Anak sakit, diserang, hingga ditahan: Pegiat lingkungan ini akhirnya menangkan gugatan Rp175 miliar

Phylis Omido

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Phylis Omido, seorang pegiat lingkungan di Mombasa.

Setelah berjuang selama 10 tahun, seorang pegiat lingkungan asal Kenya, Phyllis Omido akhirnya memenangkan putusan pengadilan yang memberikan US$12 juta (atau sekitar Rp175 miliar) kepada warga sekitar yang terpapar racun limbah pabrik daur ulang baterai, lapor wartawan BBC Basillioh Mutahi.

Pada tahun 2009, Omido menjelaskan kepada atasannya bahwa industri daur ulang baterai yang mereka jalankan "pada akhirnya akan membunuh" warga yang tinggal di dekat pabrik. Namun ia diminta untuk tidak membahasnya lagi.

Sakit yang diderita putranya, membuat Omido bergeming, melanjutkan protes dan perjuangannya.

Asap beracun

Pada umur 31 tahun, lulusan manajemen bisnis ini bergabung dengan Kenya Metal Refineries, sebuah pabrik yang mendaur ulang baterai mobil untuk mengekstrak timah di kota pesisir Mombasa.

Awalnya ia diminta untuk melakukan analisis dampak lingkungan, namun saat dirinya menyampaikan laporan ahli, direktur perusahaan tidak menindaklanjuti temuannya.

Proses peleburan baterai menghasilkan asap beracun dan limbahnya mencemari pemukiman berpenduduk padat di sekitarnya yakni Owino Uhuru. Proses daur ulang baterai bekas itu juga mempengaruhi udara dan air, menimbulkan berbagai penyakit misterius di kalangan warga bahkan di kalangan karyawan di pabrik itu.

Namun pada saat itu di tahun 2009, Omido belum mengetahui dampak luasnya - atau tingkat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari proses peleburan baterai ini.

Sumber gambar, Goldman Environmental Prize

Keterangan gambar,

Omido ingin tanah di sekitar pabrik dibersihkan sehingga anak-anak dapat bermain dengan aman.

Sejak kecil, dia selalu mencintai alam dan ingin mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan di perguruan tinggi.

Namun orang tua angkatnya di Mombasa - ia tinggal bersama orang tua angkat sejak ibunya meninggal saat ia berusia15 tahun - menganjurkannya untuk mengambil kursus singkat sehingga dia bisa cepat bekerja.

Penyakit misterius

Masalahnya, pekerjaan yang ia jalani di perusahaan tersebut sepertinya tidak peduli dengan apa yang ia cintai.

Meski tidak sejalan, Omido tetap bekerja untuk perusahaan itu dan pada 2010 putranya yang berusia dua tahun jatuh sakit. Putranya dirawat dan menjalani serangkaian tes, namun tak kunjung sembuh dan penyakitnya pun tidak dapat diidentifikasi.

Keadaan semakin memburuk sehingga anaknya harus dirawat di rumah sakit dan saat itu temannya menyarankan tes keracunan timbal.

Hasil tes menunjukkan adanya kadar timah hitam yang sangat berbahaya di dalam darah putra Omido.

A test tube with a lead test
Getty Images
Lead poisoning

  • The metal is toxicand can contaminate the soil causing health problems

  • Blood and kidneysas well as other organs call all be affected

  • Childrenare particularly vulnerable to the impact on the brain

  • Battery recycling,e-waste and paint are among the biggest sources of poisoning

Source: WHO, Pure Earth
Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Omido terkejut dengan hasil tes yang menunjukkan putranya keracunan timbal yang kemungkinan dicerna dari ASI.

Omido pun berang. Dia lantas berhenti dari pekerjaannya, sambil mendesak perusahaan untuk membayar perawatan putranya.

Dia juga mengantar tiga anak di lingkungan pemukiman untuk melakukan tes di rumah sakit dan kekhawatirannya terbukti.

'Dituduh mengada-ada'

Berbekal hasil tes, Omido mulai melayangkan surat ke berbagai lembaga pemerintah agar bertindak untuk menghentikan pencemaran.

Mereka mengabaikannya, tutur Omido.

