Spanyol gelar tradisi lempar tomat berbayar

tomatina
Image caption Jalan-jalan di kota penuh warna merah akibat tomat yang dilemparkan selama festival.

Meski sedang dilanda krisis akibat tumpukan utang, pemerintah Spanyol memutuskan untuk tetap menggelar acara tradisional festival lempar tomat.

Acara ini biasanya gratis, tetapi kali ini, turis harus membayar untuk bisa ikut serta di acara yang digelar di kota Brunol, Spanyol.

Setiap tahunnya, ribuan turis memadati kota ini untuk turut serta dalam pertempuran lempar tomat yang biasa berlangsung hingga berjam-jam dan mengakibatkan jalan-jalan penuh dengan jus tomat berwarna merah.

Tahun ini tiap turis harus membayar karcis masuk minimal 10 euro (sekitar Rp12,000).

Para turis yang menyukai acara kebanyakan berasal dari Australia, Jepang, Inggris, Spanyol dan Amerika Serikat.

Bisa timbulkan utang

Pemerintah yang menyelenggarakan acara ini berdalih tentang meningkatnya biaya penyelenggaraan dan jumlah turis yang makin banyak.

"Ini kali pertama kami mengenakan tiket masuk berbayar kepada publik untuk bisa ikut serta pada festival paling populer. Hal ini dilakukan untuk membatasi kerumunan massa dan untuk alasan keamanan," bunyi pernyataan Dewan Kota Brunol seperti dikutip dari kantor berita AFP.

"Kami memiliki masalah selama delapan atau sepuluh tahun belakangan ini: peserta yang datang tidak terkontrol, kami tidak tahu berapa banyak yang akan datang," kata Wali Kota Brunol Joaquin Masmano Palmer kepada media setempat.

Selain itu, biaya untuk mengadakan perang makanan ini juga membebani kota yang dikatakan akan terbebani utang beberapa juta euro karena festival tomat.

Namun sejumlah kalangan khawatir festival lempar tomat malah akan menjadi ajang untuk mencari untung,

Sekitar 5.000 tiket gratis telah disiapkan untuk penduduk sekitar, dan kota ini juga bersiap untuk kedatangan para turis yang tidak memiliki tiket.

Berita terkait