Covid-19: Permintaan maaf yang mengejutkan dan tiba-tiba dari mantan kekasih saat 'lockdown'

  • Megha Mohan
  • Wartawan gender dan identitas
Ilustrasi laki-laki.

Sumber gambar, Somsara Rielly

Keterangan gambar,

Ilustrasi seorang perempuan memegang kertas bertuliskan "Mungkin saya sudah memaafkan kamu dan saya sudah tak lagi lagi peduli."

Beragam kisah terjadi saat karantina selama pandemi virus corona, salah satunya adalah cerita seorang perempuan yang tiba-tiba dihubungi mantan pacarnya untuk meminta maaf.

Curahan hati perempuan tersebut lantas diunggah di media sosial Reddit yang kemudian ditanggapi ratusan pengguna dengan berbagi kisah-kisah mereka selama masa karantina.

Seperti apa kisahnya?

BBC mewawancarai seorang pria yang sudah dua kali meminta maaf selama masa karantina dan seorang perempuan yang menerima permohonan maaf.

Irina, 26, mendapat permintaan maaf dari pacar pertamanya lewat email saat 'lockdown'

Seperti hari-hari sebelumnya selama karantina, Jumat malam Irina duduk menatap layar komputer, bergiliran membaca berbagai situs berita dan media sosial, ketika email dari James muncul.

Dia menunggu sesaat, berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali dia memikirkan pacar pertamanya, sebelum membuka emailnya.

"Irina, saya tahu ini mendadak dan sudah terlanjur terlambat," demikian bunyi email dari James , "tapi saya perlu mengirimkan email ini."

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Saat bertemu James usianya sudah menginjak 16 tahun dan siap untuk berpacaran. Sepertinya wajar untuk gadis-gadis seusianya.

Lahir di Moskow, Irina datang ke Inggris dalam rangka pertukaran pelajar selama dua minggu dan dia menyukai sistem pendidikan di negara tersebut.

Pada usia 14 tahun dia mengatakan pada orang tuanya ingin meninggalkan Rusia dan melanjutkan sekolah asrama Inggris.

Semula orang tuanya merasa ragu, namun lama-lama mereka mengizinkannya.

Ibunda Irina adalah seorang kondektur kereta api dari sebuah pedesaan di Rusia yang waktu itu jatuh cinta dengan ayah Irina, seorang penumpang kereta.

Saat itu ibunda Irina berusia 19 tahun dan ayahnya berusia 30 tahun. Beberapa minggu kemudian dia mengemasi tasnya dan datang ke rumah ayahnya sejauh 1.609 kilometer untuk mengajaknya hidup bersama.

Bagaimana mungkin mereka menahan putrinya untuk menempuh petualangannya sendiri?

Setiba di Inggris, Irina langsung didera culture shock atau kejutan budaya.

Besar di Moskow, Irina menggambarkan sekolahnya sangat ekstrem.

Dia terbiasa menyaksikan perkelahian di toilet sekolah dan perundungan secara terang-terangan. Di sini, dia merasa terhibur dengan kunjungan wajib ke kapel dan hierarki sosial yang tidak terlihat dari sekolah bahasa Inggris.

Seiring waktu Irina menemukan komunitasnya dan banyak bertemu teman baru. Suatu hari dia bermain di di taman dan ada seorang remaja pria yang menarik perhatiannya.

Selintas James sepertinya cocok untuk dijadikan pacar. Dia lucu dan humoris. Usianya 17 tahun, setahun lebih tua dari Irina dan berperawakan tinggi.

Mereka lantas saling berkirim pesan, dan langsung meresmikan hubungan mereka, meski diwarnai beberapa pertengkaran kecil.

"Di usia tersebut, penting bagi kita untuk memiliki status" kata Irina. "Dan itu sangat penting bagi James untuk terlihat keren bila bertemu teman-teman."

James terkadang merasa frustrasi jika Irina tampak lebih baik dibanding dirinya dalam beberapa hal.

"Jika saya lebih baik darinya dia akan dihina dan mengatakan, 'Tapi kamu orang Rusia, bahasa Inggris kamu tidak akan sebaik bahasa saya,'" kata Irina. "Dan saya akan meyakinkan dia dengan mengatakan, 'Tidak, saya hanya ahli teka-teki silang.'"

