Nasib penguin Happy Feet tak diketahui

penguin happy feet Hak atas foto Getty
Image caption Happy Feet terdampar sejauh 3000km dari koloninya di Antartika.

Kekhawatiran semakin meningkat atas Happy Feet -seekor penguin yang dikembalikan ke laut lepas setelah terdampar di Selandia Baru- karena para ilmuwan kehilangan kontak dengannya.

Sebelum dilepas kembali ke laut -dengan harapan akan berenang ke habitatnya di Antartika- penguin itu dilengkapi dengan alat pelacak untuk mengetahui keberadaannya. Namun sejak Jumat (09/10) tidak tersedia lagi informasi tentangnya.

Para ilmuwan mengatakan ada kemungkinan Happy Feet sudah dimakan hewan predator atau alat pelacaknya rusak maupun jatuh.

Kevin Lay dari tim pelacak satwa liar, Sirtrack, mengatakan bahwa penjelasan yang paling mungkin adalah alat pelacak jatuh terlepas dari Happy Feet.

"Agar tidak menganggu, kami hanya melekatkan dengan lem agar tidak gampang jatuh. Kami berharap alat itu bisa melekat lima sampai enam bulan, namun tampaknya tidak seperti itu, hanya bertahan dua minggu," jelasnya kepada stasiun TVNZ.

Lay mengatkan memang ada kemungkinan bahwa penguin itu dimakan hewan lain namun dia meragukannya. .

"Ada beberapa spesies yang akan memangsa penguin, namun kecil kemungkinan terjadi pada Happy Feet karena wilayah tempat dia berada."

Kembali ke anonimitas

Ahi satwa liar, Colin Miskelly, yang menjadi penasehat dalam pengobatan Happy Feet, menegaskan upaya pencarian penguin masih akan terus dilakukan walau itu berarti akan sulit.

"Kecil kemungkinan kita akan tahu apa yang menyebabkan tranmisi menghilang, namun ini saatnya untuk menghadai realitas bahwa penguin sudah kembali ke anonimitas seperti ketika dia dulu ditemukan," katanya kepada antor berota AFP.

Happy Feet dilepas dari kapal penelitian Tangaroa pada tanggal 4 September di Laut Selatan, sekitar 80km di lepas pantai Pulau Campbell.

Pelepasan ke laut bebas dilakukan setelah dia menjalani operasi akibat memakan pasir sebanyak 3kg, yang dianggapnya sebagai salju yang biasa digunakan penguin untuk menjaga suhu tubuh.

Dia ditemukan tedampar di pantai Peka-Peka di sebelah utara Wellington, Selandia Baru, sekitar 3.000km dari koloninya di Antartika, pada bulan Juni.

Kisah penguin ini mendapat perhatian masyarakat dunia dan muncul penggalangan dana guna mendukung upaya pengobatan dan pelepasannya.

Berita terkait