Kiprah imam asal Indonesia di New York

shamsi ali
Image caption Shamsi Ali di pusat komunitas Jamaica Center, Queens, New York.

Memimpin umat Islam di kota besar macam New York bukan perkara gampang, terlebih sejak peristiwa 11 September 2001.

Tetapi Shamsi Ali, imam masjid kota NewYork kelahiran Tanah Toa, Sulawesi Selatan, ini berhasil menyatukan komunitas Muslim dan Non-Muslim di kota itu.

Selama satu dekade, dia selalu berada di mimbar di masjid terbesar di New York, Islamic Cultural Center. Disinilah Shamsi Ali menyampaikan khotbah tentang nilai-nilai demokrasi dan mengecam ekstrimis kepada ribuan jemaah.

Diluar masjid, dia mengajarkan kepada FBI dan anggota Kongres tentang hubungan antar agama.

Tidak seperti pemuka agama yang konservatif yang melarang musik, Ali justru menyukai musik rap dan musik hip-hop mogul Russell Simmons.

Pada masa kecilnya, Shamsi mengatakan ia memiliki jiwa pemberontak. Sewaktu remaja ia bahkan pernah memimpin anak dari desanya berkelahi dengan anak-anak dari desa lain dan berlatih beladiri pencak silat.

"Itu hal lain yang saya suka," kata dia. "Saya suka bertarung."

Anak ketiga dari enam bersaudara ini dibesarkan di sebuah desa yang jaraknya enam jam perjalanan darat dari kota terdekat. Orangtuanya tidak pernah membaca Alquran, tapi setelah mereka menegaskan bahwa Shamsi harus mempelajarinya.

Pada usia 12 tahun dia didaftarkan di sebuah pesantren dengan disiplin yang sangat ketat dan ia dengan cepat menjadi siswa unggulan.

Image caption Shamsi dengan dua anak perempuannya Maryam (kiri) dan Malika.

"Pada awalnya, rasanya seperti penjara," katanya. "Tapi kemudian, saya mulai menyebutnya penjara ilahi." Di sekolah, ia belajar membaca ayat-ayat Al-Quran lebih indah daripada anak-anak lain. Dan dia belajar untuk berkhotbah.

Diterima berbagai kalangan

Perjalanan hidup kemudian membuatnya mendarat di AS pada tahun 1996 ketika ia berusia 29 tahun. Ketika itu Shamsi terkejut mengetahui kenyataan bahwa tidak semua orang Amerika berkulit putih.

Waktu itu ia diminta oleh Duta Besar Indonesia untuk PBB untuk membangun dan mengelola masjid Indonesia di New York.

Di sana Shamsi dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dengan orang dari berbagai kalangan.

Shamsi juga berteman dengan mantan presiden AS George W Bush. Hanya selang beberapa hari setelah peristiwa 11 September 2001, kota New York memilihnya untuk mewakili komunitas Muslim untuk mengunjungi lokasi kejadian.

Selain Bush, mantan presiden AS lain seperti Bill Clinton juga menuliskan kata sambutan di buku memoirnya yang berjudul Sons Of Abraham, yang ia tulis bersama dengan seorang rabi Yahudi yang juga adalah teman dekatnya.

Berbicara mengenai Islam dan Amerika, Shamsi mengatakan: "Adalah tidak benar bila Amerika dikatakan jelek atau lebih buruk dari negara Islam manapun. Islam bagi saya adalah tentang keadilan, kesetaraan, toleransi, kebebasan, memberikan hak orang lain dan menghormati HAM. Tanpa itu semua - bahkan bila anda mengaku seorang religius, atau negara Islam - itu adalah satu kebohongan bagi saya."

Berita terkait