Menikmati halus mulus vokal Tulus

Tulus

Namanya belum terlalu dikenal publik tapi gadis-gadis kota besar yang gemar menyimak musik lokal di radio, memujanya.

Mohammad Tulus Rusydi, 26, baru dua tahun terjun ke jalur profesional. Album pertamanya, Tulus (2012), diproduseri sendiri dan diedarkan lewat jaringan distributor alternatif, Demajors.

"Saya mulai dari lulusan arsitek yang sebenarnya sudah hampir memutuskan untuk kuliah lagi di luar negeri," kata Tulus di tengah kerumunan wartawan setelah penampilan panggungnya di hari pertama Java Soul Nation Festival dua pekan lalu di Jakarta.

Di panggung itu penonton, tentu kebanyakan gadis remaja, setia menyaksikan vokalis tinggi besar itu menyanyi satu setengah jam penuh dengan hampir semuanya lirik lagu dihafal luar kepala.

"Kalau ada yang bilang saya populer, sumpah saya kaget. Waktu di Java Jazz (Festival, 2012) ada yang ikutin saya nyanyi aja saya kaget banget," katanya dengan muka girang.

Apalagi ketika menemukan wajahnya terpampang di halaman majalah musik the Rolling Stone Indonesia yang memberinya gelar Editor's Choice: Rookie of the Year tahun ini.

"Kejutan-kejutan ini lah yang kemudian bikin saya mantap jalan (berkarier) di musik," tambah bujangan yang mengaku jomblo ini saat diwawancara untuk program Info Musika BBC.

Tak perlu beda

Seperti solois pria lain dalam industri ini, kekuatan utama Tulus ada pada kualitas vokalnya.

"Suara rekaman sama manggung enggak beda deh, enak banget," seru Marissa Putri yang mengaku sudah dual kali nonton penyanyi pujaannya itu mentas di Jakarta. Bersama teman-temannya, gadis cantik 19 tahun ini memilih menikmati suara Tulus meski panggung lain menawarkan berbagai pilihan artis termasuk dari mancanegara.

"Aransemen lagu-lagunya enak, renyah, easy listening sangat," komentar Nirmala Kania, yang baru 16 tahun.

Image caption Album perdana berjudul Tulus dirilis 2012 melalui label rekaman milik sendiri, Musik Tulus.

Tulus mengaku menulis sendiri semuanya lirik lagunya yang seluruhnya kini diperkirakannya berjumlah sekitar seratus lagu.

Ia tak memainkan alat musik, jadi urusan aransemen akan diserahkan pada orang lain setelah ia membawa lagunya pada orang itu.

Teman Hidup, Diorama, Sewindu dan Sepatu, untuk menyebut diantara beberapa lagu populer dalam Album Tulus, seluruhnya berkisah tentang tema cinta yang nampaknya kena di hati para remaja.

"Padahal Teman Hidup itu saya tulis untuk ibu dan kakak saya lho, dua perempuan yang paling saya sayangi.

"Waktu direkam saya agak deg-degan, dan begitu tahu lagu ini ternyata bisa diinterpretasi lain (sebagai kisah cinta pasangan kekasih) dan disukai orang, saya lega sekali," katanya sambil tertawa.

Apakah kesuksesannya yang sangat cepat karena ia menawarkan sesuatu yang berbeda dari musisi vokal lain?

Dengan merendah pemuda lulusan sebuah universitas swasta di Bandung ini mengatakan ia tak merasa punya hal berbeda dibanding penyanyi lain.

"Secara alami, kita pasti berbeda kan, kembar identik saja punya perbedaan. Tetapi saat memutuskan bermusik saya tidak merasa perlu menyiapkan sesuatu yang beda.

"Ternyata Indonesia itu sangat welcome ya, karena siapa pun kamu kamu akan dikasih kesempatan."

Tulus berencana menelurkan album keduanya akhir tahun ini dan memenuhi permintaan manggung, yang menurut manajernya sudah memenuhi seluruh jadwal sampai akhir tahun.

Info Musika adalah program BBC Indonesia yang mengupas berbagai sisi tentang musik dan disiarkan tiap Jumat petang WIB.

Berita terkait