Ruang dokter: Kejahatan seks digital ditangani seorang konselor yang membantu korban perempuan di Korea Selatan

  • Hyung Eun Kim, Julie Yoon, dan Mark Shea
  • BBC World Service
Ilustrasi kejahatan seks digital

Sumber gambar, Jilla Dastmalchi/BBC

"Terima kasih karena telah menghentikan kehidupan iblis yang tidak bisa dihentikan."

Begitulah seseorang yang diduga sebagai pemimpin jaringan pemerasan bermodus seks atau sextortion di Korea Selatan menggambarkan kelegaannya ketika tertangkap.

Cho Ju-bin, yang dikenal sebagai "The Doc," mengoperasikan kamar obrolan atau chatroom tempat ia memeras puluhan perempuan muda, termasuk sedikitnya 16 gadis di bawah umur, untuk membuat video eksplisit diri mereka sendiri, tak jarang menampilkan pemerkosaan dan kekerasan.

Ia kemudian menjual video-video itu secara daring melalui Telegram, sebuah layanan perpesanan terenkripsi.

Tapi ia bukan satu-satunya, atau bahkan yang pertama - "Doctor Room" - yang ia kelola adalah salinan dari "Nth Room".

Pelanggan membayar untuk mengakses "Nth Room", tempat konten-konten hasil pemerasan diunggah, sering kali dalam waktu-nyata. Biaya masuknya berkisar dari US$200 hingga US$1.200 (Rp2,8 juta-Rp16,7 juta).

Ada banyak chatroom serupa, menunjukkan bahwa ada puluhan ribu pelanggan yang membayar untuk menjadi member.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Menurut surat kabar Korea Kookmin Ilbo, setiap kamar menjadi hos video dari tiga hingga empat gadis yang diperas oleh operator.

Operator chatroom awalnya menghubungi gadis-gadis itu, menjanjikan pekerjaan sebagai model atau escort (teman kencan).

Mereka kemudian diarahkan ke akun Telegram tempat si operator berusaha mendapatkan data pribadi - seperti alamat atau nomor telepon - yang kemudian digunakan untuk memeras mereka.

Cho menghadapi 14 dakwaan termasuk pemerkosaan, pemerasan, pemaksaan, dan produksi dan distribusi konten seksual secara ilegal - persidangannya dimulai pada 11 Juni, tiga bulan setelah ia ditangkap.

Kuasa hukumnya mengatakan ia telah mengakui bahwa ia memproduksi video seks dan mendistribusikannya di Telegram, namun menyangkal bahwa ia menggunakan paksaan, pemerasan dan kekerasan.

Tetapi sementara perhatian masyarakat terfokus pada pelaku, para korbannya harus berjuang sendirian.

Di Korea yang konservatif secara sosial, puluhan perempuan dan anak-anak yang dieksploitasi dalam video seperti itu menghadapi perjalanan yang panjang dan sulit untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Seorang perempuan yang membantu mereka adalah Lee Hyorin. Ia bercerita kepada BBC tentang pekerjaannya memerangi kejahatan seks digital.

Melawan 'seksploitasi' di dunia maya

Keterangan gambar,

Lee Hyorin telah menghabiskan tiga tahun terakhir menghapus konten-konten eksploitasi di dunia maya.

"Ada saat-saat saya merasa istirahat adalah dosa; jika saya tidur itu berarti lebih banyak video pelecehan seksual yang beredar dan lebih banyak korban yang menderita. Jadi awalnya saya berpikir bahkan jika saya harus bekerja siang-malam, saya harus hapus semua video ini," kata Hyorin.

Perempuan itu telah berurusan dengan konsekuensi destruktif dari kejahatan seks digital sejak 2017. Ikhtiar ini awalnya melibatkan upaya menghapus konten, tapi ia segera menyadari bahwa hanya menghapuskan bukti kejahatan tidaklah cukup.

"Ketika video pelecehan seksual pertama kali muncul sebagai masalah sosial, tidak ada sistem untuk membantu para korban," katanya kepada BBC.

"Saat itulah organisasi kami, Pusat Respons Kekerasan Seksual Siber Korea diluncurkan, tujuan kami bukan hanya untuk menghapus video-video itu, tapi juga memberikan konseling kepada para korban dari perspektif hak perempuan."

Hyorin dengan cepat menyadari nilai dari pekerjaannya dalam merawat trauma abadi yang disebabkan oleh kejahatan ini.

"Banyak korban ngeri melihat bagaimana video diri mereka dibagikan, disimpan, sekarang dan sepuluh tahun kemudian, dan digunakan untuk hiburan atau menghasilkan uang," ujarnya.

Jelas bahwa konseling adalah kunci untuk pemulihan, dan Hyorin telah bekerja dengan para korban sejak saat itu.

