Kritik Yayak Kencrit lewat gambar

Yayak Kencrit
Image caption Yayak Kencrit memajang sekitar 500 karyanya dari periode 2009 hingga sekarang.

Pelukis dan pegiat Yayak Kencrit yang kerap mengkritik tajam pemerintah lewat gambar-gambaranya menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki.

Pameran bertajuk ‘Gambar Sebagai Senjata, Rakyat Berjiwa Merdeka’ itu memajang sekitar 500 karya-karya dari masa 2009 hingga saat ini, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar.

Dibuka resmi oleh mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli, Jumat (17/05) malam, pameran di Galeri Cita II Tim ini juga diramaikan dengan workshop dan diskusi hingga 29 Mei.

"Yayak Kencrit merupakan salah satu seniman yang penting. Dia satu-satunya pelukis yang dicari-cari rezim Orde Baru karena karya-karyanya," tutur Rizal Ramli.

Pada masa pemerintahan Suharto, pelukis tamatan Disan Grafis ITB ini menggambar poster kalendar Tanah Untuk Rakyat yang mengangkat kasus-kasus sengketa tanah di Indonesia.

Poster itu rupanya membuat berang rezim Order Baru dan dia diburu sehingga melarikan diri ke Jerman pada tahun 1992 dan baru pulang kembali ke Yogyakarta 13 tahun kemudian.

"Yayak yang pertama kali mengatakan kepada saya bahwa gambar adalah senjata untuk perubahan, gambar adalah senjata untuk perbaikan."

Beragam kritik

Memajang sekitar 500 lukisan kecil mulai ukuran setengah hingga A4 penuh, praktis semua isu-isu di Indonesia sejak 2009 terungkap dalam gambar-gambar Yayak Kencrit.

Ada gambar SBY dengan celana renang yang naik pisang bertuliskan ex import maupun SBY dengan baju berwarnai biru yang robek.

"Baju robek sok miskin," komentar Yayak saat menemani berkeliling Rizal Ramli –yang belakangan juga kerap mengkritik pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kalau yang pisang itu tentang buah-buahan yang semuanya diimport. Pisang, mangga, semua import. Itu membuat para petani menjadi miskin,” tuturnya.

Raibnya Widji Thukul juga diangkat Yayak, kacaunya Ujian Nasional, maupu dugaan korupsi yang menimpa para petinggi Partai Keadilan Sejahtera,

"Tapi PKS kan macam-macam kepanjangannya. Partai Kelamin Sejahtera juga bisa,” tutur Yayak sambil tertawa lepas.

"Korupsi 40 miliar itu merupakan isu terbaru yang kuangkat. Ada 200 juta untuk perempuan, itu nilainya kalau untuk anak sekolah cukup untuk berapa anak," tambahnya.

Image caption Yayak Kencrit juga masih sempat menyindir kasus dugaan korupsi di seputar PKS.

Salah satu gambar yang dipamerkan di TIM memperlihatkan wajah perempuan sedada dengan lambang yang mirip PKS namun dengan tulisan Partai Kelamin.

Untuk pembelajaran

Bagi Yayak, tak banyak sebenarnya yang berubah di Indonesia sejak dia melarikan diri ke Jerman karena dikejar-kejar pemerintah Orde Baru.

"Ya sekarang lebih terbuka, saya bisa pameran dengan terbuka. Itu berubah."

"Tapi kemiskinan masih ada, kekerasan juga masih ada. Itu warga Mesuji yang unjuk rasa di depan istana dengan mulut dijahit karena frustasi tidak didengar," tambah Yayak.

Pelukis yang lahir di Yogyakarta tahun 1956 ini merujuk pada kekerasan akibat sengketa tanah di Lampung pada akhir 2011 yang dilaporkan menyebabkan sekitar 30 orang tewas.

Cara melukis Yayak juga tampaknya tidak banyak berubah.Dengan sentuhan yang agak kasar seperti karikatur dan warna-warna cerah, tema yang dibawa menjadi keluar secara glambang. "Sekarang banyak seni yang merupakan hiburan. Karya saya lebih apa adanya dan untuk pembelajaran," jelasnya.

Yayak Kencrit terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2004, juga di TIM –ketika masih tinggal di Jerman- dengan judul Semua Orang itu Guru, Semua Tempat itu adalah Sekolah.

Berita terkait