Akhirnya, dua tahun kemudian, Irina diberi tahu oleh teman-teman bahwa James mengaku telah berselingkuh.

Irina mengakhiri hubungannya dengan James dengan tiba-tiba, menjaga jarak sebisa mungkin, mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin lagi ada komunikasi.

Irina lantas pindah ke kota lain untuk memasuki universitas dan menjalani hidup baru.

James tak berhenti mengirim pesan selama beberapa tahun - selalu pada hari ulang tahunnya, dan untuk mengucapkan selamat tahun baru. Irina akhirnya mengatakan pada James untuk jalan masing-masing dan lebih baik tidak berkomuniaksi lagi.

James meresponsnya dengan dingin. Dia mengatakan tidak ada niat untuk kembali berhubungan dengan Irina lalu menambahkan tidak akan mengirim pesan lagi.

Irina menatap pesan itu dan menjawabnya dengan "Lol" atau tertawa.

Dia memutuskan, itu akan menjadi babak akhir dalam hidupnya.

Sumber gambar, Somsara Rielly

Keterangan gambar,

Ilustrasi permohonan maaf "Saya tahu kamu tidak ingin mendengar kabar dari saya".

Tahun berlalu dan Irina kembali berpindah kota, dan bekerja di salah satu perusahaan teknologi. Kini dia menemukan banyak teman dan ritme di tempat yang baru.

Ketika virus corona melanda, perusahaan tempat dia bekerja memberinya seperangkat komputer agar bisa bekerja dari rumah.

Dan kemudian dia mendapat email dari James.

Dalam emailnya yang terdiri dari 800 kata itu, James mengutarakan bahwa karantina membuatnya merenungkan perilakunya di masa lalu, dan dia merasa berutang maaf atas sikap kekanak-kanakannya di masa lalu.

Dia meminta maaf tentang bagaimana dia berperilaku, mengatakan bahwa dia merasa malu ketika dia membaca pesan yang dia kirimkan kepadanya.

Lantas dia membuat pengakuan yang menakjubkan.

Dia sama sekali tidak bermaksud mengkhianati Irina - itu hanyalah sebuah kebohongan agar teman-teman Irina terkesan kepadanya.

Dalam emailnya dia pun mengatakan menjadi tenaga relawan untuk membantu komunitas yang rentan selama karantina dan sekarang adalah waktu untuk merefleksikan diri dan menjadi orang-orang baik bagi sesama.

Merasa terbawa ke masa lalu, Irina belum pernah merasakan lagi emosinya bercampur aduk. Dia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk menjernihkan pikirannya.

Ketika dia kembali, dia memutuskan untuk membalas email.

Dia mengatakan kepadanya untuk bersikap baik kepada dirinya sendiri dan mengatakan bahwa semua orang telah melakukan kesalahan, terutama ketika mereka masih muda. Dan kemudian dia menyampaikan permintaan maafnya.

Irina menjawab, "Saya tidak punya tanggapan apa pun atas permintaan maafmu. Mungkin saya sudah memaafkanmu, mungkin saya berhenti untuk peduli. Saya harap kamu puas bahwa saya tidak marah."

Dia berpikir sejenak, bertanya-tanya apakah ini jawaban yang tepat.

"Saya rasa dia ingin menebusnya," kata Irina. "Namun bukan saya yang harus memberikannya. Dialah satu-satunya yang bisa memberikan untuk dirinya sendiri - memaafkan dirinya sendiri."

Irina mengirimkan emailnya dan kembali lagi ke duduk di depan komputernya.

Chris, 26, menyampaikan permohonan maaf kepada dua mantan pacarnya

Sudah 10 hari karantina ketika Chris mengirim pesan kepada Sarah.

Usai bertengkar hebat, Sarah terduduk di sudut ruangannya sambil terisak menangis dan nafas tersengal. Sarah meminta Chris untuk meninggalkannya dan mereka mengakhiri hubungan yang sudah berjalan delapan bulan.

Chris terkadang masih memikirkan Sarah.