'Kamu tidak bersalah'

Sumber gambar, Jilla Dastmalchi/BBC

Sebagian besar korban yang datang ke organisasinya memulai dengan membuat alasan.

"Hati saya benar-benar hancur ketika mereka melakukan itu," kata Hyorin. "Saya benar-benar berusaha membuat mereka paham bahwa 'kamu tidak bertanggung jawab untuk ini dan ini bukan salahmu'."

Ia percaya bahwa membebaskan diri dari rasa bersalah ini adalah basis dari pemulihan mereka.

"Ini menyedihkan tetapi banyak korban sebenarnya tidak punya orang di sekitar mereka yang memberi tahu mereka apa yang saya katakan."

Sebaliknya, orang-orang menyalahkan atau menghakimi mereka dan inilah sebabnya banyak korban merasa bersalah dan sangat malu, tuturnya.

Sumber gambar, Jilla Dastmalchi/BBC

Perlu banyak keberanian untuk maju. Bahkan, Hyorin percaya para korban kasus perdagangan seks Telegram yang datang ke organisasinya hanya mewakili sebagian kecil dari semua korban.

"Para korban sering melalui perjalanan yang sulit sebelum datang ke kami - dengan polisi, media, dan sebagainya. Mereka mendatangi kami dalam keadaan terluka dan kelelahan," katanya. Banyak korban menyerah di tengah jalan.

Ia bekerja bersama-sama dengan para korban untuk membantu mereka mendapatkan kembali kendali atas hidup mereka.

"Definisi pemulihan bagi kami ialah ketika mereka tidak lagi hanya subjek pasif yang dimakan oleh kerusakan yang mereka alami, tetapi ketika mereka menerima insiden tersebut sebagai satu dari banyak pengalaman hidup dan terus menjalani hidup mereka," ujarnya.

Modus pemerasan seks lewat chatroom

Sumber gambar, Getty Images

Cho dan orang-orang sepertinya memikat korban dengan tawaran pekerjaan yang menguntungkan sebagai model atau teman kencan di media sosial.

Setiap gadis yang menjawab diarahkan ke akun Telegram, tempat pelaku berusaha membuat mereka memberikan informasi pribadi - nama, nomor telepon dan alamat, dan informasi apa pun yang dapat digunakan untuk memeras korban.

Mereka juga meminta gambar-gambar porno yang menurut mereka diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan. Ini nantinya akan digunakan untuk memeras gadis-gadis untuk membuat film dan membagikan video, biasanya menampilkan tindakan seksual yang ekstrem dan melukai diri sendiri.

Cho secara gamblang menyebut perempuan-perempuan itu 'budak' dan kadang-kadang membuat para korban menyebut diri mereka sebagai 'budak dokter'.

'Ruang Dokter' yang dibuat Cho di Telegram, menurut polisi Korea, menagih pengguna hingga US$1.245 (Rp17,4 juta) sebagai biaya langganan. Menurut media Korea, delapan "Nth Room" lainnya ada sebelum chatroom Cho dibuat.

Kenapa Telegram?

Telegram menampilkan chatroom terenkripsi berdasarkan peladen (server) di luar negeri.

Ini penting karena situs-situs porno lainnya yang mungkin telah mendistribusikan konten semacam itu telah ditutup oleh pemerintah Korea setelah skandal kamera mata-mata pada 2018, yang mengungkap bahwa rekaman ilegal korban yang tak terhitung jumlahnya telah diambil di toilet umum, ruang ganti, motel dan tempat lain dan dibagikan di internet.

Chatroom di Telegram bisa dengan mudah ditutup dan dibuka kembali untuk menghindari pengawasan penegak hukum.

Yang terpenting, pembayaran juga dapat dilakukan dalam bitcoin, memungkinkan pengguna untuk mendapatkan akses yang relatif anonim.

'Ikut merasakan sakit'

Keterangan gambar,

Konselor juga butuh konseling, kata Hyorin.

Namun pekerjaan Hyorin juga berdampak pada kesehatan jiwanya.

"Saya merasakan sakit mereka saat saya memberikan konseling. Saya menderita semacam gangguan stres pascatrauma. Dalam kasus Nth Rooms, para lelaki memaksa seorang gadis untuk melakukan inses. Sungguh tak terbayangkan cara mereka merampas martabat korban mereka dan menganiaya mereka," tuturnya.

Paparan terhadap konten-konten seperti ini berdampak pada kehidupan pribadinya juga. "Saya juga merasakan ketakutan itu sendiri.

"Sebelum saya bergabung dengan organisasi ini, saya melihat video seks ilegal yang sosok di thumbnail-nya terlihat seperti saya dan pasangan saya. Saya menangis sepanjang malam karena takut akan kemungkinan itu, dan baru pada waktu subuh saya mengunduhnya dan setelah diperiksa ternyata itu bukan saya.

