Larangan ekspor Israel merusak Gaza

Manal Hassan
Image caption Usaha biskuit Manal Hassan hampir mati karena larangan ekspor Israel

Langkah Israel dalam melarang ekspor dari Palestina menyebabkan matinya sejumlah industri dan merusak perekonomian di Gaza.

Wartawan BBC Jon Donnison mengunjungi Gaza dan bertemu dengan sejumlah pengusaha yang merasakan dampak pelarangan itu, termasuk Manal Hassan yang memiliki pabrik biskuit Al Awda di Gaza Tengah.

Wanita yang tengah hamil tua ini mengatakan usahanya nyaris bangkrut karena larangan yang diterapkan Israel.

"Sangat sedih," kata Manal Hassan sambil menahan tangis. "Anda bisa bayangkan saat pabrik ini masih jalan. Dulu banyak karyawan, sekarang nyaris mati pabrik ini."

Al Awda sempat menjadi salah satu pabrik yang paling sibuk di Gaza dengan karyawan lebih dari 300 orang. Mereka membuat biskuit, es krim dan keripik.

Sejak Israel melonggarkan blokade di Jalur Gaza Juni lalu, produksi pabrik ini terhenti semua. Pabrik biskuit ini sekarang hanya beroperasi beberapa hari dalam satu bulan atau bila ada permintaan dari konsumen.

"Sekarang pasar dibanjiri impor biskuit murah dari Israel. Namun kami masih tetap dilarang untuk ekspor. Jadi kami rugi dari dua sisi."

Ironisnya, langkah Israel melonggarkan blokade justru membuat usaha Manal Hassan lebih parah. Mereka bisa mendapatkan bahan mentah yang diimpor untuk membuat biskuit, tetapi tidak ada konsumen untuk produksi mereka.

Dampak menyengsarakan

Image caption Omar Shabban mengatakan larangan ekspor akan meningkatkan kemiskinan

Sebelum Israel memblokade Gaza tahun 2007, Al Awda mengekspor sekitar 60% produk mereka, sebagian besar ke Tepi Barat.

Tetapi dalam tiga setengah tahun terakhir, semua ekspor dari Gaza dilarang total. Hanya bunga dan strawberi yang diekspor pada musim tertentu.

Tahun lalu, 17 juta bunga anyelir diekspor melalui Israel, setelah negosiasi alot dengan pemerintah Belanda.

Larangan ekspor Israel ini juga merusak perekonomian Gaza. Pengangguran sekitar 40%, dan PBB memperkirakan 80% rakyat Gaza tergantung dari bantuan pangan.

"Ekspor Gaza dulu bernilai sekitar US$ 300 juta setahun," kata ekonom Omar Shabban dari Palthink, lembaga penelitian di Gaza.

"Kami dulu mengekspor tekstil. Tidak hanya ke Israel namun juga ke Marks and Spencer di Inggris. Kami dulu juga mengekpor perabotan. Kami dulu mengekspor ratusan produk."

Shabban mengatakan bila larangan ekspor tidak dicabut, kemiskinan di Gaza akan semakin parah. Kondisi ini, menurutnya akan mendorong ekstrimisme dan radikalisasi.

Ekspor ilegal

Image caption Terowongan ini sekarang digunakan untuk ekspor ilegal

Sejumlah pengusaha di Gaza bahkan mulai mengekpor barang secara ilegal dengan menyelundupkan barang dari Mesir.

Industri di seputar terowongan yang terletak di kota perbatasan Rafah terhantam sejak Israel membuka perbatasan untuk impor makanan dan barang konsumen lain.

Ribuan orang yang dulu bekerja di industri dekat terowongan ini kehilangan pekerjaan mereka.

Seorang diantaranya adalah Abu Mohammed yang saat ditemui wartawan BBC Jon Donnison tengah duduk tidak jauh dari perbatasan.

"Kami mengumpulkan baja bekas dan alumunium. Namun hanya sedikit," katanya.

Kekhawatiran Israel

Terowongan yang dulu digunakan untuk menyelundupkan barang ke Gaza, sekarang digunakan untuk ekspor ilegal.

Perdagangan gelap kemungkinan bisa meningkat bila Israel tetap menerapkan larangan ekspor.

Israel mengatakan mereka belum siap untuk mencabut larangan karena risiko keamanan.

"Orang perlu bertanya mengapa kami menerapkan blokade. Mengapa pembatasan impor dan ekspor dilakukan? Karena Gaza dikuasai oleh gerakan teror," kata Yigal Palmor, juru bicara kementerian luar negeri Israel.

Israel memperketat blokade ekonomi terhadap Gaza tahun 2007 setelah Hamas berkuasa.

Israel mengatakan langkah itu penting untuk menghentikan penyelundupan senjata ke Gaza dan untuk menekan Hamas.

Palmor mengatakan Israel mempertimbangkan langkah untuk meningkatkan ekspor namun mengatakan mereka masih khawatir atas risiko keamanan.

Ia tidak memberikan waktu atau merinci produk yang diijinkan ekpor.

Pemerintah Belanda mengatakan mereka berharap untuk mendapat ijin ekspor sayur termasuk tomat dan papripa dari Gaza, selain juga bunga dan strawberi. Namun permintaan itu belum dipastikan Israel.

Masa depan suram

Di Gaza sendiri, pemilik pabrik biskuit Al Awda, Manal Hassan tertawa saat mendengar bahwa biskuit dikaitkan dengan risiko keamanan.

"Israel memiliki semua teknologi yang mereka perlukan untuk memeriksa biskuit kami sebelum diekspor," katanya.

Manal Hassan mengatakan dia dan karyawannya menghadapi masa depan suram bila larangan ekspor tidak dicabut.

Israel melonggarkan blokade ekonomi terhadap Gaza hampir lima bulan lalu. Namun bagi sebagian besar masyarakat di Gaza, kondisi yang mereka hadapi tetap sulit.