Virus corona: Mengapa sulit bagi kita untuk tidak menyentuh wajah sendiri?

  • Fernando Duarte
  • BBC World Service
Perempuan

Sumber gambar, Getty Images

Salah satu yang membedakan spesies manusia dari binatang adalah kita khawatir sekali saat terjadi wabah.

Kita termasuk spesies yang diketahui menyentuh wajah tanpa kita sadari. Perilaku ini membantu penyebaran penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona.

Kenapa kita menyentuh wajah dan bisakan perilaku itu dihentikan?

'Berbahaya'

Kita menyentuh wajah kita dengan frekuensi sangat sering.

Sebuah kajian tahun 2015 yang menganalisa mahasiswa kedokteran di Australia menemukan bahwa mereka bisa menyentuh wajah lebih dari 23 kali dalam satu jam - termasuk beberapa kali menyentuh mulut, hidung dan mata.

Padahal seharusnya mahasiswa kedokteran lebih sadar akan risiko menyentuh wajah, tetapi mereka tetap tak bisa mengendalikan diri.

Berbagai lembaga kesehatan termasuk organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan sering-sering menyentuh wajah seperti ini berbahaya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Mata, hidung dan mulut merupakan pintu gerbang bagi kuman untuk memasuki tubuh kita.

Nasehat terkait penularan Covid-19 secara khusus menekankan pentingnya menahan tangan kita sesering mungkin.

Kenapa kita melakukannya?

Manusia dan beberapa primata tak bisa menahan diri seiring arah perkembangan evolusi kita.

Beberapa spesies menyentuh wajah sebagai bagian dari berdandan atau mengusir gangguan. Manusia dan primata punya alasan lain.

Menurut Dacher Keltner profesor psikologi di UC Berkeley di Amerika Serikat, itu merupakan mekanisme menenangkan diri.

Alasan lain, kita menyentuh wajah secara tak sadar untuk menggoda atau "bertindak seperti menarik tirai di panggung, menutup satu babak drama sosial untuk beralih ke babak berikut".

Ahli perilaku lain menyimpulkan bahwa menyentuh wajah sendiri merupakan cara mengendalikan emosi dan rentang perhatian kita.

Martin Grunwald, seorang psikolog Jerman dan profesor di University of Leipzig mengatakan bahwa ini merupakan "perilaku dasar spesies kita".

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Manusia dan beberapa primata merupakan beberapa spesies yang menyentuh wajah tidak hanya untuk berdandan dan mengusir gangguan.

"Menyentuh diri sendiri merupakan gerakan untuk mengelola diri yang tidak dirancang untuk berkomunikasi dan dilakukan dengan tidak sadar," kata Grunwald kepada BBC.

"Gerakan-gerakan ini memainkan peran penting dalam proses kognitif dan emosi. Ini terjadi pada semua orang," kata profesor yang menulis buku Homo Hapticus: Why we cannot live without a sense of touch, terbit tahun 2017.

Menyentuh wajah dan bagian-bagiannya seperti mata, hidung dan mulut merupakan pintu gerbang bagi penyakit untuk masuk ke tubuh kita.

Covid-19 misalnya disebarkan dari orang ke orang lewat tetesan kecil yang jatuh dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Menyentuh objek dan permukaan yang kontak dengan virus corona bisa mengakibatkan infeksi.

Namun infeksi juga terjadi sesudah kita menyentuh objek atau permukaan yang mengandung virus.

Beberapa ahli menyatakan virus corona baru ini dikenal mampu bertahan lama dan hidup di permukaan hingga sembilan hari.

Daya tahan

Daya tahan virus ini, digabung dengan kebiasaan menyentuh wajah, jadi kombinasi berbahaya.

Di tahun 2012, satu tim peneliti Amerika dan Brasil menemukan bahwa seseorang menyentuh permukaan di ruang umum lebih dari tiga kali setiap jam.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Masker wajah bisa melindungi diri kita dari menyentuh wajah kita sendiri.

Mereka juga menyentuh mulut atau hidung "sekitar 3,6 kali setiap jam".

Ini lebih sedikit daripada rata-rata 23 kali per jam seperti yang ditemukan pada mahasiswa kedokteran Australia.

Penyebabnya, para mahasiswa ini diamati ketika duduk di ruang kelas yang sedikit gangguannya ketimbang di luar ruang.

Bagi beberapa ahli kesehatan, kecenderungan untuk menyentuh wajah sendiri merupakan alasan yang lebih kuat untuk memakai masker wajah sebagai alat untuk melindungi dari virus, daripada memakai masker sebagai penyaring.

"Memakai masker bisa mengurangi kecenderungan bagi orang untuk menyentuh wajah mereka yang merupakan sumber utama infeksi apabila tangan mereka kotor," kata Stephen Griffin profesor dari Universitas Leeds.

Langkah yang bisa dilakukan?

Ilmuwan yang mempelajari perilaku, Michael Hallsworth, dari Universitas Columbia, menjelaskan bahwa sangat sulit untuk menjalankan nasehat ini ke dalam praktik.

"Meminta orang menghentikan sesuatu yang terjadi secara bawah sadar adalah masalah yang tak pernah selesai," katanya kepada BBC.

"Lebih mudah bagi orang untuk lebih sering cuci tangan daripada untuk mengurangi kecenderungan mereka menyentuh wajah," katanya.

"Tak ada gunanya meminta orang menghentikan perilaku yang tidak mereka sadari".

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Bagaimana caranya menghentikan perbuatan yang tidak kita sadari.

Namun Hallsworth melihat ada beberapa teknik yang bisa membantu.

Salah satunya adalah lebih sadar berapa sering kita menyentuh wajah kita sendiri.

"Ketika ada kebutuhan fisik seperti gatal, misalnya, kita bisa mengganti perilaku menyentuh wajah"

"Gunakan punggung tangan. Risiko akan berkurang, sekalipun itu bukan solusi ideal".

Mengenali pemicu

Ahli perilaku juga mengusulkan kita memahami kenapa kita menyentuh wajah sendiri.

"Jika kita kenali situasi yang memicu kita menyentuh wajah, kita bisa bertindak mengatasi itu," kata Hallsworth.

"Orang yang sering menyentuh mata bisa memakai kacamata".

"Atau duduki saja tanganmu ketika ada perasaan ingin menyentuh wajah".

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Fidget spinner seperti ini bisa membantu membuat tangan sibuk sehingga kita tidak menyentuh wajah.

Kita juga bisa memakai metode menyibukkan tangan misalnya dengan menggunakan fidget spinners atau bola untuk mengatasi stress, misalnya.

Namun alat-alat ini harus sering didisinfeksi.

"Catatan buat diri sendiri" untuk tak menyentuh wajah juga bisa membantu.

"Jika Anda tahu punya perilaku kompulsif, mereka bisa minta tolong anggota keluarga atau teman untuk mengingatkan," ujar Michael Hallsworth.

Bagaimana dengan menggunakan sarung tangan? Ini ide buruk kecuali apabila diganti atau dicuci sesering Anda mencuci tangan sendiri.

Jika tidak, sarung tangan justru jadi permukaan yang terkontaminasi.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Cuci tangan tidak bisa dianggap remeh.

Cuci tangan tetap unggul

Pada akhirnya, tak ada yang menggantikan pentingnya cuci tangan dan perhatian ekstra.

"Kita tak perlu menunggu vaksin dan obat," kata Direjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konperensi pers tanggal 28 Februari.

"Ada hal-hal yang bisa dilakukan tiap orang untuk melindungi diri sendiri dan orang lain sekarang juga," kata Dr Tedros.