Cara Jepang antisipasi gempa

Tsunami menerjang wilayah Jepang setelah gempa bumi dahsyat Hak atas foto AP
Image caption Tsunami menerjang wilayah Jepang setelah gempa bumi dahsyat

Jepang menyumbangkan kata tsunami -yang arti harfiahnya gelombang pelabuhan- kepada dunia.

Kata tersebut mengacu ke kenaikan permukaan laut dangelombang semacam itu tercatat sudah berkali-kali menerjang sepanjang sejarah Jepang

Gempa di lepas pantai tahun 1707, misalnya, menimbulkan tsunami yang menerjang Pulau Shikoku, dan menelan ribuan korban jiwa.

Sebelum itu pada abad XV, gelombang rasa dilaporkan memusnahkan Daibutsu, sebuah bangunan di puncak bukit yang berisi patung Buddha dari perunggu, di Kamakura, kota kecil di selatan Tokyo.

Jepang bertengger di puncak pertemuan beberapa lempeng tektonik. Kondisi geologis yang tidak stabil di sana menimbulkan sekitar 1.000 guncang setiap tahun.

Banyak guncangan-guncangan kecil berlangsung tanpa disadari orang awam, dan warga sudah terbiasa dengan gempa berskala sedang ketika berjalan.

Meski demikian, beberapa gempa menyisakan kenangan dalam kesadaran nasional dalam diri bangsa Jepang.

Catatan gempa

Gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan kota Kobe pada tahun 1995.

Namun sebelum itu, tahun 1923, gempa bumi dahsyat mengguncang Tokyo.

Dinamai Gempa Bumi Kanto Besar, guncangan berkekuatan 7,9 pada skala Richter menghantam Tokyo dan kebakaran yang berkobar sesudahnya melalap banyak rumah kayu.

Hak atas foto AP
Image caption Banyak bagian kota Kobe rusak parah bahkan total akibat gempa besar tahun 1995

Sekitar 100.000 warga meninggal dalam bencana alam tahun itu.

Sekitar 72 tahun kemudian, gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan kota Kobe di belahan barat Jepang.

Jalan bebas hambatan ambruk, sedangkan ribuan bangunan rusak. Kebakaran juga merebak di seluruh kota.

Sebanyak 6.400 orang tewas dan lebih dari 400.000 warga terluka.

Tokyo diperkirakan banyak kalangan akan dilanda gempa dahsyat lagi dan prediksi gempa itu kini telah berlalu.

Stasiun seismik

Hak atas foto AP
Image caption Bocah Jepang wajib mengikuti latihan kesiapan gempa di sekolah

Dengan sejarah gempa seperti ini, Jepang mencurahkan banyak usaha untuk mempersiapkan sistem respon, prasarana dan warganya untuk menghadapi potensi bencana

Pemerintah Jepang juga melakukan investasi besar-besaran untuk mengembangkan sistem pemantau.

Didirikan tahun 1952, Layanan Peringatan Tsunami dioperasikan oleh Badan Meterorologi Jepang (JMA).

Lembaga itu memantau kegiatan kegempaan dari enam kantor regional dengan memperhitungkan informasi yang dikirim oleh stasiun seismik di daratan dan lepas pantai. Jaringan kantor seismik itu membentuk Sistem Observasi Gempa Bumi dan Tsunami.

Kesiapan gempa menjadi bahan latihan bagi anak-anak usia sekolah

Dengan memanfaatkan sistem ini, JMA mengirimkan peringatan tsunami dalam waktu tiga menit dari gempa bumi terjadi.

Ketika gempa datang, data tetang besaran dan lokasi gempa segera disiarkan di stasiun televisi nasional, NHK.

Pesan itu kemudian ditambahkan dengan informasi mengenai peringatan tsunami jika memang ada bahaya gelombang pasang lengkap dengan kawasan yang harus bersiaga.

Di kebanyakan kota di Jepang, sistem pengeras suara biasa menyiarakan informasi darurat kepada warga.

Di sebagian kawasan pedesaan, warga juga mendapat radio yang dibagikan pemerintah daerah untuk bisa menerima perintah mengungsi.

Anak usia sekolah berlatih berlindung di bawah meja ketika mengikuti latihan kesiapan gempa.

Semua warga dewasa mendapat informasi mengenai lokasi pusat evakuasi terdekat, seperti taman atau lapangan olahraga.

Tempat berlindung

Hak atas foto AP
Image caption Arus air masuk jauh ke daratan setelah gempa bumi mengguncang Jepang 11 Maret 2011

Inspeksi keamanan bangunan juga diberlakukan di seluruh Jepang.

Gedung jangkung di kota besar dirancang agar bisa bergoyang, bukannya terguncang-guncang ketika gempa melanda. Konstruksi itu menjadikan bangunan lebih aman.

Pasca gempa Kobe, ketentuan baru mengenai standard bangunan anti-gempa mulai berlaku.

Pemda di sebagian wilayah Jepang menawarkan inspeksi keamanan struktur bangunan untuk rumah warga.

Sebagian kawasan pesisir juga memiliki tsunami shelter -tempat berlindung dari tsunami- yang juga dirancang tahan gempa.

Kawasan lain dilindungi dengan pintu banjir yang dirancang bisa menahan arus air yang dibawa tsunami.

Jika gempa bumi dengan kekuatan tertentu terjadi, kereta peluru akan berhenti. Demikian juga reaktor nuklir dan pusat pembangkit tenaga lain juga otomatis berhenti bekerja.

Inilah yang mengantar Jepang diakui banyak pihak sebagai salah satu negara yang paling siap menghadapi gempa bumi,

Namun, lepas dari semua langkah antisipasi ini, risiko gempa sangat tinggi, seperti gempa bumi yang melanda hari Jumat (11/03).

Berita terkait