PAS kritik larangan poco-poco di Perak

Foto arsip tarian poco-poco istri para menlu Asean tahun 2005 di Kuala Lumpur Hak atas foto AFP
Image caption Tarian poco-poco digemari di Malaysia dan digunakan untuk berolahraga

Anggota Partai Islam SeMalaysia, PAS, mengkritik kebijakan seorang ulama di negara bagian Perak yang melarang tarian poco-poco.

"Mengapa tarian ini perlu dipermasalahkan. Ini perkara budaya dan diminati sejumlah pihak untuk hiburan. Seorang mufti seharusnya menangani perkara besar seperti keadilan, korupsi dan bukan poco-poco, yang bukan perkara besar," kata anggota PAS dari Kuala Selangor, Dzulkefli Ahmad kepada BBC Indonesia.

Ulama Perak Harussani Zakaria mengatakan tarian poco-poco melanggar aturan dalam Islam.

"Penelitian kami menunjukkan tarian itu pada mulanya berasal dari Jamaika dan banyak ritual Kristen di dalamnya karena gerakannya menggambarkan salib dan karena itu tidak dapat diterima dalam Islam," kata Harussani kepada kantor berita AFP.

"Tarian itu juga dipraktekkan di Filipina dan sejumlah tempat di Indonesia dengan penduduk Kristen. Jadi tarian itu memiliki pengaruh Kristiani dan tidak sesuai dengan Islam," tambahnya.

Tetapi Dzulkefli mengatakan tarian yang banyak digemari di Malaysia ini tidak perlu diangkat menjadi masalah.

"Bagi saya poco-poco sama dengan tarian lain, tak perlu saya dukung tapi saya tak perlu mengharamkannya pula." kata Dzulkefli.

Kritikan lain

Di Malaysia, tarian ini banyak diterapkan untuk berolah raga.

Ulama lain, Mohamad Asri Zainul Abidin mengatakan tarian ini tidak perlu dilarang kalau tujuannya untuk kesehatan.

"Bila untuk alasan kesehatan...dan tidak terkait dengan keyainan atau dicampur adukkan dengan tindak tak bermoral lain seperti minuman beralkohol, seks bebas dan semacamnya, tentu diijinkan dalam Islam," kata mantan mufti negara bagian Perlis dalam blognya.

Asal poco-poco tidak jelas namun banyak yang menduga dari Indonesia lebih dari 20 tahun lalu untuk pengiring lagu dengan nama yang sama.

Kata poco-poco dalam bahasa Jamaika terkait dengan tarian liar yang dikontasikan dengan pengaruh paranormal.

Tahun 2008, badan Islam tertinggi Malaysia, Dewan Fatwa Nasional melarang yoga untuk pemeluk Islam.

Keputusan itu memicu kritikan diantara kaum moderat Islam dan menyebabkan perdana menteri saat itu Abdullah Badawi turun tangan dan mengatakan Muslim dapat melakukan yoga sepanjang tidak ada elemen Hindu di dalamnya.

Berita terkait