Mereka masih saling mem-follow di media sosial. Namun kenangan itu telah memudar, pacarnya semasa kuliah. Kini, tujuh tahun kemudian, bayangan Sarah kerap menghinggapi benak Chris: Sarah yang terduduk di lantai sambil menangis.

Sumber gambar, Somsara Rielly

Keterangan gambar,

Ilustrasi seorang laki-laki tengah membuat email untuk meminta maaf.

Chris mulai menjalani karantina pada 10 Maret, hari di mana Komisi Darurat Nasional AS menyarankan restoran dan bar tutup, dan arahan presiden meminta orang untuk bekerja di rumah.

Seminggu sebelumnya, dia memulai hari dari pukul 5.30 pagi.

Dia akan bekerja bersama rekan-rekannya di pangkalan militer di Missouri di mana dia bekerja sebagai insinyur IT, pulang, mandi, makan, dan kembali ke pangkalan. Dia tinggal sendirian di sebuah apartemen di dekatnya.

Sepulang bekerja terkadang dia memasak atau pergi bersama teman-temannya atau mengobrol online sampai waktu tidur tiba.

Karantina membuat dia memiliki banyak waktu.

Awalnya dia sibuk. Namun setelah 10 hari rapat lewat Zoom dan berolahraga dengan panduan YouTube serta menonton film Succession, pikirannya kembali melayang membayangkan pacar pertamanya.

Dia bertemu Sarah ketika mereka berusia 18 tahun, di sebuah akademi militer.

"Itu adalah hubungan yang intens," kata Chris, 26 tahun. "Kami menghabiskan seluruh waktu bersama, semua rencana kami bersama, dan begitu juga identitas kami."

Sebagai remaja yang mengawali karir di Angkatan Darat AS, mereka berbagi semua masalah satu sama lain.

Setelah berbulan-bulan, Sarah mempunyai masalah dengan keluarganya sendiri dan itu mulai menyita perhatian Sarah, dan Chris merasa tidak bisa membantunya.

Chris akhirnya mengatakan jika dia tidak bisa melanjutkan hubungannya, Sarah langsung terduduk di lantai dan menangis.

Dia terpukul dan mengatakan terlalu mendadak mengakhiri hubungannya.

Setelah itu mereka saling menghindar ketika bertemu di kampus, terkadang terlihat canggung juga. Lalu mereka lulus, memilih jalan sendiri-sendiri, begitu seterusnya sampai akhirnya tanggal 19 Maret, Chris mengirim pesan pada Sarah.

"Sarah, saya mengerti bahwa ini sudah lama, tapi saya merasa bahwa cara kita mengakhiri sesuatu itu tidak benar, dan cara saya memperlakukanmu di akhir hubungan kami telah menyakitimu."

"Saya tahu kita berdua sudah lama terpisah satu sama lain, saya harap kamu baik-baik saja."

Sarah dengan cepat membalasnya.

"Kabar saya baik-baik saja!"

Lantas keduanya saling berbalas pesan.

Dia langsung bercerita tentang pekerjaan barunya yang sangat dia sukai, yaitu mengajar. Dan, tambahnya, hubungannya dengan keluarga semakin membaik.

"Dia mengatakan tidak bisa menemui saya untuk sementara ini [karena saya] adalah seseorang yang sudah menyakitinya," kata Chris. "Dia bilang sekarang dia menyadari bahwa kami tidak cocok satu sama lain."

Terdorong dengan sambutan hangat saat berkirim pesan, Chris memutuskan untuk mengirim pesan pada mantan pacar yang kedua.

"Kami lebih merupakan teman tapi mesra," katanya. "Kami tidak pernah mengatakan kami eksklusif."

Sumber gambar, Somsara Rielly

Keterangan gambar,

Ilustrasi seseorang tengah menulis pesan permintaan maaf.

Lisa dan Chris berpacaran lewat aplikasi Tinder pada tahun 2016. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Lisa tinggal di Washington DC, tempat keluarga Chris.

Sebagian besar hubungan mereka dihabiskan secara online.

"Kami mengobrol di hampir setiap aplikasi media sosial dan kebanyakan melalui teks," kata Chris.

Awalnya mereka ngobrol lewat video, namun lama kelamaan intensitasnya berkurang.

