Brasil tutup gunung sampah terbesar

Image caption Sekitar 17,000 pemulung sampah tergantung pada TPA di Rio de Janeiro.

Tempat pembuangan sampah terbesar di Brasil di pinggiran kota Rio de Janeiro akhirnya ditutup setelah 34 tahun beroperasi.

Bekas lokasi 'gunung sampah' di dekat bandar udara terbesar itu akan didirikan pabrik pengolahan sampah yang modern.

Para pegiat lingkungan, yang sejak awal mengkampanyekan penutupan tempat pembuangan sampah karena alasan polusi, menyambut baik keputusan ini, walau nantinya sekitar 1,700 orang pemulung sampah akan kehilangan pekerjaannya menyusul penutupan 'lahan' mereka.

Sebelumnya, sekitar tiga dekade, mereka sangat menggantungkan hidupnya pada tempat pembuangan sampah, TPA, yang tiap harinya menampung sekitar 9,000 ton sampah warga Kota Rio dan sekitarnya.

Perwakilan para pemulung, yang di Brasil dijuluki 'catadores', dilibatkan pada upacara resmi penutupan TPA yang disebut Jardim Gramacho itu.

"Penutupan TPA Gramacho akan menjadi acuan dan dijadikan contoh untuk penutupan TPA lainnya di Brasil," kata Menteri Lingkungan Brasil Izabella Teixeira, dalam pidato sambutannya.

Penutupan TPA Gramacho, yang sebelumnya tertunda beberapa kali, terjadi beberapa pekan menjelang pembukaan konferensi PBB tentang lingkungan, atau Rio+20, pada 20 Juni nanti.

Polusi sampah

Lebih dari tiga puluh tahun, para pegiat lingkungan di Brasil mengecam keberadaan TPA tersebut, karena dampak polusi sampah busuk.

Image caption Tencananya TPA Rio akan diganti menjadi pabrik pengolahan sampah.

Selain itu, sebagian sampah di TPA itu bocor dan mengotori Teluk Guanabara di kawasan Rio.

Seorang pemulung bernama Lorival dos Santos, 46 tahun, yang sudah tinggal 13 tahun di wilayah itu mengaku sudah terbiasa dengan kondisi di sekitarnya.

"Saat pertama kali tiba di sini, Anda pasti bertanya 'kok bisa melakukan pekerjaan jorok seperti ini.' Tapi kemudian Anda punya teman baik dan menemukan pekerjaan lumayan menggiurkan di sini, "katanya kepada kantor berita AP.

Walikota Rio Eduardo Santos mengatakan, para pemulung sampah yang bekerja di TPA akan mendapat kompensasi dan semacam kursus untuk mencari pekerjaan baru.

Tapi di mata seorang pemimpin warga lokal, Nilson Jose dos Santos, mengatakan penutupan TPA itu tidak begitu berdampak baik pada kaum muda yang tinggal di daerah tersebut.

"Sebelumnya, banyak kaum muda mau bekerja jadi pemulung dan meninggalkan dunia obat bius... Alasannya, tak sulit bekerja jadi pemulung dan tidak memerlukan keahlian khusus," kata Nilson kepada Globo Online.

Dengan ditutupnya lokasi 'gunung sampah' di pinggiran Kota Rio, Nilson dan kawan-kawannya kemudian bertanya-tanya: "Saya ingin tahu apakah teman-teman saya akan dengan mudahnya memperoleh pekerjaan baru dan tak tertarik untuk kembali ke dunia hitam obat bius yang menggiurkan."

Berita terkait