Kisah gadis Asia jalin hubungan dengan laki-laki kulit hitam

Ithra dan Tumelo
Keterangan gambar,

Hubungan Ithra, gadis Asia di Afrika Selatan dengan laki-laki kulit hitam, Tumelo, awalnya ditentang oleh kakek dan neneknya.

Sejak berakhirnya apartheid, bahkan beberapa tahun sebelum itu, anak-anak muda di Afrika Selatan bebas berkencan dengan siapa saja.

Meski begitu, hubungan percintaan antara orang-orang kulit hitam dan orang-orang Asia bisa dikatakan jarang.

Dan sering kali, persetujuan orang tua atau keluarga atas hubungan dua kelompok yang berbeda latar belakang ini tak begitu saja mudah didapatkan.

#Blasian

Pasangan kekasih, Ithra dan Tumelo, sama-sama berada di tahun terakhir jurusan kedokteran di Universitas Wits di Johannesburg, Afrika.

Mereka kenal ketika memulai studi dan resmi berpacaran pada tahun ketiga.

Di satu angkatan di jurusan kedokteran, yang terdiri dari sekitar 300 mahasiswa, hanya mereka yang blasian, sebutan untuk pasangan kulit hitam dan Asia.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Di media sosial, sebutan dan tanda pagar #Blasian makin sering dipakai.

Kadang tagar ini juga dimanfaatkan untuk mengungkap tantangan-tantangan yang mereka hadapi.

Baik Ithra maupun Tumelo pernah menjalin hubungan dengan pasangan dari ras atau etnik lain dan relatif tidak mendapat sorotan dari masyarakat.

"Kalau Anda menjalin hubungan dengan orang kulit putih, misalnya, orang-orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa,” kata Tumelo.

“Orang-orang bisa menerimanya … mungkin di era pasca-apartheid, orang-orang sepertinya punya tingkatan soal ras atau etnik [mana yang bisa menjadi pasangan],” lanjutnya.

‘Generasi orang bebas’

Kebijakan apartheid, yang memisahkan warga berdasarkan ras, resmi berakhir pada 1994 ketika Nelson Mandela menjadi pemimpin Afrika Selatan.

Pada tahun 1994 itu pula Ithra dan Tumelo lahir.

Mereka yang lahir pada tahun ini dikenal sebagai “generasi orang-orang bebas”.

Saat ini, jumlah “generasi orang-orang bebas” sekitar 40% dari total penduduk di Afrika Selatan.

Keterangan gambar,

Keluarga Tumelo dan keluarga Ithra memiliki latar belakang ras dan agama yang berbeda.

Ini adalah kelompok usia pertama di negara tersebut yang memiliki kebebasan untuk bekerja, menggunakan hak suara, dan tentu menjalin hubungan dengan siapa saja yang mereka kehendaki.

Keluarga Ithra berasal dari Melayu Cape, yang banyak didiami oleh warga etnik Asia di Afrika Selatan.

Mereka telah berada di sana selama beberapa generasi.

Ithra berasal dari keluarga liberal. Sang ibu, Rayana, dikenal aktif menentang apartheid.

Meski demikian, tak semuanya siap ketika Ithra menjalin hubungan asmara dengan Tumelo.

Bahkan, saat keluarga besar tahu bahwa Ithra berpacaran dengan Tumelo, tiba-tiba saja terjadi eksodus di grup Whatsapp keluarga.

Awalnya Ithra tak menyadari perkembangan ini.

Ithra tahu setelah nenek menelepon saudara perempuannya.

Dalam pembicaraan telepon tersebut, nenek khawatir dengan respons negatif dari warga begitu tahu bahwa Ithra menjalin hubungan dengan laki-laki kulit hitam.

Sebegitu buruk situasinya, nenek tak berbicara dengan Ithra selama hampir tiga bulan.

Sang ibu kemudian turun tangan. Ia mencoba menjelaskan sikap nenek ke Ithra.

