Gairah muda di Pasar Santa

pasar santa
Image caption Piringan hitam penyanyi Ella Fitzgerald diputar di Laidback Blues, sebuah gerai di Pasar Santa.

Di antara lapak-lapak penjual sayur dan buah di lantai bawah Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, suara terompet yang ditiup legenda jazz, mendiang Miles Davis, sayup-sayup terdengar.

Bunyi-bunyian khas itu datang dari lantai teratas pasar tersebut.

Suara terompet Miles Davis, senandung John Lennon, dan lengkingan Ella Fitzgerald kini kerap terdengar di Lantai 1 Pasar Santa, sebuah pasar tradisional yang terselip di daerah permukiman elite Jakarta Selatan.

Nyanyian mereka mulai menggema di selasar-selasar pasar tersebut sejak Substore dan Laidback Blues membuka etalase mereka untuk umum, empat bulan lalu. Keduanya merupakan gerai penjual piringan hitam lagu-lagu jadul alias jaman dulu.

Kepada BBC, pasangan suami istri Aria Anggadwipa dan Intan Anggita mengaku tertarik membuka Substore setelah mengunjungi ABCD atau A Bunch of Caffeine Dealers —gerai penjual kopi yang dimiliki Hendri Kurniawan dan Ve Handojo tepat di sebelah Substore.

“Harga sewa di pasar sangat terjangkau sehingga barang-barang yang kami jual pun terjangkau. Kita ingin piringan hitam, buku-buku bagus, dan barang lainnya tidak eksklusif. Affordable bagi semua orang,” kata Aria.

Harga piringan hitam yang dijual Aria dan Intan pun beragam, mulai dari Rp75.000 sampai Rp800.000. “Secara rata-rata, piringan hitam yang kami jual seharga Rp150 ribu hingga Rp250 ribu,” ujar Aria.

Putaran bisnis

Keberadaan Substore tidak lepas dari ABCD. Gerai kopi itulah yang menjadi pionir di lantai 1 Pasar Santa.

Image caption Keberadaan ABCD memunculkan gerai-gerai lain di Pasar Santa.

“Sebelum ABCD muncul, lantai 1 pasar ini benar-benar vakum sejak berdiri 2007 lalu. Dari 350 kios, tiada toko yang buka sama sekali. Namun, ketika ABCD buka bulan puasa lalu, kios-kios pun mulai bermunculan,” kata Bambang Sugiarto, kepala pengurus Pasar Santa.

ABCD sejatinya telah berada di lantai 1 Pasar Santa sejak dua tahun terakhir. Hanya saja, Hendri Kurniawan selaku pemilik hanya memanfaatkan gerai sebagai ajang latihan membuat kopi bersama rekan-rekannya.

Maklum, Hendri ialah juri di sejumlah kejuaraan barista atau peramu kopi internasional.

“Ide membuka ABCD untuk umum muncul bulan puasa lalu karena kami kekurangan uang untuk membayar listrik, sewa kios, dan lain-lain. Kami pun membukanya, tapi tidak menetapkan tarif mengingat biji-biji kopi unggulan yang kami miliki didapat gratis dari rekan-rekan Hendri di berbagai negara," tutur Ve Handojo, rekan Hendri.

"Tidak fair rasanya menetapkan tarif. Sebuah stoples pun kami taruh di depan etalase sehingga pengunjung bisa menaruh uang tip secara sukarela,” tambahnya.

Para pengunjung ABCD yang merupakan teman-teman Ve dan Hendri pun tertarik membuka toko di lantai 1 Pasar Santa. Kini, menurut Bambang Sugiarto, dari 1.100 kios di Pasar Santa, seluruh 350 kios di lantai 1 pasar ludes terjual.

Para peminat pun sekarang memburu kios-kios di lantai dasar.

Harga sewa kios Rp3,5 juta per tahun untuk kios berukuran 2x2 meter diakui sebagai daya tarik bagi para pengusaha muda ini. Hal itu diamini Jali, pemilik Papricano, gerai makanan Meksiko.

“Jelas lebih menguntungkan bagi saya karena harga sewa tempat relatif murah. Jadi, saya menjualnya menjadi lebih murah jika saya harus menjualnya di mal,” kata Jali.

Konsep unik

Harga sewa yang murah membuat beberapa pengusaha muda bisa leluasa mewujudkan ide mereka.

Maesy Angelina, Teddy Kusuma, dan Steven Ellis, misalnya, menggabungkan investasi senilai Rp15 juta untuk menciptakan Post, sebuah gerai dengan fungsi yang bisa berubah-ubah.

“Ide dari Post ialah ruang kreatif di Pasar Santa dengan ukuran 4x2 meter. Post sengaja kami ciptakan agar individu-individu kreatif bisa menciptakan acara-acara yang sulit diadakan karena mereka tidak punya akses atau uang seperti kelompok-kelompok besar," ungkap Maesy.

"Jadi mereka bisa meminjam Post untuk membuat eksebisi foto, diskusi buku, pameran seni, workshop kecil-kecilan juga boleh.”

Meski demikian, jika tiada acara tertentu, Maesy, Teddy, dan Steven menyulap Post menjadi gerai buku independen yang tidak mendapat tempat di toko-toko buku besar.

Mengucur ke bawah

Keberadaan ABCD, Substore, Post, dan sejumlah toko lainnya praktis memutar roda ekonomi Pasar Santa yang sebelumnya terbilang lesu. Teddy Kusuma, pemilik Post lainnya, mengaku sengaja menggunakan jasa serta produk pedagang-pedagang lama Santa agar transaksi ekonomi tidak hanya berputar di lantai 1.

“Saya pun mendorong pengunjung Post agar mereka juga mencicipi aneka buah dan sayur yang dijual pedagang-pedagang di lantai bawah,” kata Teddy.

Dorongan agar pengunjung tidak hanya bertandang ke lantai 1, terbukti manjur. Para pedagang di lantai bawah Pasar Santa yang ditemu BBC Indonesia mengatakan pesanan dari pengunjung-pengunjung lantai 1 semakin sering mereka dapatkan.

“Pengunjung Pasar Santa memang sepi tidak seperti pasar-pasar lainnya. Paling yang belanja di sini ialah asisten rumah tangga, majikannya justru jarang datang,"jelas Yuli, seorang pedagang sablon dan reklame.

"Namun, setelah lima tahun berjualan di sini, saya mulai merasakan dampak positifnya ketika ABCD dan kios-kios lantai1 lainnya buka. Kemajuannya terasa. Alhamdullilah rejeki bertambah."

Berita terkait