Kunci meraih medali di olimpiade fisika

Ahmad Ataka Awwalur Rizqi (SMAN 3 Yogyakarta), Christian George Emor (SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon, Sulawesi Utara), Kevin Soedyatmiko (SMAN 12 Jakarta), David Giovanni (SMAK Penabur Gading Serpong), Muhammad Sohibul Maromi (SMAN 1 Pamekasan, Madura).

Lima siswa SMA Indonesia yang meraih empat medali emas dan satu perak dalam Olimpiade Fisika Internasional 2010 mengatakan latihan intensif membantu mereka mendapatkan rekor tertinggi prestasi Indonesia sejak 2006.

"Kami latihan soal dari Senin sampai Jumat dan hari Sabtu dan Minggu eksperimen dan begitu menjelang Olimpiade kami selalu latihan eksperimen," kata Muhammad Sohibul Maromi, salah seorang siswa yang mendapatkan medali emas dari SMAN 1 Pamekasan, Madura.

Sohibul, bersama Christian George Emor dari SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon, Sulawesi Utara, Kevin Soedyatmiko dari SMAN 12 Jakarta dan David Giovanni dari SMAK Penabur Gading, Serpong, meraih medali emas.

Sementara itu Ahmad Ataka Awwalur Rizqi dari SMAN 3 Yogyakarta mendapatkan perak dalam Olimpiade Fisika Internasional yang digelar di Zagreb, Kroatia, akhir Juli lalu.

Lomba ini diikuti oleh 376 siswa dari 16 negara.

Lima siswa SMA Indonesia ini dikirim melalui tim Olimpiade Fisika Indonesia, atau TOFI, setelah melalui training intensif selama delapan bulan.

Koordinator TOFI, Hendra Kwee, mengatakan prestasi yang diraih para siswa tahun ini dengan empat emas merupakan yang tertinggi sejak 2006.

"Dari 376 siswa, ada sekitar 35 anak yang mendapat medali emas. Lomba terdiri dari dua bagian, teori 60% dan eksperimen 40%. Dari tiga puluh lima anak yang mendapat emas, empat dari Indonesia dan yang terbanyak lainnya dengan lima emas dari Cina, Taiwan dan Thailand."

Latihan intensif

Image caption Tim Indoensia juga meraih empat medali emas pada olimpiade 2006

"Soal teori yg berkesan adalah soal tentang fisika cerobong asap. Dengan konsep fisika yang sederhana, kita bisa menghitung tinggi minimum cerobong asap dan mendesain pembangkit listrik tenaga surya sederhana," kata Ataka dari SMS Yogyakarta.

"Soal eksperimen yang paling berkesan adalah soal tentang elastisitas plastik karena kita bisa menghitung modulus young plastic dengan alat-alat sederhana seperti gunting, selotip, dan timbangan," tambahnya.

"Selama di TOFI, saya menemukan “rumah” yang menyenangkan, teman-teman yang asyik, pembina yang akrab, juga buku-buku dan alumni yang banyak membantu persiapan saya. Semoga saja, saya bisa menginspirasi anak-anak Indonesia untuk terus berprestasi di olimpiade internasional," kata Ataka lagi.

Sementara Kevin Soedyatmiko mengatakan latihan panjang ini membantunya melatih untuk mandiri.

"Pelatihan yang panjang dan melelahkan, serta interaksi bersama teman dan para pelatih menjadi kenangan yang indah. Training ini sedikit banyak melatih kemandirian kita. Materi serta pembentukan pola pikir yang dilakukan sangat membantu saya saat menapaki tingkatan hidup yang berikutnya baik saat universitas maupun saat bekerja," kata Kevin yang ingin melanjutkan studi di universitas dalam bidang sains.

Kevin dan Christian George Emor dari Tomohon saat ini duduk di kelas tiga SMA, sementara Ataka, Sohibul, dan David telah mendapatkan beasiswa dari sebuah universitas negeri di Indonesia dan dari universitas di Singapura.

"Ini pengalaman yang mengubah hidup saya. Tidak hanya fisika yang kami dapat namun juga cara berpikir logis, selain juga kami dapat kesempatan bertukar pikiran dengan teman-teman dari belahan dunia lain," kata Emor.

Seleksi ketat

Kelima siswa Indonesia ini bisa sampai ke Olimpiade Fisika Internasional melalui proses seleksi ketat.

Mereka adalah siswa yang disaring dari pemenang Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional.

"Setiap tahun ada seleksi dari tingkat kabupaten, biasanya bulan April, kemudian di tingkat provinsi dan yang lolos ke Olimpiade Sains Nasional. Pemenang kami training intensif, dari 30 kami kurangi menjadi 15, dan dari 15 menjadi delapan. Kami training empat bulan untuk Olimpiade Fisika Asia," kata Hendra Kwee.

"Lima siswa yang ikut di Kroatia adalah yang terbaik dari delapan siswa di saringan terakhir," tambahnya.

Indonesia mengikuti olimpiade fisika ini sejak tahun 1993 dan sejak tahun 2002 selalu mendapatkan emas. Tim Indonesia juga mendapat empat emas dalam olimpiade 2006.

Berita terkait