Pasien tewas setelah transplantasi paru-paru perokok

Jennifer
Image caption Jennifer meninggal Agustus lalu, 16 bulan setelah transplantasi

Seorang wanita berusia 27 tahun yang mengidap kelainan kelenjar sekresi fibriosis sistik meninggal dunia setelah mendapat paru-paru dari seorang donor perokok.

Jennifer Wederell dari Hawkwell, Essex, meninggal di rumah Agustus lalu, 16 bulan setelah transplantasi di Harefield Hospital di London.

Colin Grannel mengatakan ia yakin anaknya tidak akan menyetujui transplantasi itu jika ia tahu bahwa donor berusia paruh baya tersebut adalah perokok berat.

Rumah sakit telah meminta maaf karena tidak memberikan Jennifer pilihan untuk menolak.

Jennifer didiagnosa dengan fibriosis sistis pada usia dua tahun dan memasuki usia pertengahan 20an ia harus bernafas dengan oksigen 24 jam sehari.

Ia sudah berada di daftar penerima transplantasi paru selama 18 bulan ketika pada April 2011 ia diberitahu bahwa ada satu donor yang cocok.

Grannel mengatakan keluarganya "sangat menantikan hari itu" selama bertahun-tahun dan menduga bahwa transplantasi akan membantu Jennifer pulih.

Ia menikahi tunangannya David Wederell pada bulan September tahun lalu, tapi pada Februari 2012 kanker ditemukan di paru-parunya.

'Seharusnya memiliki pilihan'

Image caption Colin Granell mengatakan anaknya meninggal karena 'kelalaian'

"Keterkejutan itu berubah menjadi kemarahan karena semua risiko dijelaskan satu jam sebelum transplantasi dan tidak satu kali pun fakta bahwa paru-paru yang digunakan adalah milik seorang perokok disebutkan," kata Grannel.

"Ia meninggal karena kelalaian orang lain."

Colin Grannel mengatakan anak perempuannya menjalani kematian yang seharusnya menjadi kematian si perokok.

Colin membuat kelompok Facebook, Jennifer's Choice, untuk mendorong orang yang tidak merokok agar mendaftarkan diri sebagai donor.

The Royal Brompton dan Harefield NHS Foundation Trust mengatakan, "Sangat jarang bagi pasien untuk secara spesifik meminta agar mereka tidak mendapat paru-paru yang secara klinis sehat, meski pun itu berasal dari perokok.

"Hal ini karena risikonya akan lebih tinggi jika pasien menolak paru-paru dari mantan perokok dan memutuskan untuk menunggu organ baru yang cocok dan berasal dari donor bukan perokok.

"Namun, kami menyadari bahwa Jennifer seharusnya mendapat kesempatan untuk membuat pilihan itu.

"Kami meminta maaf karena kelalaian ini.

"Dengan sangat menyesal, jumlah paru-paru yang tersedia untuk transplantasi akan menurun 40% jika ada kebijakan untuk menolak paru-paru milik perokok, daftar tunggu akan semakin panjang dan banyak pasien yang akan meninggal tanpa transplantasi."

Berita terkait