"Bahkan saat saya bekerja menghapus video seks, jika saya menemukan sesuatu yang menampilkan seseorang yang mirip dengan adik perempuan saya atau seorang teman, saya memeriksanya kalau-kalau itu benar."

Waktu membantunya untuk menerima aspek terburuk dari pekerjaannya.

"Dua tahun lalu, ketika saya diminta untuk menghapus konten seseorang, saya trauma dengan thumbnail sebuah video seks. Saya sulit melupakannya. Tapi saya baik-baik saja sekarang. Jadi saya pikir seiring berjalannya waktu, saya tidak kagetan lagi," ujarnya, dan ia sendiri juga mencari bantuan.

"Konselor juga dapat konseling karena kita harus menghadapi banyak stres".

Hukuman ringan atau tidak sama sekali

Kejahatan seks digital seringkali sangat sulit untuk dituntut.

Media Korea melaporkan bahwa seorang pelaku di balik operasi Nth Rooms, yang dikenal sebagai God God, mengolok-olok pihak berwenang, dengan mengatakan bahwa jika ia membuang telepon genggam yang ia gunakan - bukan telepon miliknya - ia bisa menyerahkan diri dan mereka tidak akan punya bukti yang dapat digunakan untuk menuntutnya.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Cho Ju-bin menghadapi 14 dakwaan termasuk pemerkosaan, pemerasan, pemaksaan, dan produksi dan distribusi konten seksual secara ilegal.

Klaim impunitas God God - yang nama aslinya adalah Moon Hyung-wook - akan diuji. Ia ditangkap pada 12 Mei dan menghadapi 12 dakwaan.

Mereka yang ditangkap karena kejahatan seks digital seringkali dilepaskan dengan peringatan, dan jika penuntutan berhasil, mereka seringkali mendapatkan hukuman yang ringan.

Menurut data Mahkamah Agung, dari 7.446 orang yang diadili karena pembuatan film terlarang antara 2012 dan 2017, hanya 647 (8,7%) yang menerima hukuman penjara atau denda.

Ini telah membuat marah banyak orang di Korea.

"Berkali-kali perempuan mengatakan kepada saya bahwa mereka merasa sistem peradilan tidak cukup menghukum kejahatan seks dan tidak bertindak sebagai pencegah," kata koresponden BBC di Korea Selatan, Laura Bicker.

"Dan berkali-kali puluhan ribu wanita telah mendesak pemerintah saat ini untuk bertindak."

Pemerintah telah berjanji untuk merevisi undang-undang yang mengatur kejahatan seks termasuk grooming dan pemerasan anak-anak dan remaja.

Menyusul penindakan keras terhadap kejahatan seks digital pada bulan Mei, Majelis Nasional merevisi undang-undang yang mengkriminalkan tindakan menonton, menyimpan, membeli, dan memiliki video dan foto yang diambil tanpa izin, dengan hukuman hingga tiga tahun penjara atau denda hingga 30 juta won (Rp353 juta).

Sebelumnya, orang yang menonton atau menyimpan video atau gambar yang diambil secara ilegal tidak dapat dihukum.

Dalam kasus Nth dan Doctor Room, polisi Korea mengatakan bahwa 664 tersangka sejauh ini telah ditahan, termasuk sebagian besar tersangka utama.

Tetapi beberapa hakim terus menjatuhkan hukuman ringan pada pelaku kejahatan seks digital.

Aktivis hak-hak perempuan menggelar unjuk rasa di luar pengadilan tempat Cho diadili, mengatakan bahwa kecuali ia menerima hukuman yang lebih keras, bakal ada lagi kasus eksploitasi seks Telegram, dan bakal ada semakin banyak korban.

Pekerjaan tanpa akhir

Sumber gambar, Jilla Dastmalchi/BBC

Motivasi Hyorin untuk terus berjuang melawan kejahatan seks digital jelas baginya.

"Saya menjalani tahun 2018 dalam kemarahan (saya bertanya pada diri sendiri) 'Mengapa begitu tidak adil?' "Mengapa begitu menghina?" Saya sangat marah sehingga saya tidak bisa berhenti bekerja. Saya kira Anda bisa menyebutnya 'panggilan'.

"Kami tidak memiliki 'kasus tertutup' per se. Itu adalah kesulitan terbesar kami. Kami memberikan bantuan kepada para korban kejahatan pornografi balas dendam dan kejahatan seks digital sampai mereka pulih".

Setiap kali mereka menghapus video, mereka memungkinkan seseorang untuk memulai proses pemulihan, ujarnya. Tapi rutinitas menghapus konten terlarang dan mematikan operasi tidak pernah benar-benar berakhir.

"Kejahatan seks digital bisa melucuti martabat dasar seseorang — itulah sebabnya kita tidak boleh berhenti melakukan apa yang kita lakukan."

Ilustrasi oleh Jilla Dastmalchi