Pihak berwenang yang menangani lingkungan The National Environmental Management Authority (Nema) "sebenarnya membalas surat saya dan mengatakan apa yang saya katakan adalah fiktif dan mereka siap untuk melawannya di pengadilan", katanya kepada BBC.

Lembaga Nema bertanggungjawab mengeluarkan surat izin pendirian industri daur ulang baterai tersebut.

Dia ingin membuktikan bahwa ceritanya tidak mengada-ada, jadi dengan dana yang diperoleh dari organisasi lingkungan, dia mengorganisir lebih banyak lagi tes keracunan timbal.

Sumber gambar, CJGEA

Keterangan gambar,

Omido memimpin beberapa aksi unjuk rasa menentang pencemaran di lingkungan warga.

Omido merasa dirinya memiliki cukup bukti, tetapi tekadnya untuk membawa kasus ini membuatnya sering berurusan dengan pihak berwajib.

"Saya hanya ingin berjuang mempertahankan niat baik saya. Ketika saya ditangkap misalnya, saya bahkan tidak punya uang jaminan. Ada 17 orang rekan saya yang ditahan dan harus saya tebus dengan uang jaminan."

Dia ditahan semalam pada tahun 2012 dan dituduh menghasut kekerasan setelah mengadakan unjuk rasa di Mombasa.

Dua lembaga bantuan hukum, Front Line Defenders and the East African Law Society, memberinya bantuan hukum dan uang jaminan. Akhirnya para pegiat itu dibebaskan karena kurangnya bukti.

Kerap diserang

Omido menilai tahun-tahun sebelum 2014 adalah "masa-masa sangat sulit" yang membuatnya hampir menyerah.

Dia kerap merasa ketakutan karena diganggu pihak berwenang. Serangan yang dilakukan oleh orang-orang bersenjata tak dikenal di luar rumahnya membuatnya ketakutan sehingga dia bersembunyi selama berbulan-bulan.

"Saya selamat hanya karena tetangga saya tak sengaja menabrak bagian rumah tempat dia bersembunyi. Lampu mobilnya menyala lalu menabrak lalu saya terjatuh, dan putra saya berteriak," ujarnya.

Phyllis Omido
CJGEA
There were so many people who believed in me and paid a very high price for that"
Phyllis Omido
Environmental campaigner

Di satu pihak, kerabat Omido juga merasa tak senang dengannya. Mereka menilai Omido bertindak tidak adil terhadap putranya yang melihatnya diperlakukan tidak adil oleh pihak berwenang.

Namun Omido mengatakan merasa berutang budi kepada masyarakat karena "ada begitu banyak orang yang percaya padanya dan membayar harga yang sangat tinggi untuk hal itu".

Ia ingat ada satu peristiwa "memilukan" tahun 2011 ketika polisi datang dan menembakkan gas air mata usai Omido mengadakan pertemuan dengan warga.

"Mereka kemudian menggeledah rumah-rumah warga dengan dalih mencari zat ilegal," katanya.

"Mereka adalah orang-orang miskin yang penghasilannya sangat minim. Saya harap mereka akan menangkap saya sebagai gantinya."

Meski mengalami berbagai rintangan, Omido berjuang selama lebih dari 10 tahun untuk membawa kasus ini ke pengadilan dan mengambil keputusan untuk mengikuti keinginan warga.

Ganti rugi senilai Rp175 miliar itu seharusnya dibayarkan perusahaan bersama dengan badan-badan pemerintah yang dianggap lalai, industri itu akhirnya ditutup pada 2014.

Hakim juga memerintahkan pihak pemerintah untuk membersihkan tanah di Owino Uhuru dalam waktu empat bulan, mereka mengatakan jika tidak dilaksanakan akan dikenakan denda.

Omido mengatakan bahwa "uang bahkan tidak dapat mengkompensasi" atas apa yang telah dialami oleh lingkungan yang dihuni 3.000 orang. Namun demikian, dana tersebut dapat digunakan untuk perawatan dan pengobatan.

Mungkin ini bukan akhir dari perjalanan karena dia tidak percaya ganti rugi akan segera diberikan mengingat pemerintah memiliki catatan buruk membayar kompensasi yang diperintahkan oleh pengadilan.

Batas waktu untuk membayar ganti rugi adalah bulan September. Namun jika belum dilaksanakan juga, maka Omido tidak akan tinggal diam.