Komunitas kuno di antara dua musuh

Laki-laki Samaritan sedang bernyanyi
Image caption Saat ini hanya tinggal 700 penganut Samaritan yang hidup di Timur Tengah

Pernahkan anda mendengar ungkapan the good Samaritan dalam bahasa Inggris?

Ungkapan ini artinya seseorang yang tidak segan-segan membantu orang lain yang membutuhkan dan berasal dari sebuah kisah di kitab Injil.

Tetapi tidak banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya Samaritan adalah nama sebuah komunitas agama kuno yang memisahkan diri dari agama Yahudi sekitar 2.000 tahun yang lalu dan bahwa penganut agama ini masih ada sampai sekarang.

Komunitas Samaritan telah hidup di Timur Tengah selama ribuan tahun, tetapi mereka sekarang harus menemukan cara-cara baru untuk menjamin kelangsungan hidup mereka.

Tanggal 8 November 2001, ketika terjadi gerakan intifada Palestina kedua, Joseph Cohen, seorang Samaritan yang berusia 56 tahun, sedang mengendarai mobilnya pulang dari kota Nablus di Palestina.

"Ketika saya hampir sampai rumah, saya bertemu dua remaja Palestina dan mereka menembak saya," katanya. "Darah mengalir dari tubuh saya seperti air."

Cohen kehilangan kendali mobilnya dan menabrak pagar penutup jalan yang didirikan tentara Israel. Pasukan Israel kemudian berteriak memerintahkan agar dia berhenti.

"Tetapi saya tidak bisa menghentikan mobil dan mereka kemudian juga menembak saya," ujar Cohen.

Mungkin tidak banyak orang di dunia yang pernah ditembak oleh pihak Palestina dan Israel dalam selang waktu beberapa menit.

Tetapi, seperti dikatakan Cohen, "itulah rangkuman kisah masalah kami". Masalah yang ironis, mengingat reputasi mereka yang penolong.

'Diantara dua musuh'

Cohen adalah seorang pendeta dari sekte agama kuno Samaritan. Dia tinggal di daerah Gunung Gerizim di Tepi Barat.

Daerah itu adalah tempat paling suci bagi masyarakat Samaritan karena merupakan tempat rumah ibadah mereka pernah berdiri dan lokasi di mana Nabi Ibrahim, menurut kepercayaan mereka, hampir mengorbankan Ishak.

Image caption Cohen dan putra-putranya mempersiapkan perayaan Sukkot

Di abad ke lima ada lebih dari satu juta masyarakat Samaritan di sini.

Sekarang setelah selama ratusan tahun didiskriminasi dan dipaksa berpindah agama, hanya sekitar 700 orang yang masih ada.

Mereka mengaku sebagai keturunan bani Israil dan mereka merayakan sejumlah hari keagamaan serupa dengan agama Yahudi seperti Sukkot, yaitu mengenang kaum bani Israil yang harus hidup di padang pasir selama 40 tahun.

Walaupun kaum Samaritan sudah memisahkan diri dari agama Yahudi 2.000 tahun lalu, mereka sering disangka Yahudi karena masih berbicara bahasa Ibrani kuno dan beribadah di sinagog.

Dan bagi orang Samaritan yang tinggal di Tepi Barat masalah ini menjadi besar.

"Orang Palestina tahu kami tinggal di antara komunitas Arab, tetapi di benak mereka kami dianggap Yahudi," kata Cohen.

"Dan karena kami juga fasih berbahasa Arab, orang Yahudi mengira kami Arab," tambahnya.

"Jadi kami memiliki masalah besar, kami hidup di tengah dua musuh."

Menjadi kurir

Karena situasi ini, mereka mencoba hidup dengan pendekatan baru: bersikap netral.

Mereka membangun hubungan baik dengan para tetangga Yahudi dan Palestina mereka dan mereka adalah satu-satunya komunitas di kawasan itu yang memiliki kartu identitas Palestina dan Israel.

Ini berarti mereka boleh bepergian antara wilayah Israel dan Palestina dengan mudah. Dan sebagian Samaritan yang berbakat bisnis menggunakan status unik mereka untuk memberikan pelayanan pengiriman barang antara kedua wilayah itu.

Seorang eksportir suku cadang mobil di Nablus yang mengekspor ke Nazareth dan Haifa, Ibrahim, mempekerjakan seorang Samaritan untuk membawa dagangannya ke Israel.

"Bila kita membutuhkan seorang pengemudi Samaritan, anda tinggal menelpon mereka saja, dan mereka membawa barang-barang itu di mobil mereka dan kembali lagi ke Nablus tanpa harus diperiksa," katanya.

Terancam punah

Tetapi ada kekhawatiran bahwa komnitas kuno ini akan segera punah.

Image caption Sebagian orang mengatakan Samaritan harus membuka diri

Di tahun 1920 jumlah mereka jatuh menjadi 100 orang. Komunitas ini mengalami banyak kelahiran cacat karena memiliki tradisi hanya menikahi orang Samaritan lain yang jumlahnya sedikit, dan mereka tidak membuka diri bagi orang-orang lain yang ingin masuk agama mereka.

Sekarang sebagian dari mereka mengatakan, bila ingin tetap eksis, mereka harus terbuka kepada orang luar.

Cohen mengatakan, karena saat ini jauh lebih banyak laki-laki daripada perempuan, mereka harus mencari calon istri dari luar komunitas.

Sebagian Samaritan menggunakan internet untuk mencari istri dari negara-negara lain bahkan dari tempat jauh seperti Ukraina, dimana sang wanita kemudian masuk ke dalam agama Samaritan dan menikah dengan seorang laki-laki Samaritan.

Seorang wanita lain dari Amerika mencatat sejarah dengan menjadi orang pertama yang masuk ke agama Samaritan tanpa menikahi penganut agama itu.

Wanita bernama Sharon Sullivan itu sekarang tinggal di tengah komunitas itu bersama empat anaknya.

"Walaupun ungkapan (good Samaritan) sering digunakan, komunitas Samaritan sendiri tidak banyak diketahui," kata Sullivan.

"Lebih banyak orang yang mengetahui lebih baik. Ini akan menjamin kelangsungan hidup mereka di masa depan."

Berita terkait