Alkitab di Sabah dan Serawak boleh tanpa stempel

Injil
Image caption Ribuan Injil impor ditahan bea dan cukai Malaysia sebelum dibubuhi stempel kementerian dalam negeri

Pemerintah Malaysia mengizinkan komunitas Kristen di negara bagian Sabah dan Serawak mengimpir Injil dalam bahasa Melayu dan mencetaknya dalam berbagai bahasa daerah tanpa perlu dibubuhi stempel kementerian dalam negeri dengan bunyi "Terbitan Kristen."

Kabinet Malaysia melalui menterinya yang beragama Kristen, Datuk Seri Idris Jala, pada Sabtu (02/3) menjabarkan sejumlah konsesi kepada warga Kristen di Sabah dan Serawak menjelang pelaksaan pemilihan negara bagian Sarawak pada 16 April.

Namun kebijakan khusus ini tidak berlaku bagi komunitas Kristen di Semenanjung Malaysia. Alkitab impor dalam bahasa Melayu/Indonesia harus dibubuhi stempel dan nomor seri kementerian dalam negeri.

Menurut Jala, perbedaan diberlakukan karena di wilayah Semenanjung Malaysia masyarakat Muslim adalah mayoritas, sedangkan di negara bagian Sabah dan Serawak warga Muslim adalah minoritas.

"Dengan mempertimbangkan kepentingan komunitas Muslim lebih luas di wilayah semenanjung, Injil dalam bahasa Melayu/Indonesia yang diimpor atau dicetak di dalam negeri harus distempel dengan kata-kata "Publikasi Kristen' dan tanda salib pada sampul muka," kata Jala dalam pernyataannya.

Dia menambahkan Injil sekarang boleh dicetak di daerah setempat dalam berbagai bahasa suku termasuk bahasa Iban, Kadazan-Dusun dan Lun Bawang.

Akan tetapi, Jala tidak menyinggung kata "Allah" yang selama ini dipandang sebagai inti sengketa Alkitab di Malaysia. Masyarakat Kristen telah menyatakan kemarahan atas penyitaan puluhan ribu Injil impor dalam bahasa Melayu oleh kantor bea dan cukai sejak 2009.

Penyitaan dilakukan berdasarkan larangan pemerintah bahwa kata "Allah" tidak boleh digunakan dalam Injil berbahasa Melayu.

Berita terkait