasang pada bulan purnama.

'Fosil hidup' ini ditemukan di Samudra Atlantik, Samudra Hindia dan Pasifik, dan kepiting-kepiting itu menyelamatkan jutaan jiwa manusia.

Selama ini darah belangkas digunakan untuk menguji apakah sebuah calon vaksin aman untuk dipakai.

Kini, saat pandemi Covid-19 melanda, sekitar 200 kelompok peneliti di seluruh dunia tengah berupaya menemukan vaksin untuk memerangi Covid-19. Dari jumlah itu, sebanyak 18 di antaranya diuji kepada manusia dalam uji klinis.

Sebagian pakar menilai vaksin tersedia untuk umum pada pertengahan 2021.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Satu liter darah dari kepiting tapal kuda harganya bisa mencapai Rp213 juta.

Memanen darah

Ilmuwan mengambil darah biru kepiting tapal kuda ini sejak 1970-an, untuk menguji coba apakah alat medis dan obat intravena (obat yang masuk ke pembuluh darah) aman untuk dipakai.

Kehadiran bakteri pada alat medis dan obat bisa mematikan, dan darah dari kepiting ini sangat sensitif pada bakteri beracun.

Darah ini digunakan untuk mengetes kontaminasi pada pembuatan segala sesuatu yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke tubuh manusia - mulai dari vaksinasi, tetesan ke pembuluh darah hingga alat medis untuk dicangkokkan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Dari satu ekor kepiting tapal kuda, sekitar 30% darahnya diambil untuk keperluan tes racun dan bakteri.

Bisnis raksasa

Setiap tahun, sekitar setengah juta ekor kepiting tapal kuda Atlantik ditangkap untuk keperluan biomedis, menurut Atlantic States Marine Fisheries Commission.

Darah kepiting itu merupakan salah satu cairan paling mahal di dunia.

Satu liter harganya bisa mencapai US$15.000 (sekitar Rp213 juta).

Kenapa darah biru?

Warna biru pada darah kepiting ini berasal dari tembaga yang ada di dalam darah hewan tersebut. Pada manusia, atom besi di dalam darah memberi warna merah gelap.

Namun bukan warnanya yang membuat ilmuwan tertarik pada belangkas.

Darah kepiting ini mengandung zat kimia khusus yang menangkap bakteri dengan membekukannya.

Darah belangkas bisa mendeteksi adanya bakteri bahkan ketika jumlahnya sangat sedikit. Bagian yang membeku ini digunakan untuk membuat sarana pengetesan bakteri.

Untuk spesies dari Amerika, alat tes ini diberi nama Limulus Amebocyte Lysate (LAL), sedangkan dari spesies asal Asia diberi nama Tachypleus Amebocyte Lysate (TAL).

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Beberapa kajian memperlihatkan 30% dari kepiting tapal kuda ini mati sesudah darahnya dipanen oleh manusia.

Apa yang terjadi pada kepiting sesudah diambil darahnya?

Begitu cangkang mereka ditusuk dekat hati, sekitar 30% darahnya diambil. Selanjutnya kepiting-kepiting ini dilepaskan lagi.

Namun ada penelitian yang memperlihatkan antara 10% hingga 30% dari mereka mati akibat tindakan ini. Pada jenis kelamin betina, ditemukan bahwa mereka lebih sulit untuk menghasilkan anak.

Ini mengkhawatirkan bagi para pelestari lingkungan.

Adakah alternatif?

Saat ini ada empat spesies belangkas yang masih tersisa di dunia.

Keempat spesies ini terancam penangkapan berlebihan untuk digunakan pada industri biomedis dan sebagai umpan ikan.

Mereka juga terancam karena polusi.

Ilmuwan berpandangan bahwa kebutuhan LAL dan TAL meningkat seiring peningkatan populasi global dan manusia cenderung hidup lebih panjang.

Para pelestari lingkungan menyerukan agar tes ini diganti dengan bahan sintetis pendeteksi racun agar prosesnya lebih etis.

Namun industri farmasi mengatakan bahwa materi pendeteksi sintetis hanya bisa menguji bahan yang khusus dibuat untuk keperluan itu, bukan untuk mendeteksi racun di dunia nyata.

Pada Juni 2020, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan pihaknya belum bisa membuktikan pengganti yang lebih efektif mendeteksi racun.