George Floyd: Patung tokoh perbudakan diturunkan dari halaman museum London - patung eks PM Inggris dan Raja Belgia dikotori

Patung Robert Miligan saat diturunkan dari landasannya.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Patung Robert Milligan, saudagar ternama sekaligus pedagang budak di Inggris diturunkan sebagai bagian dari tuntutan anti-rasisme

Patung Robert Milligan, seorang pedagang budak sekaligus pengusaha kebun gula di Inggris, diturunkan dari halaman Museum London Docklands.

Patung Milligan adalah patung kedua yang diturunkan di Inggris. Minggu lalu, pengunjuk rasa anti-rasisme di Bristol telah menumbangkan patung Edward Colston, seorang tokoh kontroversial sekaligus pedagang budak.

Di luar Inggris, ada sejumlah patung orang-orang yang mendukung perbudakan dicoreti, dibakar dan dirobohkan di sejumlah kota di Eropa dan AS.

Namun ada yang menolak dan menganggap patung-patung itu adalah bukti sejarah adanya perbudakan itu sendiri.

Sebelumnya, Wali Kota London Sadiq Khan mengumumkan seluruh patung, nama jalan dan hal-hal yang terkait dengan perbudakan "harus diturunkan".

Patung Milligan telah diturunkan untuk "menghargai harapan dari komunitas" kata lembaga Canal and River Trust.

Penumbangan patung Milligan dengan menggunakan alat berat ini disertai dengan sorak-sorai dan tepuk tangan.

Pihak Museum London Docklands mengatakan, patung pedagang budak terkemuka di Inggris, yang memiliki dua perkebunan gula dan 526 budak di Jamaika, sudah "berdiri dengan tidak nyaman" di halaman gedung "untuk waktu yang lama".

"Pihak Museum mengakui bahwa monumen tersebut merupakan bagian dari sejarah rezim bermasalah tentang pencucian dosa kulit putih, yang mengabaikan penderitaan orang-orang yang masih berkutat dengan sisa-sisa kejahatan Milligan terhadap kemanusiaan," tambah mereka.

Canal and River Trust mengatakan, penumbangan patung simbol perbudakaan ini hasil kerja sama dengan London Borough of Tower Hamlets, museum sekaligus partner di kawasan distrik bisnis di London, Canary Wharf.

Saat patung Milligan diturunkan dari pondasinya, ribuan orang berkumpul di luar gedung kampus Oxford dan mereka menuntut agar patung imperialis 'Cecil Rhodes' juga ikut diturunkan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Milligan adalah seorang pedagang budak sekaligus pendiri pusat perdagangan global, West India Docks.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Wali Kota mengatakan, London telah menghadapi "sebuah kebenaran yang tidak mengenakkan" dengan sejarah yang terhubung dengan perbudakan.

Komisi Keberagaman untuk Ranah Publik akan mengkaji ulang ruang kota, termasuk mural, kesenian jalanan, nama jalan, patung dan simbol sejarah, dan akan mempertimbangkan hal-hal mana saja yang harus dipertahankan sebelum membuat rekomendasi.

Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, London adalah "salah satu kota paling beragam di dunia", tapi para pengunjuk rasa 'Black Lives Matter' telah menyinggung sebagian patung-patung, plakat, dan nama-nama jalan yang mencerminkan kejayaan era Victoria.

"Ini adalah sebuah kebenaran yang tidak mengenakkan, bahwa negara dan kota kita berutang besar pada kesejahteraan yang dihasilkan dari perdagangan budak," katanya.

"Sementara, hal ini tercermin di ranah di publik, kontribusi dari banyaknya komunitas untuk kehidupan di ibukota, telah sengaja diabaikan."

Sejak gelombang unjuk rasa anti-rasisme di London pada Minggu, sebuah patung, Winston Churchill di halaman parlemen telah diwarnai dengan coretan cat.

Tapi, Khan mengatakan, dia tidak menganggap patung-patung seperti Churcill temasuk yang sedang dikaji untuk ditumbangkan.

Dia mengatakan, anak-anak butuh untuk mendapat pendidikan tentang tokoh terkenal, termasuk "sisi buruknya" dan itu "tidak ada yang sempurna", termasuk Churcill, Gandhi, dan Malcolm X.