Mereka bertemu satu sama lain setiap beberapa bulan, bertemu jika berada di tempat yang sama. Beberapa tahun kemudian, mereka juga mulai mengurangi pertemuan, akhirnya menjadi persahabatan online.

Lantas di malam Tahun Baru 2018 Lisa dan Chris berada di kota yang sama dan mengatur waktu untuk bisa saling bertemu.

Waktu itu Lisa sudah punya pacar baru, Sam. Dia memberi tahu Chris tentang Sam, bahkan berkeluh kesah soal pertengkaran dalam hubungan mereka.

Untuk pertama kali Chris dan Sam bertemu. Suasana pertemanan terasa di malam ituu, mereka minum bersama sampai mabuk.

Dan di tengah-tengah percakapan yang tidak karuan, dengan percaya diri Chris mengungkapkan apa saja yang sudah Lisa ceritakan padanya tentang Sam.

Chris telah merusak kepercayaan Lisa, mereka akhirnya bertengkar di luar. Lisa, Sam dan temannya lantas meninggalkan Chris untuk mencari tempat lain.

Lisa kemudian mengirim pesan pada Chris betapa marahnya dia karena Chris sudah membongkar rahasinya pada Sam.

Itulah terakhir kalinya Chris bertemu Lisa.

Jadi setelah mengirim pesan pada Sarah (pacar pertamanya), Chris juga mengirim pesan pada Lisa (mantan pacarnya yang lain).

"Kamu dulu sangat penting bagi saya, dan saya minta maaf atas semua yang saya lakukan malam itu. Saya tahu bahwa saya keterlaluan dan saya seharusnya tidak melakukannya. Saya harap kamu baik-baik saja di masa karantina ini."

Lisa membalas keesokan harinya.

Dia mengatakan baik-baik saja selama karantina dan dia dan Sam sekarang sudah menikah.

Namun tampak jelas bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Dia tidak menanggapi atau menerima permintaan maaf Chris.

Chris berharap bisa meminta maaf kepada kedua mantan pacarnya di saat yang sama, meski karantina bukanlah faktor utama.

"Tapi mungkin itu akan menjadi teks orang mabuk di tengah malam."

Dia mengatakan permintaan maaf mungkin terlihat konyol bagi sebagian orang, karena mereka menjawab keinginan orang yang minta maaf, dan belum tentu orang itu mau menerima permohonan maaf. Namun menurutnya dia tidak mengharapkan Sarah ataupun Lisa mengatakan apa pun yang akan membuatnya merasa lebih baik.

"Saya tidak bisa mengatakan saya tidak melakukannya dengan harapan mereka akan memaafkan saya. Saya juga tidak mengharapkan balasan dari mereka. Dan jika mereka tidak memaafkan saya, itu juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin mereka tahu betapa buruknya sikap saya di masa lalu."

Mengapa kita meminta maaf

Nastaran Tavakoli-Far pembawa acara The Gender Knot, sebuah podcast yang mengeksplorasi masalah budaya.

Dia memandu acara "loads and loads and loads" tentang psikologi permintaan maaf dan apa yang memotivasi seseorang untuk melakukannya.

Karantina, tambahnya telah menambah dimensi lain.

"Ada alasan jelas mengapa kita merenungkan perilaku kita, kita semua punya banyak waktu untuk berpikir. Banyak hal yang kita lakukan untuk menghindar dari renungan, seperti berwisata, bersosialisasi, bepergian.

"Pada saat yang sama ini adalah kesempatan untuk menjadi bijaksana tentang hubunganmu dan menanyakan semua pertanyaan mendasar tentang tujuan hidupmu dan jejak apa yang akan ditinggalkan."

Tetapi permintaan maaf perlu dipikirkan, katanya.

"Anda seharusnya tidak pernah memberikan permintaan maaf agar merasa lebih baik. Meminta maaf hanyalah langkah pertama untuk menebus kesalahan. Anda harus siap dengan cara orang menanggapi permintaan maaf Anda, dan mereka bisa saja tidak memaafkan Anda jika mereka mau.

"Meski Anda punya waktu untuk memikirkan hal-hal buruk di masa lalu, begitu juga orang yang menerima permintaan maaf, dan kamu mungkin bisa memicu emosi yang tidak mereka inginkan saat ini."