PSBB: Jarak aman cegah penyebaran Covid-19, satu atau dua meter?

Jaga jarak

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar,

Pihak berwenang di banyak negara menerapkan aturan yang berbeda soal jaga jarak yang aman. Di Indonesia minimal satu meter.

Sejumlah pemerintah menerapkan anjuran yang berbeda tentang jarak yang dianggap aman di antara orang-orang untuk mencegah penularan virus corona.

Pemerintah China, Denmark, Prancis, Hong Kong, Lithuania, dan Singapura menganjurkan jarak satu meter dengan orang lain, sementara Korea Selatan menganjurkan jarak minimal 1,4 meter.

Pihak berwenang di Australia, Belgia, Jerman, Yunani, Italia, Belanda, dan Portugal menganjurkan bahwa jaga jarak minimal 1,5 meter.

Di Amerika Serikat, pemerintah menganjurkan jaga jarak 1,8 meter. Inggris, Spanyol, dan Kanada mengatakan jaga jarak dalam penerapan physical distancing adalah dua meter.

Pemerintah Indonesia, seperti dimuat di situs resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, meminta warga untuk menjaga jarak sekitar satu meter ketika beraktivitas di luar ruangan atau tempat umum, seperti anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mana yang paling aman?

Jawaban pendeknya adalah, semakin dekat kita ke orang lain, makin besar kemungkinan kita terkena virus.

Tak cuma soal jarak

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar,

Jaga jarak dimaksukan untuk menekan penularan virus corona.

Para ahli mengatakan kemungkinan kita terkena virus corona tidak seluruhnya tergantung dengan faktor jarak.

Waktu juga memegang peran kunci. Semakin lama kita dekat dengan orang lain yang terinfeksi, semakin tinggi pula risiko yang kita hadapi untuk tertular.

Para ilmuwan yang bertugas memberi masukan ke pemerintah Inggris mengatakan, enam detik bersama seseorang dengan jarak satu meter sama dengan satu menit bersama seseorang dengan jarak dua meter.

Berada di dekat orang yang batuk-batuk juga meningkatkan risiko terkena virus.

Gambarannya, risiko tertular virus dari orang yang batuk yang berjarak dua meter sama dengan risiko yang kita dapat dari berbicara dengan seseorang selama setengah jam dengan jarak dua meter.

Apa hasil penelitian sejauh ini?

Dalam satu kajian yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet, sejumlah ilmuwan mengevaluasi penelitian belum lama ini tentang bagaimana virus corona menyebar.

Mereka menyimpulkan bahwa menjaga jarak minimal satu meter bisa menjadi cara terbaik untuk menekan kemungkinan terkena infeksi.

Dalam perhitungan para ilmuwan, risiko terkena virus adalah 13% jika kita berada dalam jarak satu meter atau kurang dari satu meter. Jika kita berada lebih dari satu meter, risiko tertular hanya 3%.

Kajian ini menyimpulkan, setiap kali kita menambah jarak menjadi satu meter lebih panjang, risiko tertular berkurang setengah.

Dari mana aturan jaga jarak berasal?

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Di Inggris, jaga jarak yang dianjurkan adalah dua meter, sementara WHO mengatakan minimal satu meter.

Aturan jaga jarak untuk menekan penularan penyakit bermula dari penelitian yang dilakukan pada 1930-an.

Para ilmuwan menemukan bahwa cipratan cairan dari batuk atau bersin menguap dengan cepat di udara atau jatuh ke tanah.

Sebagian besar cipratan ini, menurut penelitian mereka, berjatuhan dalam jarak satu hingga dua meter.

Itulah sebabnya kita memiliki risiko terbesar untuk tertular jika berada dekat dengan orang yang batuk, atau memegang permukaan di dekat orang yang batuk tersebut dan kita kemudian menyentuh wajah kita.

Bagaimana virus menyebar?

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Para ilmuwan berpendapat kedekatan dan sentuhan di permukaan adalah metode utama penularan.

Namun sejumlah peneliti khawatir virus corona juga bisa menyebar melalui partikel kecil di udara yang disebut aerosol.

Jika memang demikian faktanya, maka hembusan napas seseorang juga bisa membawa virus.

Lydia Bourouiba, guru besar di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menggunakan kamera kecepatan tinggi untuk menangkap butiran cipratan orang yang batuk, yang bisa terlempar hingga enam meter.

Dan penelitian yang dilakukan di sejumlah rumah sakit di China, tempat ditemukan jejak-jejak virus corona di bangsal dan unit perawatan intensif, menunjukkan jaga jarak yang aman adalah empat meter.

Namun lembaga Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan penyebaran virus melalui aerosol sejauh ini "belum bisa dipastikan memang benar terjadi".

Dan yang juga belum dipastikan adalah apakah virus yang menyebar dalam jangkauan lebih dari dua meter memiliki tingkat infeksi yang sama dengan virus yang berada lebih dekat dengan kita.

Tindakan lain apa yang bisa kita lakukan?

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Otorita kesehatan di banyak negara menganjurkan warga memakai masker ketika berada di ruangan tertutup atau di transportasi umum.

Kesepakatan umum yang berlaku saat ini adalah infeksi lebih besar kemungkinannya terjadi di dalam ruangan.

Para peneliti Jepang, yang melakukan kajian terhadap 110 kasus virus corona dan menelusuri pola kontak dengan orang-orang yang terinfeksi, mengatakan penularan di dalam ruangan 19 kali lebih besar dibandingkan di luar ruangan.

Di banyak negara, warga disarankan memakai masker ketika berada di transportasi umum atau saat berada di ruangan tertutup dan tak dimungkinkan jaga jarak secara maksimal.

Mengapa belum ada jawaban yang pasti?

Wabah virus corona baru muncul sejak beberapa bulan lalu dan dalam periode yang pendek ini para ahli sudah banyak mendapatkan informasi dan mengambil pelajaran.

Namun diperlukan waktu panjang untuk mengetahui secara pasti jaga jarak yang aman.

Penelitian dan kajian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa dilakukan secara gegabah dan kesimpulannya nanti masih harus diuji.

Dan ini semua tak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.