Burung hantu untuk berantas hama tikus

Burung hantu Hak atas foto AP
Image caption Burung hantu dianggap lebih efektif dibandingkan pestisida untuk berantas hama tikus

Sejumlah perusahaan kelapa sawit memberantas hama tikus dengan menggunakan burung hantu karena dianggap lebih murah dan efektif.

Selama ini, produsen kelapa sawit di Asia Tenggara berupaya menggunakan berbagai cara memberantas hama, mulai dari ular sampai racun dan burung hantu dianggap paling manjur.

"Kami menggunakan burung hantu untuk perkebunan di Sumatra Selatan," kata Michael Kesuma, dari Sampoerna Agro.

"Di daerah itu, saya sendiri menyaksikan hasil pemberantasan hama dengan menggunakan burung hantu. Di bawah kandang-kandang burung hantu di pohon-pohon, ada banyak tulang tikus," kata Michael kepada kantor berita Reuters.

Sementara itu PT BW Plantation, BWPT, mengatakan penggunaan burung hantu untuk memberantas hama dapat menghemat US$300.000 setiap tahun.

"Kami memiliki pelatih burung hantu yang menjaga dari telur sampai burung-burung itu dapat dilepas ke lapangan," kata Kelik Irwantono dari BWPT.

Perusahaan itu pertama kali menggunakan burung hantu tahun 2009.

Lebih dari 90% pasok minyak sawit dunia berasal dari Indonesia dan Malaysia. Negara penghasil sawit lain termasuk Kolombia, Benin, Kenya dan Ghana.

Kelompok lingkungan Deforestation Watch, hama tikus menyebabkan turunnya produksi sekitar lima persen.

Tetapi populasi burung hantu semakin berkurang dalam lima puluh thaun terakhir karena semakin diperluasnya perkebunan.