Keterangan gambar,

Patung Robert Milligan ditutupi dengan kain dan tanda tulisan 'Black Lives Matter' sebelum ditumbangkan.

Khan mengatakan kepada program BBC Radio 4's Today, bahwa patung-patung dan wilayah patung tersebut bukanlah milik pribadi. Dia menambahkan, ini akan "tidak pantas" untuk mengkhususkan patung dan nama-nama jalan, yang harus ditumbangkan.

Sebaliknya, sejumlah monumen bersejarah baru di ibu kota telah dijanjikan oleh Khan, termasuk untuk Stephen Lawrence, generasi Windrush, Museum Perbudakan Nasional atau peringatan, dan Peringatan Perang Sikh Nasional.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Patung Sir Winston Churchill telah disemprot dengan cat selama unjuk rasa Black Lives Matter

Asosiasi Pemerintah Daerah (LGA) dari kelompok buruh juga mengumumkan bahwa dewan buruh di Inggris dan Wales sedang mengkaji ulang apa yang disebut "ketidakpantasan" dari monumen-monumen dan patung-patung di daerah mereka.

Kampanye yang menuntut penghapusan atau adanya amandemen tentang monumen tokoh-tokoh sejarah yang kontroversial telah meningkat di wilayah Inggris dalam beberapa hari terakhir.

Di Oxford, sebanyak 26 anggota dewan menuntut patung yang disebut sebagai imperialis "Cecil Rhodes" diturunkan dari kawasan kampus Oxford.

Sebuah plakat telah dimasukkan ke monumen Hendry Dundas di Edinburgh untuk mencerminkan kota terkait dengan perbudakan, sementara pimpinan Dewan Cardiff mengatakan dia akan mendukung penurunan patung Sir Thomas Picton dari kawasan kota karena sejarah atas kepemilikan budak.

Patung-patung di London terkait dengan sejarah perbudakan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Patung Sir Thomas Guy

  • Sir Thomas Guy (dalam gambar) mendapatkan kekayaannya melalui kepemilikan saham di South Sea Company, yang tujuan utamanya untuk menjual budak kepada koloni Spanyol
  • Robert Milligan adalah saudagar di India Barat yang terkenal, pedagang budak sekaligus pendiri pusat perdagangan global, West India Docks.
  • Sir John Cass, selain mendirikan badan amal pendidikan, ia adalah tokoh utama yang mengawali perkembangan perdagangan budak dan roda perekonomian budak di Atlantik. Ia juga berurusan langsung dengan agen-agen penjual budak di Afrika dan Karibia.

Patung-patung apa lagi yang dikotori, dirobohkan, dan dibakar?

Ketika para pemrotes antirasisme di Inggris menurunkan patung Edward Colston, pedagang budak abad ke-17, dan membuangnya di perairan di pelabuhan, pesannya sangat jelas.

Tetapi ingatan atas dirinya, yaitu karena kekayaannya yang melimpah, menguntungkan dirinya dan membuatnya dihormati selama berabad-abad di kota asalnya, Bristol.

Ketika pemerintah Inggris mengutuk tindakan penurunan patung Colston pada hari Minggu, sebaliknya pengunjuk rasa berharap aksi tersebut sebagai tanda perubahan.

Sejarawan Prof David Olusoga mengatakan kepada BBC News bahwa patung itu seharusnya diturunkan sejak lama.

"Patung seakan mengatakan 'Ini adalah orang hebat yang melakukan hal-hal besar.' Itu tidak benar, dia [Colston] adalah pedagang budak dan pembunuh. "

Protes berskala global, seperti yang terjadi di Bristol, menyoroti sejarah kolonial atau sejarah perbudakan - berikut tokoh-tokoh yang mewakilinya.

Henry Dundas

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar,

Semasa hidupnya, Henry Dundas berupaya agar perbudakan terus berlangsung.

Sebuah monumen di ibu kota Skotlandia, Edinburgh, yang didirikan untuk menghormati seorang politikus yang menunda penghapusan perbudakan, dicat dengan tulisan "George Floyd" dan "BLM" (untuk Black Lives Matters).