“Saya jelaskan bahwa mungkin nenek menentang hubungan karena pengalamannya saat era apartheid dulu,” kata Rayana, ibu Ithra, kepada wartawan BBC untuk urusan gender dan identitas Megha Mohan.

Pembicaraan berlangsung hangat. Rayana menceritakan bagaimana ia pindah dari Kenya dan harus membesarkan empat anak perempuan sampai ia kemudian menikah lagi.

Ketika pembicaraan tengah berlangsung, Ithra menerima kabar bahwa ia dan Tumelo diterima sebagai dokter muda dan akan berpraktik di satu rumah sakit di Cape Town, sekitar 1.000 km dari Johannesburg.

Keterangan gambar,

Persetujuan pihak keluarga ditandai dengan pertemuan dan makan bersama.

Kabar ini membuat Iman, saudara Ithra, khawatir.

Ia mengkhawatirkan tanggapan negatif masyarakat atas hubungan antara Tumelo dan Ithra.

Ia juga mengkhawatirkan serangan terhadap Tumelo dan Ithra di Twitter.

Apakah Tumelo akan diterima?

Kakek dan nenek Ithra, Washiela dan Ashraf, berbicara secara terbuka mengapa mereka masih sulit menerima Tumelo.

Keduanya mengaku masih memegang pandangan lama soal hubungan antar ras di Afrika Selatan.

Di era apartheid, masyarakat secara garis besar dibagi menjadi tiga: kaum kulit putih, kulit berwarna, dan kulit hitam.

Di era ketika orang-orang kulit memegang kekuasaan, orang-orang berkulit berwarna, seperti keluarga Ithra, mendapatkan perlakukan yang relatif lebih baik dibandingkan orang-orang kulit hitam.

Washiela mengatakan akan lebih baik jika Ithra tidak menjalin hubungan dengan orang kulit hitam.

Ia melanjutkan bahwa ia sadar dengan mengambil sikap itu, maka ia tergolong rasis.

“Jujur saja, kami berasal dari era apartheid … stigma [terhadap orang-orang kulit hitam] itu masih ada. Ini belum hilang sepenuhnya,” katanya.

“Tapi kemudian ini terjadi di keluarga kami [di mana ada anggota keluarga yang menjalin hubungan dengan orang kulit hitam]. Ya, [mau tak mau] harus diterima, ini kan negara yang menjunjung tinggi keberagaman,” kata Washiela.

Survei menunjukkan, pada 2003 sekitar 47% responden menyetujui perkawinan antarras. Data ini nyaris tak berubah ketika survei yang sama dilakukan pada 2015, meski jumlah yang menentang menurun tipis.

Di sisi lain, perkawinan antara warga Asia dan warga kulit hitam meningkat.

Pada 1996, perkawinan di antara ras yang berbeda proporsinya adalah 1:300, sedangkan pada 2011, proporsinya 1:100.

Paula Quinsee, penasehat perkawinan di Johannesburg, mengatakan ada tantangan tersendiri bagi warga Asia untuk menjalin hubungan dengan warga kulit hitam.

Berkembang asumsi, kata Quinsee, kalau orang Asia menikah dengan orang kulit putih, masyarakat akan menganggap bahwa ia “mengalami peningkatan strata sosial”.

Ini adalah pengaruh pola pikir apartheid, kata Quinsee.

Pertemuan yang menentukan

Kabar baik akhirnya datang. Keluarga Ithra dan keluarga Tumelo sepakat untuk saling kenal, sekaligus sebagai pertanda bahwa mereka merestui hubungan ini.

Disepakati pertemuan dilangsungkan di rumah keluarga Tumelo.

Sejak pagi, ibu Tumelo menyiapkan aneka makanan termasuk babat dan kaki ayam. Ia juga secara khusus menyediakan daging halal.

Keluarga Tumelo adalah keluarga Kristen sementara Ithra dan keluarganya memeluk Islam.

Ithra dan keluarganya membawa makanan khas India: biryani dan ayam tandoori.

Ada sambutan-sambutan sebelum jamuan disantap.

Semuanya bahagia, termasuk tentu saja Tumelo dan Ithra.