Rp2,5 miliar untuk pikat burung ke Jakarta

Tanaman peneduh Hak atas foto 1
Image caption Pokok-pokok pohon asam ini diduga sudah ditanam sejak Belanda berkuasa di Batavia.

Pemerintah ibukota Jakarta berniat meluncurkan program reboisasi besar-besaran tahun ini dalam rangka memperbaiki vegetasi wilayah perkotaannya.

Pemda DKI menganggarkan dana sekitar Rp2,5 miliar untuk program di lima wilayah kotamadianya.

"Jakarta dulu pernah menjadi kota hijau dimana pepohonan menjadi rumah atau tempat singgah burung liar, kami ingin kembalikan suasana itu," kata Catharina Suryowati, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI.

Burung dipilih sebagai target reboisasi, menurut Catharina, karena punya reputasi sebagai indikator alami kualitas lingkungan.

"Jelas sekali puluhan tahun lalu populasi burung liar di Jakarta besar karena ketersediaan vegetasi penunjang dan daya dukung lingkungan yang cukup. Sekarang tidak."

Program ini menurut Catharina akan dipusatkan pada titik hijau yang terputus akibat padat dan cepatnya pertumbuhan populasi manusia dan gedung di Jakarta.

"Dari hutan kota UI (Depok), misalnya, lurus ke arah Pasar Minggu, kemudian Buncit, Kuningan, Menteng, lalu Lapangan Banteng, Gunung Sahari terus sampai Kemayoran, itu banyak titik yg vegetasinya sudah punah," papar Catharina.

Tidak dijelaskan kapan dan berapa banyak batang pohon yang perlu ditanam untuk keperluan ini, dengan alasan seluruhnya masih dihitung.

"Yang jelas kita butuh berbagai jenis, bukan cuma pohon peneduh besar saja, tetapi juga semak dan perdu sesuai habitat burung."

Peta hijau

Persoalan penghijauan menjadi masalah makin serius di Jakarta karena makin tergerusnya luasan lahan terbuka hijau.

Dari syarat 30% lahan dalam Rancangan Tata Ruang Wajib Jakarta, kini luasan tersedia menurut Pemda DKI tinggal kurang dari sepertiganya.

"Sudah dari luasannya minimun, kualitasnya juga buruk," kritik Nirwono Joga, pegiat lingkungan dan pecinta hijau Jakarta.

Ruang-ruang terbuka hijau di Jakarta menurut salah satu pegiat gerakan Peta Hijau Jakarta ini, lebih banyak dihiasi tanaman bebungaan yang indah dipandang namun tak memberi banyak manfaat ekologis.

Hak atas foto Green Map Indonesia
Image caption Dalam peta ini, ditulis situasi dan potensi ekologi Jakarta oleh gerakan Peta Hijau Jakarta.

Akibatnya fungsi tanaman untuk menyerap polusi, menyimpan air dan menjaga keseimbangan hara tak terpenuhi. Situasi inilah yang menurutnya antara lain mendorong Peta Hijau Jakarta merumuskan situasi dan potensi ekologi Jakarta dalam sebuah peta.

"Termasuk peta koridor persinggahan burung yang rupanya menarik Pemda itu," tambah Nirwono.

"Yang kita khawatirkan adalah nantinya proyek itu sekedar beautifikasi lagi, cuma polesan saja bukan kerja lingkungan yang serius."

Persoalan lain yg dihadapi Jakarta menyangkut kualitas hijauannya adalah cuaca ekstrim dan buruknya pengelolaan tanaman.

Sepanjang awal tahun ini saja, setidaknya tiga orang tewas akibat pohon peneduh jalan yang tumbang ditengan siraman hujan dan angin.

"Tapi kasusnya sudah jauh menurun dibanding tahun lalu, berkat usaha kita untuk mencegah pohon tumbang,"klaim Catharina Suryowati.

Menurut catatan dinasnya, Catharina menyebut ada 200-300 pohon rubuh tahun lalu di jalanan.

"Ada yang memang karena sudah tua, ada yang dari luar batangnya kelihatan sehat ternyata keropos, ada juga yang memang karena pengaruh puting beliung yang terlalu kuat," Catharina menjelaskan.

Dia mengklaim kasus berhasil ditekan setelah dilakukan pemangkasan pucuk (topping) dan penebangan pohon berisiko.

Tanam instan

Cuaca yang sejak Maret lalu membaik membuat klaim antisipasi Pemda DKI sulit dibuktikan.

Tetapi menurut pakar botani LIPI, Tukirin Kartomihardjo, tanaman peneduh Jakarta selalu menyimpan risiko membahayakan pengguna jalan karena berbagai sebab.

"Pertama karena pemilihan jenis pohonnya sendiri," kata Tukirin.

Hak atas foto 1
Image caption Angsana yang besar dan rimbun, namun mudah keropos sehingga rawan tumbang.

Program penghijauan terbesar Jakarta dilakukan pada tahun '70an dibawah era Gubernur Ali Sadikin.

"Saat itu fokusnya adalah tanaman tumbuh cepat, hasilnya segera kelihatan," kata Tukirin.

Dipilihlah tanaman seperti angsana yang mudah menjulang dan berdahan subur. Padahal angsana adalah tanaman berbatang lemah dan mudah keropos, sementara rumbai dahannya justru berpotensi mudah dibawa angin.

"Pemerintah kolonialis Belanda yang ratusan tahun sebelumnya menguasai Batavia, memberi contoh dengan menanam (pohon) asam yang terbukti lebih kuat."

Begitu perkasanya pokok-pokok asam itu, menurut Tukirin buktinya bisa dilihat sampai kini di sekitar pemukiman elit Menteng, Jakarta Pusat.

Selain asam, pemilihan jenis seperti tanjung, kepel dan rambai, dinilainya akan mengurangi risiko pohon tumbang.

Tetapi ada persoalan lain.

"Kecenderungan instan tetap ada. Maunya cepat tumbuh jadi tanam batang bukan dari bibit,"kata anggota penyusun Buku Panduan Penanaman Pohon Peneduh Jalan terbitan Kementrian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan LIPI ini.

"Seperti di komplek-komplek perumahan, menanam batang pohon tanpa proses bibit memgundang bahaya besar."

Tanaman itu meski tumbuh indah secara artistik, akarnya sangat terbatas sehingga mudah tumbang.

"Apalagi ditambah pemeliharaan kurang, sudah. Kena angin langsung makan korban."

Di beberapa negara yang pernah ditinggalinya kata Tukirin, pemeliharaan tanaman sangat dipentingkan.

"Di negara dingin tanaman diselimuti kalau musim salju, diikat dengan pengait agar kuat bila nampak mulai miring" tambah peneliti senior LIPI ini.

Tanpa pemangkasan teratur, di negara rawan serangan taifun atau badai seperti Jepang, pohon akan jadi sumber bencana.

"Habis nanti kecabut semua. Di (negara) kita, karena secara alami pohon sudah tumbuh subur, bagus ya sudah, tidak diapa-apakan lagi," kritiknya.

Dinas Pertamanan DKI memperkirakan terdapat sekitar 4,5 juta batang tanaman di ibukota, dimana tanaman peneduh jalan mencapai sekitar ratusan ribu batang. Namun pengecekan terakhir menunjukkan antara 70-80 ribu batang pohon dinyatakan sudah tua atau berisiko tumbang akibat cuaca dan layak segera diganti.