Disiplin kuat dan pengalaman nyaris mati Idris Sardi

Terbaru  16 November 2012 - 14:47 WIB

Idris Sardi bermimpi membangun akademi musik bagi anak berbakat tetapi tidak mampu.

Meski badannya nampak awet kurus kering dan kini hanya mampu berjalan pelan, Idris Sardi tak kehilangan semangat dan masih berapi-api bicara.

Ditemani manajer yang juga putrinya, Santi, Idris masih sibuk manggung di beragai lokasi meski kini menetap di Yogyakarta.

“Sehari paling tidur beberapa jam, atau di pesawat,” katanya saat menjadi tamu untuk Ruang Info Musika BBC, Senin (12/11) lalu.

Idris, lahir Juni 1939, telah melahirkan ratusan komposisi dan puluhan album, meraih berbagai penghargaan musik termasuk 10 Piala Citra untuk penata musik film terbaik bekerja sama dengan para sutradara ternama.

Tetapi prestasi ini memakan pengorbanan yang sangat besar.

“Waktu saya umur lima tahun, tiap pukul lima pagi saya ikut bangun mendengarkan ayah saya latihan intonasi dan itu sama sekali enggak enak. Cuma satu nada neeengggg gitu, bayangkan anak umur lima tahun,” kisahnya.

Sepuluh tahun kemudian, ayahnya, Mas Sardi meninggalkan wasiat agar si sulung tujuh bersaudara ini mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.

Almarhum Mas Sardi adalah pemimpin sebuah orkes simfoni di Yogyakarta yang pada tahun 1940-an sangat disegani di Indonesia.

Pantang mundur dari tanggung jawabnya, Idris yang baru belasan tahun lalu memegang peran sebagai concert master, yang termuda pada jaman itu.

Jatuh-bangun berguru dan berkarir akhirnya memuat nama Idris dikenal dan disegani orang.

Ratusan komposisi diciptakan, undangan manggung yang tak putus hingga sepuluh piala Citra menjadi saksi untuk suksesnya dari memainkan biola.

‘Sakit jiwa’

Tetapi Idris ogah disebut maestro, bahkan dipanggil “bapak” pun dia tak mau.

“Bang, mas, bung, Idris, apa saja deh asal jangan pak, apalagi maestro. Cucu saya malah panggil Idris saja,” tambah laki-laki berzodiak gemini ini.

"Mungkin saya ‘sakit jiwa’, karena saya tidak bisa dengar musik yang saya mainkan, pasti ada saja yang salah"

Idris Sardi

Panggilan setinggi maestro menurutnya membawa beban, menjauhkannya dari pergaulan sejajar dengan kolega sesama pemusik dan menciptakan jarak.

“Saya dianggap terlalu disiplin, amat sensitif, harus dihormati dan tua, saya enggak (begitu),” tegasnya.

Idris boleh saja mengaku dirinya bukan perfeksionis, tetapi disiplin sangat kuat dan standar sangat tinggi membuatnya sulit menerima kekurangan apalagi bila menyangkut kualitas permainannya sendiri.

“Mungkin saya ‘sakit jiwa’, karena saya tidak bisa dengar musik yang saya mainkan, pasti ada saja yang salah.”

Memainkan biola, alat musik yang sangat sensitif terhadap perlakuan halus sekalipun, membuatnya tahu persis kalau dia melakukan kesalahan betapapun kecilnya.

“Main do itu dengan jari satu, jari dua atau jari tiga akan berbeda hasilnya, Jadi kalau saya merasa lebih bagus main dengan jari satu tapi saya pakai jari dua, saya merasa itu salah. Kalau saya Tanya Santi terus misalnya dia bilang “Pa, tadi ada yang salah”, wah sudah tambah tidak bisa makan saya,” katanya serius.

Perlakuan yang disebutnya ‘keji’ ini menurut Idris adalah salah satu konsekuensi janjinya pada almarhum sang ayah, lebih dari 60 tahun lalu.

Main biola dengan nada yang salah, kata Mas Sardi, adalah bentuk kedzaliman terhadap pendengarnya.

“Dan setiap kedzaliman harus ada sanksinya, maka begitu saya lengah sedikit pasti dapat pukulan atau jewer di telinga,” tambah pria pemakai setia sarung ini.

‘Bakat bejibun’

idris sardi

Idris Sardi selalu menerapkan disiplin tinggi dalam bermusik.

Di usianya kini, Idris masih memimpikan membangun sebuah akademi musik, untuk anak-anak berbakat di seluruh Indonesia yang tak mampu belajar musik.

Pandangan anak jaman sekarang tak pandai bermusik dan sekadar bersenang-senang dengan lagu pop disanggahnya keras.

“Bejibun itu dimana-mana. Masak dalam kondisi serba maju seperti sekarang mereka kalah dari saya yang jaman dulu tidak ada alat tidak ada televisi satelit, komputer, cuma ada oplet dan sepeda,” serunya berapi-api.

Anak masa kini, menurut Idris adalah korban jaman yang kurang perhatian orangtua, dan sulit mendapat akses pada musik yang baik.

“Misalnya biola, itu harus (dimainkan) di tempat yang sunyi, dingin tidak boleh berkeringat. Kalau tinggal di rumah petak sebelah ada musik keroncong sebelah dangdut, kapan mainnya?”

“Anak-anak itu begitu bisa main musik terus rekaman lagu-lagu yang mudah dituduh cuma mau cari uang, saya juga tidak percaya. Saya yakin mereka ingin terus bermusik dengan kualitas, tetapi mereka butuh uang. Nah produser itu mengiming-imingi uang saja.”

Menolak sebutan empu biola Idris merasa tertantang untuk menciptakan generasi penerus keahliannya memetik dawai alat musik itu.

“Kalau saya tidak bisa mengajari murid yang lebih bagus dari saya, berarti sebagai pemain saya gagal,” tegasnya.

Salah satu anak didiknya, Maylafayza Wiguna, kini juga dikenal malang-melintang di panggung-panggung musik Indonesia.

"Kalau saya tidak bisa mengajari murid yang lebih bagus dari saya, berarti sebagai pemain saya gagal,"

Idris Sardi

Tetapi selain Mayla, nampaknya belum muncul lagi nama-nama anak didik Idris yang mendekati keahlian sang guru.

Melewati usia 60-an, Idris sempat divonis menderita kanker usus tahun 1998 dan merasa umurnya tak akan lama lagi. Empat tahun sebelumnya, Idris bahkan sudah menggelar konser pamit, menutup karir bermain biola.

Toh jari-jemarinya sampai kini masih setia beraksi menampilkan bebunyian indah dari panggung musik memetik biola.

“Hikmahnya adalah memang saya harus kuat, karena memang saya masih dibutuhkan,” katanya tanpa nada menyombong menyebut campur tangan Tuhan dalam nasibnya.

Kerja yang kini sedang diselesaikannya, adalah memindahkan karya dari pita ukuran seperempat inci, dalam cakram padat.

“Sudah berbulan-bulan ini, jadi 1900 CD per 70 menit belum selesai. Betul kan berarti bukan saya, saya masih dibutuhkan itu dalam arti memang itu (kehendak) Tuhan.”

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.