Monumen Melville setinggi 46 meter, yang menjulang di St Andrew Square, Edinburgh, didirikan pada 1823 untuk mengenang sosok Henry Dundas.

Dundas adalah salah seorang politikus paling berpengaruh di negara itu pada abad ke-18 dan ke-19 dan dijuluki "the uncrowned king".

Dia mengajukan amandemen rancangan undang-undang yang akan menghapus perbudakan pada 1792, dan memilih pendekatan yang lebih "bertahap".

Tindakan seperti ini membuat praktik perbudakan berlanjut selama 15 tahun lebih lama ketimbang yang seharusnya dilakukan.

Keterangan gambar,

Coretan mewarnai dasar Monumen Melville.

Ribuan orang telah menandatangani petisi yang menyerukan agar monumen itu diturunkan.

Di tengah aksi protes atas keberadaan monumen itu, otoritas resmi telah mengumumkan bahwa sebuah plakat akan ditambahkan pada patung itu yang berisi informasi "reflektif" yang detil tentang kaitan kota itu dengan perbudakan.

"Kita perlu menceritakan kisah kita dan memastikan masyarakat memahami peran Edinburgh di dunia secara historis - bukan hanya bagian yang kita banggakan, tetapi bagian lain yang juga membuat kita malu," kata pemimpin Dewan Kota Edinburgh, Adam McVey kepada BBC Skotlandia.

Raja Leopold II

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Patung Raja Leopold II di Antwerp dibakar dan dicat merah.

Sekelompok masyarakat di Belgia menyerukan agar patung-patung Leopold II, sosok raja yang paling lama memerintah negara itu, dibongkar.

Petisi secara online yang menuntut pembongkaran patung-patung tersebut telah berhasil mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan, sementara sejumlah pengunjuk rasa antirasisme mengambil aksi lebih langsung.

Patung raja era kolonial di kota Ghent, Belgia, dilumuri cat merah, dengan kain bertuliskan "Saya tidak bisa bernapas" menutupi kepalanya.

Kata-kata "saya tidak bernapas" diucapkan George Floyd ketika seorang perwira polisi kulit putih berlutut di lehernya hingga George meninggal, yang kemudian menjadi pemicu aksi protes berskala global baru-baru ini.

Di Antwerpen, patung Leopold II lainnya dibakar oleh pengunjuk rasa dan kemudian dipindahkan oleh otoritas setempat. Disebutkan patung itu dipindahkan ke museum.

Sementara, di ibu kota Brussels, patung sang raja ditandai dengan kata "pembunuh".

Raja Leopold II memerintah Belgia dari 1865 hingga 1909, tetapi dia paling diingat karena warisannya yang mengerikan di Republik Demokratik Kongo (DRC).

Antara 1885 dan 1908, raja dari salah satu negara terkecil di Eropa itu mendirikan DRC, yang saat itu dikenal sebagai Congo Free State, koloni pribadinya.

Dia mengubahnya menjadi kamp kerja paksa besar-besaran, dan mengeruk banyak keuntungan ekonomi dari perdagangan karet. Mereka yang menentang kerja paksa acapkali ditembak, dan pasukan Leopold diperintahkan untuk mengumpulkan tangan para korban.

Selama Leopold memerintah Kongo, terjadi kematian massal sekitar 10 juta orang. Dia juga menempatkan rakyat Kongo ke dalam kebun binatang khusus manusia di Belgia.

Dia terpaksa melepaskan kekuasaannya atas DRC pada 1908, tetapi negara itu tidak pernah mendapatkan kemerdekaan dari Belgia sampai tahun 1960.

Beberapa pihak yang menentang pemindahan patung beralasan, Belgia menjadi negara makmur karena peran Leopold II.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar,

Monumen Robert E Lee di Virginia dicoreti kata-kata antirasisme

Robert E Lee

Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat, memindahkan patung Jenderal Robert E Lee, komandan perang koalisi Konfederasi selama Perang Sipil, yang telah dirusak selama aksi-aksi protes George Floyd.

Saat mengumumkan keputusan untuk memindahkan monumen seberat 12 ton, yang didirikan pada 1890, Gubernur Ralph Northam mengatakan: "Kami tidak lagi mengajarkan versi sejarah yang palsu.

