Virus corona: Kiat-kiat menjalin 'LDR' dengan orang terkasih

  • Emily Kasriel
  • BBC News

Berbagai pembatasan untuk menangkal virus corona telah membuat banyak orang tidak bisa menemui keluarga dan kawan-kawan mereka secara langsung. Bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang lebih bermakna saat menggunakan sambungan telepon atau aplikasi video? Para pakar memberikan kiat-kiat berikut ini.

Menjalin hubungan dengan pendengaran

Saat rindu bertemu kawan-kawan, kita bisa tergoda untuk melakukan banyak panggilan video. Namun penelitian menunjukkan kita mungkin lebih baik dalam mendeteksi emosi orang lain tanpa petunjuk visual.

Kiat dari kami:

  • Diam itu emas: Ini sulit dilakukan dalam percakapan telepon, karena orang bisa mengira keheningan sebagai tanda saluran telepon terputus. Tapi sama-sama diam bisa membuat kita merasa dekat. Selain itu, fakta bahwa kita mendengarkan secara suportif memungkinkan si pembicara memiliki pemikiran kreatif yang jauh lebih kaya saat mereka diam.
  • Waktu bicara yang sama: Dalam obrolan dengan teman atau orang tua, kita perlu memastikan waktu bicara dibagi secara merata antara kedua belah pihak. Tidak ada gunanya menelepon ibu Anda dan hanya bicara di depan wajahnya selama 30 menit.
  • Menyimak dengan penuh perhatian: Menggunakan teknik yang disebut "deep listening" bisa membuat lawan bicara Anda merasa benar-benar dipahami. Teknik ini meliputi memberikan semua perhatian kita kepada lawan bicara, mendengarkan dengan rasa ingin tahu dan tanpa menghakimi kata-kata, emosi, dan makna yang mendasarinya, kemudian meringkas pandangan mereka untuk memastikan bahwa Anda mengerti.

Sumber: Profesor psikologi Christian van Nieuwerburgh, dari University of East London, dan pakar neurosains yang berbasis di AS David Eagleman.

Menjalin hubungan dengan pandangan

"Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memperbanyak kontak mata, orang lain jadi lebih memperhatikan kita," kata Profesor Jeremy Bailenson, direktur pendiri Laboratorium Virtual Interaksi Manusia di Universitas Stanford.

Namun panggilan video memberikan tantangan tersendiri karena pada banyak gawai, kamera terletak pada sisi layar.

"Kita harus memilih antara menatap mata seseorang dan membaca sinyal nonverbal, seperti wajah yang penasaran," kata Profesor Bailenson.

"Selama 30 tahun, perusahaan konferensi video telah mencoba semua jenis perangkat untuk memecahkan masalah kontak mata tetapi belum ada yang berhasil mengatasinya."

Ia juga menyinggung "masalah latensi" — jeda waktu antara suatu tindakan dan penampakannya di layar, antara suara dan gerakan.

Meski hanya sepersepuluh hingga seperempat detik, jeda itu juga memengaruhi kemampuan kita untuk terhubung.

Bridget Waller, profesor psikologi evolusioner di Universitas Portsmouth, mengatakan bahwa membaca ekspresi wajah seseorang menjadi sangat menantang saat berada dalam obrolan video grup, karena kita kehilangan "isyarat tatapan".

"Dari semua primata, manusia memiliki proporsi warna putih terbesar di bola mata kita, yang disebut sklera. Bagian itu terkait dengan kemampuan mendeteksi obyek yang dilihat oleh orang lain," katanya.

"Keahlian ini sangat penting bagi spesies kita tetapi tidak dapat digunakan saat panggilan video grup karena semua orang menatap layar masing-masing."

Kiat dari kami:

  • Naikkan posisi laptop Anda: Ini berarti jika kamera terhubung ke komputer Anda, posisinya akan sejajar dengan mata.
  • Gambar wajah pada stiker: Letakkan di sebelah kamera untuk menarik pandangan Anda.
  • Sembunyikan gambar diri Anda: Ini bisa menghambat hubungan dengan orang lain karena kita jadi terganggu oleh wajah kita sendiri.
  • Ubah latar belakang virtual Anda: Cobalah gunakan latar belakang bersama; misalnya, semua orang dalam obrolan dikelilingi pohon-pohon palem. Elemen-elemen yang terhubung secara visual terasa seolah-olah lebih terkait.

Sumber: Profesor Jeremy Bailenson.

Menjalin hubungan tanpa sentuhan

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Carey Jewitt, profesor teknologi dan komunikasi di University College London, percaya bahwa kurangnya sentuhan dalam percakapan online menghadirkan tantangan terbesar.

"Sentuhan adalah indera pertama kita, kita merasakannya di dalam rahim dan itu adalah kunci untuk memberi dan menerima informasi serta membantu kita menjalin ikatan," katanya.

Penelitian menunjukkan bahwa emosi dan sentuhan berkaitan erat.

Di tempat ramai, misalnya, ada kehangatan dan kenyamanan yang timbul karena berada di dekat orang-orang.

Meskipun mungkin tidak benar-benar bersentuhan, kita begitu dekat sehingga merasa tersentuh.

Tim Profesor Jewitt tengah meneliti cara-cara supaya orang bisa bersentuhan secara virsual, dengan mengirimkan getaran panas dan tekanan kepada orang lain melalui perangkat yang dapat dikenakan.

Mereka sedang menguji coba jaket yang mengembang dan memberi Anda perasaan sedang dipeluk ketika pasangan Anda memberi pesan. Salah seorang peserta uji coba mengatakan: "Meskipun itu mesin yang menekan saya, saya merasa Andalah yang sedang memeluk saya."

Kiat dari kami:

  • Rasakan koneksinya: Pembatasan anti-coronavirus membuat kita semua harus melakukan isolasi dan menghadapi tantangan masing-masing. Tapi ini adalah krisis pertama yang di dalamnya kita semua mengalami sesuatu bersama-sama. Ada ruang untuk melatih empati sejati.
  • Buat gestur-gestur baru: Misalnya, coba sentuh hati Anda dan rasakan energi di sana untuk menyampaikan emosi yang kuat di luar kata-kata dan membantu menjalin hubungan lewat layar.
  • Tunjukkan kerentanan: Untuk membangun keintiman, akuilah sesuatu yang bersifat pribadi di awal percakapan.
  • Ciptakan tempat yang aman: Terutama di saat ketidakpastian, komunikasikan parameter: "Panggilan ini berdurasi 30 menit, ini adalah kesempatan untuk berbicara tentang perasaan Anda dan saya benar-benar tertarik untuk mendengarkan apa yang Anda katakan."

Sumber: Profesor Christian van Nieuwerburgh.

Ilustrasi oleh Emily Kasriel. Riset tambahan oleh Kate Provornaya.