Penyelam temukan sampanye tua

Image caption Sampanye tertua ditemukan di dasar Laut Baltik dekat Finlandia

Penyelam Christian Ekstrom yang tengah menyelidiki reruntuhan kapal tenggelam di Laut Baltik, tepatnya di Aaland kawasan otonomi Finlandia, menemukan 'harta karun' tak terduga.

Harta karun itu bukanlah emas batangan atau perhiasan kuno tapi 30 botol sampanye kuno yang diperkirakan berasal dari masa sebelum Revolusi Prancis di dasar laut Baltik.

Saat sampanye yang diperkirakan adalah produksi Clicquot (kini Veuve Clicquot) antara tahun 1782 hingga 1788 itu dibuka, ternyata kondisi minuman di dalamnya masih dalam kondisi bagus.

Ketika Ekstrom kembali ke permukaan laut dia dan rekan-rekannya langsung membuka dan mencicipi harta karun tak terduga itu. Dan di luar dugaan, rasa sampanye kuno itu masih sangat nikmat.

"Sangat fantastik. Sampanye itu rasanya manis dan beraroma tembakau yang sangat kuat. Selain itu, gelembungnya sangat sedikit," kata Ekstrom kepada Reuters.

Berdasarkan catatan kantor berita AFP, sampanye Clicquot pertama kali diproduksi tahun 1772. Produksi Clicquot terganggu setelah pecahnya Revolusi Prancis tahun 1789.

Meski berusia tua, kondisi minuman itu sangat terjaga karena suasana gelap dan dingin di dasar laut.

Botol-botol sampanye itu sudah dikirim ke Prancis untuk analisa. Jika hasil analisa membenarkan dugaan sementara itu maka dipastikan ke-30 botol itu adalah sampanye tertua di dunia yang masih bisa dikonsumsi.

Jika sampanye itu benar berasal dari tahun 1780-an, maka sampanye ini lebih tua 40 tahun dari minuman tertua sebelumnya yang dipegang sebotol Perrier-Jouet yang berasal dari tahun 1825.

Para pakar anggur memperkirakan jika botol-botol tua ini dilelang maka akan laku minimal US$69.000 atau sekitar Rp 690 juta.