"Patung ini sudah lama berdiri di sana. Tapi kemudian keberadaan patung itu salah, dan saat ini salah. Jadi kita merobohkannya."

Patung ini merupakan salah satu dari lima patung Konfederasi di Monument Avenue, di ibu kota negara bagian Richmond, yang telah ditandai dengan coretan-coretan selama aksi protes, termasuk pesan "hentikan supremasi kulit putih".

Robert E Lee adalah komandan Angkatan Darat Konfederasi yang pro-perbudakan, sebuah koalisi dari negara-negara di wilayah selatan, dalam Perang Sipil AS pada 1861 hingga 1865.

Lee juga menikah dengan salah satu keluarga pemilik budak terkaya di Virginia dan pensiun dari dunia militer demi mengelola tanah keluarga setelah kematian ayah mertuanya. Dia mendapat perlawanan dari para budak yang dituntut untuk dibebaskan.

Sejumlah dokumen menunjukkan bahwa dia melakukan aksi kekerasan terhadap para budak mereka yang mencoba melarikan diri. Dia juga dikatakan telah memecah belah keluarga budak.

Banyak orang di AS memandang Lee sebagai simbol sejarah perbudakan dan penindasan ras di negara itu.

Patung Konfederasi lain juga telah dirusak oleh pengunjuk rasa.

Sebagian warga AS yang menyatakan bahwa patung-patung tokoh Konfederasi harus tetap berdiri, karena keberadaan patung-patung itu merupakan penanda perjalanan sejarah AS dan budaya wilayah selatan.

Winston Churchill

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar,

Patung Winston Churchill di London disemprot cat dengan kata-kata "rasis"

Patung mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill di London dirusak dengan coretan yang menyatakan dia adalah "rasis".

Churchill dipuji karena memimpin Inggris menuju kemenangan dalam Perang Dunia Kedua.

Dia digambarkan di situs resmi pemerintah Inggris sebagai "seorang negarawan, penulis, orator dan pemimpin yang inspirasional," dan terpilih sebagai warga negara Inggris terbesar dalam jajak pendapat BBC tahun 2002.

Tetapi bagi sebagian orang dia tetap dianggap sebagai sosok sangat kontroversial, sebagian karena pandangannya tentang ras.

"Sama sekali tidak ragu bahwa Churchill adalah rasis," kata sejarawan Richard Toye, penulis buku The Churchill Myths yang akan dirilis. "Dia tentu saja menganggap orang kulit putih sebagai superior, katanya secara eksplisit.

"Dia membuat pernyataan tidak menyenangkan perihal orang-orang India yang katanya adalah orang-orang jahat dengan agama jahat, dan dia mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang orang-orang China.

"Satu hal nyata yang perlu diakui bahwa latar belakang ala Victoria pada Churchill tentu saja mempengaruhi dia, tetapi saya akan mengatakan itu tidak selalu menentukan atau menentukan pengaruh atas pandangan rasialnya," tambahnya.

Dalam sebuah wawancara 2015 dengan BBC, John Charmley, penulis buku Churchill: The End of Glory, mengatakan bahwa Churcill percaya pada hierarki rasial, di mana orang Kristen Protestan kulit putih berada paling atas, di atas umat Katolik kulit putih, sementara orang India lebih tinggi daripada orang Afrika.

Pada 1937, Churchill mengatakan kepada Palestine Royal Commission: "Saya tidak mengakui, misalnya, bahwa kesalahan besar telah dilakukan terhadao masyarakat kulit merah Indian Amerika atau orang kulit hitam Australia.

"Saya tidak mengakui bahwa ada kesalahan telah dilakukan terhadap orang-orang ini, karena faktanya bahwa ras yang lebih kuat, ras yang lebih tinggi, mengambil tanah mereka."

Churchill juga menghadapi kritik atas pernyataannya tentang masyarakat Yahudi dan Islam, dan tindakannya, atau kurangnya kepeduliannya, atas kasus kelaparan Bengal 1943, yang menewaskan lebih dari dua juta orang.

Cucu Churchill, Sir Nicholas Soames, sebelumnya mengatakan bahwa kakeknya merupakan "anak dari zaman Edward dan berbicara dalam bahasa [itu]."